Al-Asan

Ilustrasi.

Manusia hidup bersama setumpuk alasan. Tanpa alasan, kita kerap kehilangan daya, entah untuk mengejar mimpi, mencari makan, atau sekadar bernapas dan membuka mata.

Sayangnya, itulah yang terjadi pada Ratna, ibu beranak dua yang tinggal di Jemur Wonosari, Surabaya. Ratna, seperti banyak warga miskin lainnya, hanyalah “figuran” yang kerap tak diperhitungkan di masyarakat.

Pemasukan hasil membuka warung dan gaji suami sebagai sekuriti tak pernah bisa benar-benar mencukupi. Utang sebesar 4 juta rupiah merupakan angka yang kelewat besar dan melelahkan bagi Ratna dan keluarga yang sebelumnya baru menjual sepeda motor untuk melunasi pinjaman lainnya.

Ratna adalah bagian dari lingkaran setan keluarga miskin di Indonesia. Pendidikan kurang, pemasukan rendah, tapi tunggakan tinggi menjulang. Ia mungkin hanya punya doa yang terlampau sering terucap, hingga kadang terasa memuakkan. Tiap hari yang terlewati kemudian hanya kian menipiskan alasannya untuk hidup. Hingga puncaknya terjadi kira-kira 1,5 tahun silam.

Jumat, 23 Maret 2012, Ratna yang saat itu berusia 35 mengajak dua anaknya, Yusuf (8) dan Ardi (6), untuk bersama menjemput ajal. Ketakutan lebih mudah dihadapi bila tak sendiri, mungkin begitu pikir Ratna.

Di saat warga tengah larut dalam suasana salat Jumat, Ratna justru sibuk melarutkan racun tikus dengan air putih di kamar kosannya. Usai memaksa dua anaknya menenggak racun oplosan tersebut, Ratna tak lupa menghabiskan bagiannya sendiri. Ratna tak sabar untuk mati. Ia sudah kehabisan stok alasan.

Namun, tiba-tiba Ratna tertegun menyaksikan kedua anaknya muntah-muntah akibat efek racun. Ada yang berkecamuk dalam pikirannya. Ia sendiri sudah pucat pasi, dan maut bisa segera menjemput kapan saja. Mendadak, akal sehatnya datang melabrak.

Dengan sempoyongan, Ratna berlari ke kamar tetangga sebelah sembari membawa kartu jaminan kesehatan masyarakat. Ratna minta tolong anaknya diselamatkan. Panik, warga segera membawa Ratna dan anak-anaknya ke RSI Jemursari sebelum kemudian dirujuk ke RSU Dr. Soetomo. Di saat-saat akhir, Ratna meninggalkan ajal yang sebelumnya dipanggil dengan tangan terbuka.

Seorang ibu mungkin butuh alasan untuk melanjutkan hidup, tapi ia tak perlu alasan untuk mencintai dan melindungi anaknya sendiri. Ratna hanya sempat terlupa karena disesaki pembenaran akan kematian.

Memang, ada hal-hal yang tak butuh alasan untuk diperjuangkan. Dan saat semuanya sudah terasa terlampau berat, rasanya kita mesti kembali menggali asan, alias asa atau harap, untuk bisa tetap bertahan melawan pahit keseharian.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top