Bloomberg: Epilog

Kartu pers dan perkakas liputan saya saat bekerja di Bloomberg News.
Kartu pers dan perkakas liputan saya saat bekerja di Bloomberg News.

Kamis, 17 Mei 2018
Ini baru hari ketiga saya bekerja di Bloomberg News, dan tentu, saya masih dalam proses adaptasi. Tidak mudah, karena sebelumnya saya bisa agak santai dengan gaya kerja koran di The Jakarta Post. Namun kini, di kantor berita online, saya harus terbiasa hidup diburu-buru.

Masalahnya, di Bloomberg saya ditugaskan untuk meliput ekonomi makro dan moneter. Padahal, di The Jakarta Post dahulu saya adalah wartawan energi dan tambang. Saya paham betul urusan listrik, minyak bumi, dan batu bara. Namun, bila disuruh menguliti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), saya butuh waktu.

Dan di hari itu, saat mesti meliput konferensi pers Kementerian Keuangan soal realisasi APBN 2018 hingga April, saya tidak punya banyak waktu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memulai acara dengan mengucapkan selamat berpuasa pada para wartawan yang hadir. Tak lama, ia membahas volatilitas di sektor keuangan global yang masih tinggi, entah karena ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat atau perang dagang antara negara itu dan Cina. Setelahnya, ia menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, didukung konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi yang tumbuh signifikan, dan sebagainya.

Para wartawan sibuk mencatat omongan Sri Mulyani. Saya pun sesekali melaporkan pernyataannya ke kantor. Namun, bukan itu sajian utama konferensi pers ini.

Yang ditunggu-tunggu para wartawan muncul di slide paparan nomor 9. Di sana terpampang detail realisasi pendapatan dan belanja negara, defisit APBN, serta pembiayaan anggaran hingga April 2018. Saya cuma bisa bengong dilabrak setumpuk angka di depan mata. Saya bingung, dari sekian banyak angka, mana yang harus dilaporkan duluan ke kantor?

Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hingga April.
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hingga April. Sumber: Kementerian Keuangan.

Panik, saya putuskan untuk melaporkan apa saja yang mata saya bisa tangkap lebih dahulu. Pendapatan: Rp 527,8 triliun. Belanja: Rp 582,9 triliun. Defisit: 0,37 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kantor pun segera menerbitkan angka-angka itu dalam bentuk kalimat-kalimat pendek di terminal Bloomberg, sebelum kemudian mengolahnya menjadi laporan yang lebih utuh.

Saya tak lagi menyimak kata-kata Sri Mulyani dan fokus hanya pada slide. Namun, belum selesai saya menelaah setiap angka yang ada, slide sudah berganti ke penjabaran lebih rinci soal angka defisit APBN. Saya coba baca baik-baik, tapi tak lama muncul lagi slide baru. Kali ini soal detail penerimaan perpajakan. Segera saya sampaikan ke kantor angka-angka penerimaan dari pajak migas dan non-migas, serta dari kepabeanan dan cukai.

Kelar urusan perpajakan, Sri Mulyani masuk ke penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Slide kembali berganti, tapi pikiran saya tetap. Ragu, saya cek ulang angka-angka perpajakan yang saya lempar ke kantor. Benar dugaan saya, ada yang salah saya laporkan.

Matilah.

Saya bilang ke kantor soal kesalahan saya. Kantor minta penjelasan. Saya coba lihat kembali slide-slide sebelumnya yang telah saya foto dengan kamera ponsel. Saya coba pastikan lagi, dan lagi. Omongan Sri Mulyani sudah lama tak saya pedulikan. Saya cuma berpikir, “Gimana ini?”

Akhirnya rekan di kantor menelepon saya di tengah konferensi pers. Saya coba jelaskan, dan angka yang telah terbit mesti dikoreksi.

Saya lemas.

Setelahnya, Thomas Kutty Abraham, kepala biro Jakarta Bloomberg, mengirim pesan pada saya via WhatsApp. Ia bilang, “Tidak masalah bila kita harus kalah cepat dari kompetitor kita, asalkan kita memberitakan dengan benar.”

Saya hanya bisa meminta maaf.

***

Senin, 12 Maret 2018
Baru sekitar jam 8 pagi. Rasanya masih ngantuk sekali. Bila bisa memilih, saya ingin hanya bergoler di ranjang. Sayangnya, saat itu saya justru sudah berada di kantor pusat Pertamina untuk meliput acara Annual Pertamina Quality Awards 2018, ajang penghargaan untuk inovasi-inovasi yang dicetuskan para karyawan BUMN migas ini.

