Geliat Cangik untuk Republik

Pentas Republik Cangik oleh Teater Koma.
Pentas Republik Cangik oleh Teater Koma. Felix Jody Kinarwan.

Semua berkumpul di sana. Ada perwakilan para bangsawan seperti Gatotkaca dan Lesmono Mondrokumoro, perwakilan dewa seperti Batara Narada dan Semar, hingga ratu para setan, Pramoni. Mereka diundang oleh Cangik untuk memilih penerus takhta kerajaan negeri Suranesia atau yang juga dikenal sebagai Old Mandura.

Pemimpin sebelumnya, Maharaja Surasena, baru saja mangkat. Namun ketiga anaknya seakan tak berminat meneruskan tampuk kepemimpinan. Sang putra sulung, Baladewa, bahkan telah menjadi raja di wilayahnya sendiri yang bernama New Mandura. Alhasil, Cangik sang emban kesayangan almarhum Maharaja jadi yang paling pusing mencari sosok pemimpin baru.

Kisah ini dibawakan oleh Teater Koma dalam pentas Republik Cangik pada 13-22 November 2014 di Gedung Kesenian Jakarta. Nano Riantiarno jadi penulis naskah sekaligus sutradaranya. Pentas ini seakan jadi respons bagi pemerintahan baru di tangan Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, Teater Koma pernah melakukan hal serupa. Pada April-Mei 2001, mereka membawakan Republik Bagong untuk “menyambut” naiknya mendiang Abdurrahman Wahid sebagai presiden. Kemudian, mereka membawakan Republik Togog (Juli-Agustus 2004) dan Republik Petruk (Januari 2009) sebagai refleksi dan kritik atas kondisi sosial politik yang terjadi saat itu.

Kini, giliran Cangik yang mendapat sorotan utama. Dalam kisah pewayangan Jawa, ia merupakan panakawan yang kerap memberi masukan atau nasihat bagi Woro Sumbadra, adik dari Kresna dan Baladewa.

Cangik adalah seorang janda tua yang memiliki seorang putri bernama Limbuk. Secara fisik, mereka berdua jauh berbeda. Cangik digambarkan bertubuh kurus dan berleher panjang, sementara Limbuk berbadan gemuk dan pendek.

Dalam cerita, Limbuk selalu ngebet ingin kawin. Karena itu ia membawa sisir ke mana-mana agar bisa senantiasa menjaga penampilannya. Cangik kerap memberi wejangan pada anaknya itu soal tata krama dan cara bersikap yang tepat sebagai perempuan.

Setelah Cangik mengundang para bangsawan, dewa, dan setan sebagai juri, sayembara pun dimulai. Ada enam kandidat utama yang ingin maju sebagai pemimpin baru Suranesia. Mereka adalah Santunu Guru, Dundung Bikung, Graito Bakari, Burama Rama, Binanti Yugama dan Jaka Wisesa.

Jaka Wisesa adalah sosok yang santun dan halus dalam bertutur kata. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai walikota dan gubernur di Kota Raja. Cangik mendukung penuh pencalonannya, karena itu ia berharap ada balas budi setimpal. “Jaka Wisesa, jangan lupakan jasa aku. Berkat aku kamu bisa dielu-elukan oleh rakyat. Kamu tetap bawahan aku,” ujar Cangik dengan suara melengking.

Saingan utama Jaka Wisesa adalah Santunu Guru, pria berpakaian serba putih yang arogan dan gemar berkuda. Saat berorasi, ia selalu tampak berapi-api. “Siapa pun yang tidak menyetujui apa kata negara, dialah pengkhianat. Semua wajib menghargai hukum dan undang-undang dasar. Kita harus jadi bangsa produsen, bukan bangsa konsumen. Kita tidak boleh mengimpor. Ekspor, itulah yang harus kita kerjakan,” kata Santunu Guru.

Para kandidat lain juga memiliki rekam jejak dan latar belakang beragam. Dundung Bikung adalah tentara yang tak segan menembak mati rakyat. Graito Bakari adalah pengusaha yang telah menumpuk lumpur di sebuah pulau dan yakin suatu saat lumpur itu akan berguna bagi bangsa. Burama Rama adalah penyanyi dangdut berjenggot lebat yang gemar menambah istri. Sementara itu, Binanti Yugama adalah pendiri partai politik yang rajin menerima gratifikasi.

Masing-masing bergantian memberikan presentasi soal visi-misi membangun bangsa. Namun, para juri begitu terkesima mendengar program Jaka Wisesa yang berdasar pada Hasta Brata; delapan sifat unggul bagi seorang pemimpin.

Tampaknya, Jaka Wisesa akan segera terpilih jadi Maharaja Suranesia. Apalagi, Batara Narada berujar, nama pemimpin baru telah tercatat dalam suratan takdir. Namun, tiba-tiba datang Baladewa di tengah perundingan itu.

Ia begitu murka melihat Cangik bertindak seenaknya. Menurutnya, ia masih merupakan satu-satunya sosok yang berhak jadi penerus takhta kerajaan Suranesia. Semua sontak tunduk ketika Baladewa telah memainkan gada.

Akhirnya tak jelas lagi mana yang benar dan salah. Calon pemimpin terbaik pun tak berkutik kala yang kuat dan berkuasa telah bicara. Drama politik hanya berujung parodi, dan rakyat hanya bisa melihat permainan mereka yang di atas.

Lihat juga Parodi Politik Republik Cangik.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 24 November 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top