Jakarta Contemporary Artspace: Usaha Memaknai Kembali Ibu Kota

Kantor Pos Fatahillah di Kota Tua Jakarta.
Kantor Pos Fatahillah di Kota Tua Jakarta. Photo by CEphoto, Uwe Aranas.

“Jika Anda ingin memahami hari ini, Anda harus mencari tahu hari lalu.”

Itulah ujaran terkenal Pearl S. Buck, penulis asal Amerika Serikat yang wafat 1973 silam. Dari sana, kita bisa mengerti soal makna sejarah yang membentuk bangsa dan peradabannya. Ada pembelajaran, juga teguran dari sejarah agar kita bisa melangkah tegap menyongsong hari esok.

Jakarta adalah kota dengan ribuan sejarah. Banyak situs yang masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjuangan bangsa di masa lalu, salah satunya adalah wilayah Kota Tua, Jakarta Barat. Dulu ia disebut Batavia Lama dan menjadi pusat arus perdagangan pelayar Eropa di Asia, khususnya pada abad ke-16. Pada 1972, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan daerah ini sebagai situs bersejarah yang patut dilindungi tiap warisannya.

Namun, entah apa yang ada di benak Ali bila melihat kondisi Kota Tua kira-kira empat dekade kemudian. Puluhan bangunan tidak terawat dengan baik hingga kesan kumuh justru menyertai. Pedagang kaki lima berdesakkan, dan sampah kerap berserakkan di mana-mana.

Hal inilah yang mendorong dilaksanakannya program revitalisasi Kota Tua oleh PT Pembangunan Kota Tua Jakarta dan konsorsium Jakarta Endowment for Art and Heritage (Jeforah). Dua lembaga tersebut diinisiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dua Badan Usaha Milik Negara, sembilan pengusaha swasta, budayawan, aktivis, serta komunitas di ibu kota.

Revitalisasi resmi dimulai pada 13 Maret 2014. Rencananya, sebanyak 85 bangunan di Kota Tua akan direhabilitasi secara fisik. Kemudian, akan diadakan berbagai kegiatan berbasis seni dan budaya. Salah satunya adalah pameran Jakarta Contemporary Artspace di Kantor Pos Fatahillah yang akan berlangsung selama enam bulan hingga September.

Sejumlah 46 seniman unjuk gigi dalam pameran tersebut. Ada yang memamerkan patung, lukisan, serta karya instalasi. Harapannya, masyarakat bisa datang dan menemukan kembali identitasnya di sana. Dengan begitu, mereka bisa tergerak untuk menjaga serta melestarikan Kota Tua bersama-sama.

Patung "Group IV" karya Nyoman Nuarta di Jakarta Contemporary Artspace.
Patung “Group IV” karya Nyoman Nuarta di Jakarta Contemporary Artspace. Viriya Singgih.

Berbagai karya dalam Jakarta Contemporary Artspace memang mendorong kita merenungkan makna hidup di Jakarta. Salah satunya karya Made Wianta berjudul ”Air Pollution”. Made menyusun puluhan knalpot bekas hingga menjadi bukit menjulang setinggi dua kali tinggi manusia dewasa. Dari sana, kita bisa mengingat sesaknya jalanan ibu kota dalam keseharian, penuh oleh berbagai kendaraan dan penumpang dengan beragam kepentingan. Semua terburu waktu, semua tak mau tahu. Bagaikan robot yang terus bekerja hingga karat sendi-sendinya.

Hal ini juga bisa kita lihat dari karya Angki Purbandono berjudul “Taxi Lover”. Angki membuat sebuah kolase foto yang menunjukkan hiruk-pikuk jalanan Jakarta. Ada lebih dari 50 foto yang diambil dari perspektif sama: dasbor taksi. Pemandangan yang terlihat dari kaca depan mobil nyatanya sungguh kaya, dari kemacetan malam hari di depan pusat perbelanjaan Grand Indonesia, hingga bagian belakang truk besar bergambar sosok wanita dengan gaya sensual.