Saya dan banyak wartawan lain sih tidak peduli dengan ajang penghargaan itu. Kami datang hanya karena ingin curi-curi kesempatan untuk mencegat dan mewawancarai jajaran direksi Pertamina yang hadir di sana.

Saat acara baru saja mulai, tiba-tiba saya mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Saya sebenarnya malas mengangkat. Jangan-jangan orang sales bank mau nawarin kartu kredit. Namun, saya angkat juga telepon itu, khawatir sesuatu yang penting.

“Halo, ini Thomas dari Bloomberg.”

Deg.

“Sebentar, saya keluar ruangan dulu. Di sini berisik.”

Thomas bilang ingin bicara dengan saya. Namun, karena saya sedang di tengah liputan, akhirnya kami janjian untuk berbincang di telepon pada sore hari.

Setelah telepon ditutup, saya terdiam.

Saat itu, saya sudah bekerja di harian bahasa Inggris The Jakarta Post selama kurang lebih 2 tahun 3 bulan, mayoritasnya saya jalani di desk bisnis. Entah bagaimana, saya yang sama sekali tanpa latar belakang ekonomi bisa diangkat sebagai wartawan tetap di desk tersebut.

Pendeknya, saya mendalami ekonomi dan bisnis karena tercemplung dan kepalang basah. Awalnya saya memang tak suka, tapi ketika sudah diberi penugasan, saya tak mau sampai mengecewakan. Saya mencoba terus belajar agar menunjukkan kinerja yang baik. Hingga kemudian saya diberi pos liputan tetap di sektor energi dan tambang sejak akhir 2016, dan terus menggelutinya hingga khatam.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) jadi tempat berkumpulnya wartawan energi dan tambang.

Karena itu, telepon dari Thomas membuat pikiran saya ke mana-mana. Apakah saya bakal mendapat tawaran mengikuti tes masuk Bloomberg? Bila iya, apakah saya mampu? Apa saya benar-benar bersedia menjajal diri terjun lebih jauh lagi dengan bergabung ke kantor berita ekonomi? Apa saja pro dan kontranya?

Dan benar saja, saat saya sudah agak senggang di sore harinya, Thomas kembali menelepon. Tanpa banyak basa-basi, ia berkata Bloomberg sedang mencari reporter untuk meliput di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

Saya terdiam sesaat.

“Tapi Anda tahu kalau saya sekarang ini wartawan energi dan tambang?”

“Oh, iya, iya. Tenang saja. Kami punya sistem di sini dan kamu bakal mendapat seluruh bantuan yang dibutuhkan.”

***

Jumat, 30 Agustus 2019
Sudah jam 5.15 sore. Saya dan teman-teman wartawan telah berada di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, sejak kira-kira sejam sebelumnya. Kami bermaksud meliput acara pasar rakyat yang menampilkan mitra binaan dari berbagai program bantuan pemerintah untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.

Sri Mulyani, yang sebelumnya dijadwalkan hadir untuk memberi sambutan, ternyata batal datang. Saya pun berniat pulang saja. Sudah saatnya berakhir pekan. Saya mulai merencanakan apa saja yang akan saya lakukan setibanya di rumah. Menonton film? Baca buku? Main Pokémon?

Namun, hidup tak seindah itu. Jam 5.20 sore, Mas Yoga Rusmana, reporter komoditas Bloomberg, tiba-tiba mengirim pesan ke grup kantor. Ia meneruskan sebuah artikel yang terbit di media online Dunia Energi kira-kira 40 menit lalu. Judulnya: “Resmi, Larangan Ekspor Nikel Berlaku Akhir Desember 2019”.

Mas Yoga mendapat info soal berita itu dari Mba Eko Listiyorini, reporter komoditas lain yang sebenarnya sedang cuti. Lantas, Mas Yoga minta bantuan rekan-rekan untuk mencari konfirmasi atas isi berita tersebut, entah dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, atau Istana Negara.

Saya buka berita itu, dan memang, Menteri ESDM Ignasius Jonan disebut telah menandatangani Peraturan Menteri untuk mempercepat larangan ekspor bijih nikel ke akhir 2019, dua tahun lebih awal dari jadwal aslinya. Ia mengatakan hal tersebut pada para wartawan di Yogyakarta, setelah memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada.

Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada.
Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada. Sumber: ugm.ac.id.

Kebiasaan benar ini Jonan suka ngomongin kebijakan penting pas dia lagi di luar kota, pikir saya. Jadi bikin ribet konfirmasinya. Padahal kalau larangan ekspor benar dipercepat, pasar nikel pasti rusuh karena Indonesia adalah produsen bijih nikel terbesar di dunia. Pasokan nikel global bisa anjlok, dan harganya bakal meroket.

