Dira, Musisi Teater yang Gemar Menunggu

Dira Nararyya.
Dira Nararyya.

Gelap, tapi tak sunyi. Pementasan tengah berlangsung dan Dira Nararyya (21) sedang fokus menabuh cajonnya. Ia sendiri yang menciptakan lagu yang berjudul sama dengan pementasan teater tersebut: “Perkawinan”. Maka, dengan fasih ia mengikuti ketukan dan menyanyikan lirik yang ada. Tak disangka, ia mendengar salah seorang penonton yang duduk tak jauh darinya mendendangkan lagu ciptaannya itu. Tak ayal, ia senang bukan kepalang.

Secara total, Teater KataK telah membawakan pentas Perkawinan tiga kali. Dua pertama terselenggara di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada 22-23 Maret 2013. Sementara yang ketiga dimainkan di Gedung Pusat Kebudayaan Rusia, Menteng, pada 29 Juni di tahun yang sama.

Tak sedikit penonton yang rela merogoh koceknya untuk menonton pentas tersebut dua kali. Mereka pun tetap hanyut dalam cerita dan kerap tertawa melihat tingkah polah para pemain di atas panggung. Namun yang mengharukan, setidaknya untuk Dira, adalah fakta bahwa ada penonton yang hafal lirik lagu ciptaannya dan ikut bernyanyi di sana.

Wajar, musisi teater memang jarang mendapat sambutan atau apresiasi sebesar pemain ataupun sutradara sebuah pementasan. Mereka adalah pengiring yang menjadi bumbu pelengkap bagi sajian utama di atas panggung. Krusial, tapi kerap tak kasat mata.

“Namanya juga musisi teater. Jadi intinya adalah teater, bukan musisinya. Kita yang membantu mendukung sebuah pertunjukan,” ujar Dira yang sempat menjabat sebagai Ketua KataK generasi 4.

Dira bergabung dengan KataK sejak awal berkuliah di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, pada pertengahan 2011. Namun, saat itu ia tidak langsung berkecimpung sebagai musisi. Bahkan, hampir tak ada yang tahu bahwa ia bisa memainkan berbagai alat musik seperti gitar, keyboard dan cajon.

Ia memang sengaja tak ingin mengungkap keahliannya dan mencoba mengikuti saja prosedur yang harus dilewati sebagai anak baru dalam sebuah komunitas teater. Ia pun akhirnya terlibat sebagai salah satu pemain dalam pentas besar pertama KataK yang diadakan di Gedung Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Kuningan, pada 3 Maret 2012 dengan judul Apakah Cinta Sudah Mati?

“Setelah pentas tersebut, saya ingat lagi ngobrol iseng dengan Dimas (Agni, Wakil Ketua KataK generasi 3) di Twitter. Waktu itu saya bilang ke dia kalau dari dulu sebenarnya ingin ngurus musik. Lalu tiba-tiba saat regenerasi pengurus saya ditunjuk jadi koordinator musik,” ujar alumnus SMA Kolese Gonzaga, Jakarta, itu.

Sejak itulah Dira mulai menancapkan kuku sebagai salah satu musisi andalan KataK. Ia berperan sebagai koordinator musik pentas besar Perkawinan pada 2013 dan Dokter Gadungan pada 2014. Dokter Gadungan sendiri dimainkan di Gedung Kesenian Jakarta pada 22-23 Maret 2014.

“Saat Perkawinan, kalau tidak salah ya, lima dari tujuh lagu itu saya yang buat. Sementara saat Dokter Gadungan, karena waktu itu ada urusan harus pergi ke Jogja, jadinya enggak punya banyak waktu. Akhirnya saya buat tiga lagu, sementara dua dipegang (Dionisius) Evan dan dua lagi dipegang Dimas,” tutur Dira lagi.

Dira pun bercerita soal proses pembuatan lagu teater itu sendiri. Berbeda dengan lagu komersil, Dira harus bisa menggubah lagu sesuai dengan arahan sutradara dalam sebuah pementasan.

Awalnya, seorang musisi teater harus mempelajari naskah yang akan dibawakan. Kemudian, ia akan diberi lirik oleh sang sutradara untuk dibuat menjadi sebuah lagu. Namun, lagu yang ada harus dibuat dengan mempertimbangkan beberapa aspek, seperti adegan yang tengah berlangsung, nuansa yang ingin dibangun, serta latar belakang kisah yang dibawakan.

“Misalnya, dulu saat pentas Dokter Gadungan, itu latar ceritanya kan di Prancis. Jadi, saya riset dulu biasanya musik di Prancis itu seperti apa. Di situ, saya coba untuk pakai akordeon karena sesuai dengan latar ceritanya,” jelas mahasiswa sinematografi UMN 2011 ini.

Selain itu, musik yang ada dalam pementasan teater bisa berbentuk dialog yang dinyanyikan. Maksudnya, para musisi berperan sebagai pengiring dialog yang dilontarkan dengan nada oleh pemain di atas panggung. Namun, karena keterbatasan yang ada, tipe musik seperti ini kerap masih dibawakan langsung oleh para vokalis band KataK.

“Misalnya, ada lagu berjudul ‘Dendam Martine’ di pentas Dokter Gadungan. Di situ, Kak Ivan (sutradara KataK) bilang kalau tokoh Martine akan curhat sedih ke anak-anaknya, tapi di akhir lagu mood-nya berubah jadi marah ingin balas dendam. Awalnya, saya ingin mengubah mood-nya secara perlahan, jadi ada jembatannya. Namun Kak Ivan minta agar mood-nya langsung dipatahin saja,” kata Dira.

Itulah perbedaan mendasar musisi teater dengan musisi lainnya. Mereka terikat dengan jalan cerita dan harus bisa masuk di saat yang tepat, entah untuk memberi ilustrasi atau menggarisbawahi sebuah adegan. Penekanan sebuah adegan bisa dilakukan dengan memberikan sound effect yang masuk sesuai tanda yang diberikan pemain di atas panggung – biasanya dalam bentuk kata-kata.

“Hal ini juga yang selalu ditekankan Kak Ivan pada para musisi. Musisi teater yang baik harus bisa menunggu. Maksudnya, menunggu kapan musik masuk dengan memperhatikan sebuah adegan atau tanda yang diberikan pemain,” kata Dira.

Untuk itu, musisi teater tak bisa menyepelekan pekerjaan menunggu. Ketika mereka telah kehilangan fokus karena tak sabar menunggu, sebuah pentas bisa berantakan. Lalu saat kesempatan itu datang, jadi tugas mereka untuk menjalankan semaksimal mungkin. Seperti Dira, yang harus menunggu berbulan-bulan lamanya sebelum bisa unjuk gigi sebagai musisi Teater KataK.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top