Ironi Perjuangan Gandari

Opera tari Gandari.
Opera tari Gandari. Felix Jody Kinarwan.

Ia sengaja menutup mata untuk mengecam ketidakadilan yang dirasakan suaminya yang buta. Ia melahirkan seratus putra, yang semuanya wafat dalam perang besar di Kurusetra. Lalu ia meninggal bersama sang suami dan ibu dari para pembunuh anak-anaknya sendiri. Kisah Gandari dalam epos Mahabharata, meninggalkan banyak ironi yang menyayat hati.

Pada akhir 2010, sastrawan Goenawan Mohamad tergerak untuk menuangkan kisah Gandari dalam puisi. Inilah yang kemudian menginspirasi Tony Prabowo untuk mengadakan opera tari Gandari pada 12-13 Desember 2014 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Tony adalah komponis yang kerap bekerja sama dengan para seniman dari berbagai disiplin ilmu, entah teater, tari, film ataupun sastra. Pada opera Gandari, hasil gubahan Tony dimainkan orkestra Asko Schönberg asal Belanda. Yudi Ahmad Tajudin berperan jadi sutradara. Sementara itu, Landung Simatupang dan Sita Nursanti jadi narator yang membacakan puisi Goenawan.

Kisah bermula sesaat sebelum Gandari memutuskan untuk menutup mata selamanya dengan sehelai kain hitam. Ia melakukannya untuk merasakan penderitaan yang sama dengan sang suami, Destarastra. Dalam sebuah upacara permohonan untuk memiliki anak, ibu Destarastra, Ambika, ketakutan melihat sosok resi Byasa hingga spontan memejamkan mata. Alhasil, Destarastra pun terlahir buta.

Karena kesulitan memperoleh keturunan, Gandari meminta petunjuk resi Byasa. Setelahnya ia memang hamil. Namun tak disangka, saat waktunya tiba Gandari hanya melahirkan segumpal daging. Byasa lalu memotong-motong daging itu jadi seratus bagian, memasukkannya ke dalam guci dan menanamnya ke dalam tanah selama setahun. Dari sana lahirlah seratus putra Gandari yang dijuluki sebagai Korawa.

Di sisi lain, adik tiri Destarastra, Pandu, memiliki lima putra dari dua istri: Kunti dan Madri. Seluruh anak Pandu itu disebut sebagai Pandawa. Hubungan mereka tidak akur dengan Korawa karena secara garis keturunan, mestinya Destarastra yang jadi Raja Hastinapura. Namun karena anak sulungnya buta, sang ayah, Wicitrawirya, memilih Pandu untuk jadi penerusnya.

Perselisihan yang ada terus meruncing hingga puncaknya terjadilah perang akbar di Kurusetra yang berlangsung selama 18 hari. Seluruh anak Gandari wafat kala itu. Bhisma, sang pelindung Kerajaan Hastinapura, juga gugur di tangan Srikandi. Bhisma adalah kakak tiri Wicitrawirya sekaligus kakek dari Pandawa maupun Korawa.

“Dan ketika orang tua itu rubuh di bawah bukit-bukit Kurusetra, perang berhenti sebentar, dan senjata diletakkan. Dan di kedua perkemahan orang-orang menunduk. ‘Bhisma gugur,’ mereka berbisik,” ujar Landung.

Solois asal Belanda, Katrien Baerts, segera bernyanyi secara sopran. Sementara itu para penari beraksi seakan sedang menggotong sebuah jenazah. Sebelumnya mereka juga menarikan adegan perang secara kontemporer dengan iringan orkestra. Akiko Kitamura asal Jepang jadi penata geraknya.

Kemudian suasana berubah hening. Perlahan masuklah Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan (Wawan), salah satu korban tragedi Semanggi I. Sumarsih bermonolog soal kronologi penembakan yang menimpa anaknya itu.

Pada 13 Desember 1998, mahasiswa dari berbagai kampus sedang ramai berdemonstrasi di jalan untuk menurunkan presiden kala itu: Soeharto. Sebagai relawan, Wawan membantu membersihkan udara dari gas air mata dengan air. Tiba-tiba ia melihat salah seorang temannya tertembak. Wawan berusaha membantu, tapi justru ikut terhantam peluru.

“Sejak Kamis 18 Januari 2007 setiap jam 4-5 sore, kami diam di seberang Istana. Telah 378 aksi payung hitam kami lakukan, 339 surat kami kirim kepada presiden yang lalu, delapan pucuk surat pada presiden yang baru,” kata Sumarsih.

“Saya dan para orangtua korban lain terus berusaha mencari keadilan, karena saya tak ingin kejadian seperti ini terjadi kembali di masa depan.”

Dari kisah Gandari dan Sumarsih, kita belajar soal perjuangan. Sepanjang hidupnya mereka tak lelah mencari keadilan. Walau kerap diabaikan, mereka tetap menolak lupa dan sekuat tenaga berusaha. Bila perlu, hingga maut memisahkan.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 22 Desember 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top