Saya segera cari pojokan sepi di Lapangan Banteng dan mulai coba menghubungi beberapa narasumber di Kementerian ESDM yang saya kenal sejak masih jadi wartawan energi dan tambang The Jakarta Post.

Jam 5.50 sore, Agung Pribadi, juru bicara Kementerian ESDM, akhirnya mengangkat telepon saya.

“Kenapa, Bro? Gue lagi motoran di Bandung.”

“Itu benar Pak Jonan bilang di Jogja kalau larangan ekspor bijih nikel bakal dipercepat jadi akhir Desember 2019, Pak Agung?”

“Iya. Sesuai dengan apa yang Pak Jonan bilang, Peraturan Menteri telah ditandatangani soal larangan ekspor bijih nikel yang akan dimulai pada akhir Desember.”

“Cakep.”

Sesaat setelah saya menutup telepon, masuk pesan WhatsApp dari Yunus Saefulhak, direktur pembinaan dan pengusahaan mineral di Kementerian ESDM. Saya juga telah menanyakan hal yang sama pada Yunus kira-kira 10 menit lalu. Ia hanya menjawab: “Bener.”

Top banget.

Langsung saya sampaikan ke kantor dua konfirmasi dari Kementerian ESDM tersebut. Mereka yang masih berjaga di kantor segera menerbitkannya dalam bentuk kalimat ringkas di terminal Bloomberg sembari menyiapkan artikel panjangnya. Tak lama, artikel itu terbit dan, benar saja, harga nikel di London Metal Exchange melonjak 8,8 persen, menyentuh angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Lalu, saya pun pulang dengan riang. Saya bangga sekali dengan kerja tim kami saat itu. Dari Mba Eko yang walau sedang cuti tetap waspada mengikuti info terkini terkait sektor yang jadi tanggung jawabnya, saya yang berhasil mendapat konfirmasi dari narasumber sekaligus kenalan lama di Kementerian ESDM, hingga kecepatan teman-teman di kantor dalam menyusun laporan ringkas maupun versi panjangnya.

Selama di Bloomberg, saya memang belajar betul soal kerja tim, apalagi mengingat sistem kerjanya sangat berbeda dibanding media-media tempat saya bekerja sebelumnya.

Saat di The Jakarta Post pada 2016-2018, setiap harinya saya rutin mengerjakan satu atau dua tulisan sepanjang masing-masing 600-700 kata untuk desk bisnis. Tulisan harus sudah dikirim ke editor sekitar jam 6 sore. Namun, bila saya sedang kebagian menggarap laporan utama untuk halaman depan koran, tenggat bisa mundur hingga jam 9 malam, atau di kasus-kasus tertentu bahkan bisa hingga hampir tengah malam.

Sebelumnya, saya juga pernah bekerja untuk majalah mingguan GeoTimes pada 2013-2015. Di sana, tiap minggunya saya wajib menyetor setidaknya tiga tulisan untuk rubrik teater/seni rupa, bisnis dunia, dan nasional, masing-masing sepanjang 600-700 kata. Saya juga kerap menulis feature atau laporan utama yang panjangnya bisa 1.200-1.500 kata. Tenggat masing-masing tulisan bisa berbeda hari, tapi yang pasti semua harus sudah beres pada Jumat malam.

Sementara di Bloomberg, tidak ada tenggat pasti. Tenggatnya ya… secepatnya. Bila seorang narasumber melontarkan pernyataan penting pada jam 1 siang, sebisa mungkin kantor harus sudah terima laporannya pada jam 1.01 siang. Karena itu, sehari-hari saya tidak lagi terbiasa menulis panjang dan utuh. Saya harus mengirimkan berita dalam bentuk kalimat-kalimat ringkas. Wartawan Bloomberg biasa menyebutnya “heds”, sementara di Reuters ini dikenal sebagai “snap”.

Klien yang berlangganan jasa Bloomberg, entah kementerian, perusahaan sekuritas, atau lembaga riset, dapat segera menemukan heds yang dikirim wartawan dari lapangan – dan telah disunting singkat oleh mereka yang di kantor – di terminal Bloomberg. Dengan begitu, berita bisa segera sampai ke pembaca secepat mungkin. Namun, berita yang bakal dikirim sebagai heds harus sesuatu yang dianggap benar-benar penting dan baru, bukan basa-basi atau pengulangan yang kerap dilakukan pejabat pemerintahan.

Mereka yang di kantor kemudian bakal membantu menyatukan kumpulan heds yang ada menjadi sebuah laporan pendek untuk diterbitkan di terminal Bloomberg. Ini agar wartawan di lapangan bisa fokus melakukan liputan. Bila beritanya dirasa sangat penting, laporan pendek itu akan dikembangkan lagi menjadi artikel berita utuh untuk diterbitkan di terminal dan situs Bloomberg.