“Predikat saya adalah pendatang dari Jawa yang selalu merayakan keindahan kota Jakarta dari dalam taksi. Interior taksi berubah menjadi bingkai pembatas yang kedap dan nyaman dari ‘keaslian’ kota Jakarta. Tidak mudah untuk duduk nyaman di dalam taksi, setiap orang punya proses yang berbeda-beda untuk bercita-cita naik taksi berkeliling kota,” ujar Angki.

Namun, di tengah upaya mencari sejahtera, manusia Jakarta kerap menghalalkan segala cara. Rasa kemanusiaan pun bisa jadi hilang secara perlahan. Keresahan ini dituangkan Melati Suryodarmo dalam karya berjudul “Destination – LIAR”. Terlihat, sebuah kursi besar dari besi digantung miring menghadap sorotan cahaya. Di tengahnya, ada lubang besar yang membentuk kata “Liar”. Cahaya menerobos masuk lubang membentuk bentuk kata yang sama di lantai. Liar di luar, liar (pembohong) di dalam.

Karya “Destination – LIAR” oleh Melati Suryodarmo di Jakarta Contemporary Artspace.
Karya “Destination – LIAR” oleh Melati Suryodarmo di Jakarta Contemporary Artspace. Felix Jody Kinarwan.

Lantas, yang besar semakin berkuasa, dan proletar tak kunjung henti berduka. Ivan Sagita menunjukkan hal ini dalam lukisannya, “Look at My Body and My Life”. Dengan menggunakan cat minyak di atas kanvas, Ivan menggambar tiga sosok wanita sepuh dalam kondisi renta tak berdaya. Dari balik kemeja lusuh, terlihat kekosongan hidup tiga wanita tersebut.

“’Ya, beginilah keadaan kami, tak ada apa-apa.’ Selalu diucapkan sebuah kalimat bermaknakan penolakan, seakan hendak mengatakan juga bahwa tak layaklah mereka menjadi bahan pengamatan atau keingintahuan kami karena memang tak ada apa pun di situ,” kata Ivan.

Lukisan “Look at My Body and My Life” karya Ivan Sagita di Jakarta Contemporary Artspace.
Lukisan “Look at My Body and My Life” karya Ivan Sagita di Jakarta Contemporary Artspace. Viriya Singgih.

Maka, setiap orang yang masuk dalam pameran diharapkan akan keluar dengan membawa buah kontemplasi yang bisa mengubah cara pandang hidupnya sehari-hari. Kini, hampir empat bulan berlalu sejak pameran tersebut dibuka untuk umum. Apa benar perubahan telah terjadi?

“Saya senang ada pameran seni rupa di Kota Tua. Karena, menurut saya Kota Tua penuh dengan nilai sejarah dan pameran yang ada bisa membuat kita merefleksikan diri soal makna hidup, budaya dan sejarah Jakarta. Jadi, kita enggak sekadar tinggal di Jakarta untuk mengadu nasib mencari nafkah, tapi juga tahu tentang seluk beluknya,” kata Andika Pranata, karyawati swasta yang tinggal dekat dengan Kota Tua, tepatnya di daerah Jembatan Lima, Tambora.

Walau revitalisasi belum berjalan maksimal, kini Kota Tua tak hanya sekadar jadi ruang nostalgia.

“Kita tak kembali ke masa silam; kita ‘kembali’ ke masa depan, back to the future. Kita pulihkan ‘ruang’ menjadi ‘waktu’; kita ubah sesuatu yang mandeg jadi sesuatu yang bergerak,” ujar Goenawan Mohamad, anggota dewan penasihat proyek revitalisasi Kota Tua, dalam kata pengantarnya di buku pameran.

***

Catatan
1. Atribusi foto 1: “Jakarta Indonesia Post-office-at-Fatahillah-Square-01” by CEphoto / Uwe Aranas, is licensed under CC BY-SA 3.0.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top