Epilog Sejarah Pasar Senen

Pasar Senen zaman dulu.
Pasar Senen zaman dulu. Tropenmuseum/Wikimedia Commons.

Sejak remaja, Chairil Anwar telah bertekad menjadi seniman. Maka, saat bersama ibunya meninggalkan Pulau Sumatra menuju Jakarta pada 1940, ia seakan menemukan jalan untuk meraih mimpi tersebut. Perkenalan Chairil dengan dunia sastra dimulai di pusat pemerintahan Hindia Belanda itu, dan inspirasi biasa ditemukannya di kawasan Senen.

Chairil memang tak bisa diam. Ia biasa mondar-mandir mengumpulkan ide dan menuangkannya dalam sajak di pinggiran Stasiun Senen. Pamornya pun perlahan menanjak. Puisinya “Nisan” ditulis pada 1942 ketika ia baru berusia 20 tahun. Hingga akhir hayatnya, Chairil menulis setidaknya 70 puisi yang terus digemari lintas generasi.

Lulusan “seniman Senen” bukan hanya Chairil Anwar. Sejak awal masa penjajahan Jepang (1942) hingga 1950-an, para seniman—dari yang tulen hingga “jadi-jadian”—memang kerap berkumpul di kawasan Pasar Senen. Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan H.B. Jassin kerap berdiskusi dan berseliweran di sana kala itu.

Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban di Pasar Senen (KPG, 2008) menceritakan pengertian negatif di balik sebutan “seniman Senen”. Panggilan itu muncul untuk merujuk para “seniman jadi-jadian” yang hanya bergaya agar terlihat seperti seniman tulen. Karena itu, para “seniman Senen” lebih senang menyebut diri mereka sebagai “anak Senen”.

“Memang, sebagian besar ‘anak Senen’ ini adalah seniman muda yang baru mulai meniti karier, baik sebagai pemain teater/film, penulis naskah teater, penulis skenario, atau pengarang,” tulis Misbach.

Pasar Senen memang dianggap sebagai tempat ideal untuk berkumpul dan bercengkerama. Lokasinya strategis karena dekat dengan gedung kesenian Pasar Baru, studio film Golden Arrow, dan trem kota yang pernah mengisi Jakarta hingga 1962.

Kala itu tukang catut dan seniman bisa duduk satu meja di sana. Tempat kumpul favorit mereka: rumah makan Padang Merapi, tukang kue putu yang biasa mangkal dekat pompa bensin, dan kedai kopi Tjau An.

Pasar Senen pertama dibangun pada 30 agustus 1735 oleh Yustinus Vinck, seorang tuan tanah. Pasar tersebut awalnya bernama Pasar Snees dan dibangun di atas lahan milik Corrnelis Chastelein, anggota Dewan Hindia.

Nama Senen diberikan karena awalnya perdagangan hanya berlangsung pada hari Senin dan didominasi oleh masyarakat Tionghoa. Barulah pada 1766 pasar ini beroperasi setiap hari dan semakin ramai memancing pengunjung dari pelbagai daerah.

Bahkan, pada 1930-an daerah Senen menjadi tempat berkumpul para pejuang kemerdekaan seperti Chairul Saleh, Adam Malik, Soekarno, juga Mohammad Hatta. Maka, bisa dikatakan perjuangan bawah tanah melawan penjajah Belanda juga kerap terpusat di sini.

Peristiwa malapetaka 15 januari yang kerap disebut Malari terjadi pada 1974. Demonstrasi besar-besaran menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei terjadi antara lain di Senen. Perusuhan, pembakaran, dan penjarahan menyelimuti kawasan tersebut.

Setelah peristiwa Malari, Pasar Senen tumbuh pesat hingga era 1990-an. Saat era film bioskop masuk jakarta, dua bioskop dibangun di kawasan Senen: Rex dan Grand. Gubernur Jakarta era 1966-1977 bahkan menjadikan kawasan Senen sebagai pusat ekonomi dan hiburan.

Sayangnya kisah gemerlap Pasar Senen menemui titik balik saat kerusuhan 1998. Perusakan dan penjarahan kembali terjadi. Warga Tionghoa peranakan yang menjadi sasaran amuk warga terkena imbas. Banyak perempuan Tionghoa dilecehkan, bahkan diperkosa, dan terancam.

Mayoritas pemodal dan pedagang Tionghoa segera angkat kaki dari Senen, meninggalkan kios-kios dan toko mereka begitu saja. Kemegahan Pasar Senen terus memudar. Pedagang kaki lima lebih banyak mendominasi dan kesan kumuh pun kental menyelimuti tempat tersebut.

Maka, saat kebakaran besar yang diduga akibat arus pendek listrik melahap Pasar Senen pada 25 April 2014, kita bisa melihatnya sebagai epilog dari sejarah panjang pergumulan intelektual dan kemegahan industri yang sempat bernaung di sana.

Kerugian secara materiil tak bisa dihindari. Namun, hangusnya jejak sejarah yang tersisa sesungguhnya lebih menyakitkan.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 28 April 2014.
2. Atribusi foto: “COLLECTIE TROPENMUSEUM Overdekte markt in aanbouw op Pasar Senen TMnr 20018018” by Tropenmuseum (part of the National Museum of World Cultures), used under CC BY-SA 3.0 / Cropped from original.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top