Saya dan beberapa wartawan mewawancarai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Istana Negara pada September 2019.
Saya dan beberapa wartawan mewawancarai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Istana Negara pada September 2019. Sumber: setkab.go.id.

Kantor berita internasional biasanya sangat selektif dalam menentukan mana yang harus diliput dan diberitakan, karena isu yang terlalu lokal pasti tidak laku bagi pembaca global. Terlebih lagi, fokus liputan Bloomberg cukup spesifik: ekonomi dan bisnis. Bila ada berita politik pun pasti harus digarap dari sudut pandang ekonomi.

Jadi, bisa saja dalam satu hari saya tidak mengirimkan berita apa pun karena tidak ada yang dianggap penting. Untungnya, di Bloomberg tidak ada kewajiban “membuat-buat” berita hanya sekadar untuk memenuhi kuota atau mengisi halaman koran atau majalah.

Namun, bila mendadak ada isu penting yang harus segera dikejar, reporter harus bisa menjalankan tugasnya. Tekanannya besar. Contohnya ya saat Jonan mengumumkan keputusan untuk mempercepat larangan ekspor bijih nikel itu.

Bisa dikatakan, di Bloomberg saya mesti belajar hidup bersama tekanan. Karena tidak ada yang tahu kapan berita penting muncul, dan saya harus selalu siap bila saatnya bertugas.

***

Jumat, 22 November 2019
Saya telah membulatkan tekad. Saya hubungi Thomas via WhatsApp, meminta izin untuk meneleponnya. Tadinya saya ingin bicara langsung, tapi ternyata hari itu ia ada urusan keluarga sehingga harus pulang cepat dari kantor. Senin minggu depan pun ia sudah cuti.

Akhirnya kami tersambung via telepon sekitar jam 6.30 malam. Saya segera sampaikan bahwa saya bermaksud undur diri dari Bloomberg pada akhir 2019.

Kenapa? Saya ingin sekolah lagi. Saya ingin lebih banyak menulis hal-hal lain di luar urusan ekonomi dan bisnis. Saya ingin menulis panjang, tak hanya melaporkan dalam kalimat-kalimat ringkas.

Selama di Bloomberg, sebenarnya saya kerap mencuri-curi waktu di luar jam kerja rutin untuk mencari bahan-bahan eksklusif dan menulis panjang. Dan tiap kali tulisan utuh saya terbit, rasanya puas sekali.

Namun, pada dasarnya tanggung jawab utama saya sehari-hari adalah melaporkan secara ringkas, cepat, dan akurat apa yang terjadi di lapangan. Sepulang kerja, sering kali saya sudah terlampau lelah untuk kembali membuka laptop dan begadang menyelesaikan tulisan. Ini yang mengganggu saya.

Thomas bisa mengerti, dan saya benar-benar mengapresiasi. Sejujurnya, memang, salah satu faktor terberat untuk pergi dari Bloomberg adalah fakta bahwa saya begitu beruntung memiliki bos sebaik dan seadil Thomas.

Suatu hari, saya pernah diajak ngobrol berdua dengan Thomas di kantor. Saya bingung dan bertanya-tanya, apakah saya melakukan kesalahan? Ternyata, Thomas menegur karena saya tidak pernah tercatat mengajukan klaim penggantian biaya, entah terkait pulsa, bensin sepeda motor, dan sebagainya. Alasannya sederhana: saya malas harus ke kantor dan mengisi formulirnya.

“Itu hak kamu, dan kamu harus pakai itu,” tegas Thomas.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman kerja, kita seharusnya semakin menyadari bahwa memiliki bos yang baik di kantor merupakan sebuah anugerah yang tak ternilai. Untuk itu, saya benar-benar berterima kasih pada Thomas yang telah memberi saya kesempatan besar berkarier di Bloomberg, memberikan begitu banyak pelajaran, serta memahami keputusan yang saya ambil.

Saya bersama Thomas Kutty Abraham, kepala biro Jakarta Bloomberg News.
Saya bersama Thomas Kutty Abraham, kepala biro Jakarta Bloomberg News.

Kini, saya telah kembali jadi penulis dan wartawan lepas. Memang, saya tak lagi bisa leluasa secara finansial, dan kerap harus mengencangkan ikat pinggang. Namun, di sisi lain saya juga senang mengerjakan hal-hal yang mungkin tak terpikirkan bila masih bekerja penuh waktu di media, entah menggarap website pribadi, merencanakan S2, atau sekadar berteater secara daring.

Dan syukurlah, tidak ada penyesalan menyertai.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top