Ada Sisifus Dalam Merah Bolong

Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam.
Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam. Felix Jody Kinarwan.

Teater Payung Hitam baru saja memproduksi ulang salah satu karya terbaiknya, Merah Bolong, di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta, pada 11-13 Agustus 2015. Ini diadakan dalam rangka perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Walau naskah ini pertama dipentaskan 18 tahun silam, ia tetap relevan dengan konteks kekinian; menyoal manusia yang tak berdaya di bawah tekanan penguasa yang semena-mena. Seakan ia ingin berkata dengan tegas, bangsa ini kian tua, tapi nyatanya tak kunjung dewasa.

Sebelumnya, Merah Bolong telah diproduksi oleh Teater Payung Hitam setidaknya tujuh kali. Pertama pada 1997 di Bandung, selanjutnya ia mampir ke mana-mana, dari Surakarta, Surabaya, Jakarta, hingga bahkan Australia. Rachman Sabur selalu jadi sutradaranya.

Kengerian fisik jadi daya tarik utama pentas ini. Di atas panggung berserakan batu-batu beragam bentuk dan ukuran. Ada yang runcing, ada yang tumpul. Ada yang sebesar kuku jari, ada pula yang setara bola kasti. Tak ada cukup ruang bagi kita melangkah di sana tanpa mesti menginjak batu-batu tersebut.

Di sebelah kiri depan, batu-batu kecil terkumpul rapi dikelilingi batu-batu yang lebih besar. Bentuknya seperti kolam. Sementara di kanan depan terlihat sebuah batu seukuran paha manusia tergeletak menjulang di antara bebatuan lainnya. Selain itu, tujuh batu sebesar kepala manusia masing-masing tergantung tali yang diikat ke langit-langit; empat di belakang panggung, dua di tengah, satu di depan.

Di belakang, panggung pun ditutupi pagar seng dan aluminium setinggi tiga kali badan manusia. Lembaran seng ditempel tak beraturan. Kondisinya kumuh; karatan dan bolong di sana-sini. Noda merah memanjang ke bawah terlihat di sekitar lubang-lubang itu, seperti bekas darah yang mengucur deras.

Panggung ini jadi tempat para aktor “menyiksa diri”. Seorang pria botak terlihat membawa ember kaleng merah bolong-bolong. Ia mencoba memasukkan batu-batu yang tergantung tali itu ke dalam embernya. Lalu ia mendorong batu-batu itu hingga berayun seperti bandul raksasa yang begitu mengancam. Bila kena di kepala, habislah sudah.

Seorang pria lain, berbadan gempal dan berambut gondrong, berulang kali menghantam batu seukuran paha manusia dengan batu lain yang nyaris sama besarnya. Ia tersiksa, tapi terus saja berusaha. Di sisi lain, seorang pria bersarung batik masuk membawa dua ember kaleng abu-abu, masing-masing terkait ke sebuah kayu pikulan yang tersandar di bahu. Bersama si gempal, ia mencoba membawa kayu pikulan ember bersama-sama. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan si botak yang sedang tergeletak tak berdaya di tengah kolam batu. Si botak terbangun. Lalu kedua lainnya terus berusaha memasukkan batu ke dalam ember merah di atas kepala si botak. Si botak terjatuh lagi, sementara kedua lainnya kembali sibuk membangunkan.

Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam.
Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam. Felix Jody Kinarwan.

“Rachman Sabur seperti tengah meneriakkan rasa sakit, justru dalam wujud kebisuan nan membatu, sebagai konsekuensi dari penyelaman mendalam tentang fakta-fakta mengerikan dan derita memilukan manusia-manusia tak berdosa dan tak berdaya yang menjadi korban kepongahan kekuasaan,” ujar Fathul A. Husein, kepala program studi seni teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, dalam kata pengantarnya di buku pentas.

Saat pertama dimainkan pada 1997, Merah Bolong memang mencoba menyentil kondisi sosial dan politik yang sedang bergejolak hebat. Orde Baru jadi simbol kepongahan para penguasa, sementara rakyat selalu jadi korbannya. Tak ada ruang untuk memberikan perlawanan. Sekali bersuara, kita akan terpental habis. Alhasil, manusia hanya bisa memikul beban yang sama dari hari ke hari. Mereka terpaksa menjalani rutinitas semu, bagai Sisifus yang dihukum para dewa untuk terus mendorong batu besar hingga ke puncak gunung. Setelah batu itu jatuh ke bawah oleh beratnya sendiri, Sisifus harus terus mengulangi mendorong batu tanpa henti, lagi dan lagi.

Batu yang tergantung di atas adalah simbol dari para penguasa itu sendiri; keras, mengancam, dan membisu. Bila kita berani mencoba menggoyangnya, maka ia akan bergerak seperti bandul, menyerang balik dengan lebih keras, melibas siapa saja yang menghadang di tengah jalan. Sementara batu yang berserakan di bawah adalah kerikil tajam yang menghambat langkah kita. Ia bagai jutaan masalah yang siap menghadang dalam usaha kita bertahan hidup di bawah tekanan penguasa.

“Para aktor adalah gambaran komunitas manusia yang harus hidup gemetaran dalam arena pentas yang telah berubah pongah menjadi titian terjal dengan sejuta risiko dan bahaya yang terus mengancam. Wajah-wajah dalam ekspresivitas tak lazim yang memancarkan kesakitan, beban derita dan siksaan, berpadu menjadi satu dengan tubuh-tubuh ringkih yang nyaris telanjang dan kelelahan lantaran tak henti-hentinya memikul beban di luar kemampuannya,” kata Fathul.

Lantas, apa relevansinya bila Merah Bolong dimainkan kembali saat ini?

Mari kita bayangkan, ember merah itu adalah simbol penegakan hukum di Indonesia. Hingga kini, nyatanya ember itu tetap bolong, dan rakyat mesti bersusah payah mengangkatnya sendirian. Alhasil, tiap batu, tiap masalah yang dimasukkan ke sana pun akan keluar lagi lewat celah yang tak tertambal, akan jatuh kembali saat kita tak lagi punya daya untuk memikulnya sendirian.

Belum selesai masalah di depan mata, muncul lagi persoalan lainnya. Ini terlihat saat batu-batu kecil nan tajam berhambur keluar dari lubang yang ada di pagar seng di belakang, atau kala hujan batu terjadi berulang kali dalam pementasan.

Semakin lama, kita memang semakin lihai menghindari terjangan bandul batu dari atas. Namun kala badan kian lemas dan kaki kian malas, pada akhirnya kita hanya bisa menerima serangan itu dengan pasrah.

Lalu kita bertanya-tanya, apalah arti kemerdekaan 70 tahun bila rakyat masih membisu, mati tak berdaya di tengah tumpukan batu, akibat perlawanannya terhadap permainan kuasa yang semena-mena?

Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam.
Pentas Merah Bolong oleh Teater Payung Hitam. Felix Jody Kinarwan.
Kemerdekaan adalah batu-batu bisu
yang dimonumenkan
dan terkubur dalam sejarah kelam.
Kemerdekaan adalah kemerdekaan,
bukan merdeka, lalu mati sia-sia.
Kemerdekaan adalah
perlawanan terhadap penindasan
dan ketidakpastian hukum
yang semakin merah semakin bolong.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top