Kala Sirkus Barock Menolak Jadi Sinting

Sirkus Barock mengajak kita berkontemplasi soal hidup.
Sirkus Barock mengajak kita berkontemplasi soal hidup. Felix Jody Kinarwan.

“Kami punya cara dan bahasa sendiri untuk menyampaikan pendapat yang terlahir dari hasil perenungan kami bersama. Kami menyadari hidup semakin kering, asing dan bising dan kami menolak jadi sinting.”

Itulah prakata Sirkus Barock yang dituliskan dalam buku konser Anak Wayang, Belajar Memaknai Hidup. Konser itu berlangsung pada 10 Mei 2014 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dengan Sawung Jabo sebagai penyanyi utama, Sirkus Barock memang berhasil merebut hati penonton, bahkan sebelum acara dimulai.

Pukul 8 malam WIB, para penonton telah memadati gedung pertunjukan. Lampu masih menyala, orang-orang masih berlalu lalang mencari kursinya. Namun, ada saja teriakan-teriakan pada mereka yang sedang bersiap di atas panggung, entah mengajak bercanda atau sekadar memanggil nama. Walau begitu, para personel tetap bergeming menjaga konsentrasi.

Saat Jabo dan kawan-kawan memulai aksinya dengan lagu “Ada Suara Tanpa Bentuk”, penonton riuh bertepuk tangan. Namun, setelahnya mereka hening, hanyut dalam tiap alunan nada dan tarikan suara.

Jumlah anggota Sirkus Barock memang berlimpah. Ada Jabo – yang bernama asli Mochamad Djohansyah – di vokal dan gitar akustik, Joel Tampeng, Ruben Pangingkayon dan Toto Tewel juga di gitar akustik, serta Sinung Garjito di bass akustik. Sementara itu, Ucok Hutabarat mengisi pos biola, Bagus Mazasupa di piano dan keyboard, Hasnan Santet di Cello, Giana Sudaryono di perkusi, dan Endy Baroque sebagai penabuh drum dan perkusi.

Mereka banyak, tapi satu dalam harmoni. Setiap pemain punya porsinya masing-masing dan para penonton seperti tersihir menikmati suguhan mereka malam itu. Dengan konstan para penonton terdiam sembari ikut bernyanyi kecil kala lagu sedang mengalun, lalu bertepuk tangan kencang saat jeda antarlagu.

Seperti biasa, Jabo dan kawan-kawan tampil dengan konsep teatrikal di atas panggung. Mereka mencoba menggabungkan unsur visual dan audio dengan selaras. Misalnya, kala mereka membawakan lagu “Burung Kecil”, muncul pula siluet burung terbang melintasi awan.

Orang-orang kecil diterjang hidup,
berteriak-teriak,
hingga habis suaranya,
tak bisa mendengar suaranya sendiri.

Ketika Jabo menyanyikan lirik di atas, muncul pula beberapa sosok wayang orang yang seakan sedang marah sembari menunjuk-nunjuk satu sama lain.

Setelah menyanyikan 10 lagu, Jabo menyempatkan diri untuk menyapa penonton serta memperkenalkan rekan-rekannya. Salah satu yang mendapat sambutan paling meriah adalah Toto, sang gitaris yang mengenakan baju (mirip) tahanan KPK dan topeng ala maling di atas panggung.

“Itulah hebatnya Indonesia, tahanan saja bisa main musik,” ujar Jabo yang disambut gelak tawa keras seisi panggung.

Kemudian, penonton kembali khusyuk kala lagu “Satu Langkah Sejuta Cakrawala” masuk ke telinga. Saat itu, tampak siluet dalang bermain wayang di kedua ujung panggung serta pemandangan tepi pantai di bagian tengah. Jabo pun bernyanyi lantang, “Satu langkah sejuta cakrawala. Akulah dalang hidupku sendiri.”

Penonton semakin terbakar kala lagu “Anak Wayang” didendangkan. Mereka pun seakan terbawa kesenduan saat Jabo bernyanyi, “Aku sudah basah, aku pasrah. Mencintaimu adalah mencintai hidup.”

Mayoritas lagu yang dibawakan pada malam itu memang bertempo lambat dan mengajak kita berkontemplasi soal hidup. Kesan ingar-bingar hanya bisa didapat di beberapa bagian lagu saja seperti “Surat Dari Teman di Desa”, “Langit Merah”, dan “Kemarin dan Esok”. Namun, itu tak menahan antusiasme penonton yang justru terus memanas hingga menjelang penutup acara.

Di lagu terakhir, seluruh personel berdiri membawakan “Lingkaran Aku Cinta Padamu”. Konser pun ditutup dengan tepukan riuh. Lampu gedung telah kembali dinyalakan, tapi penonton urung beranjak. Mereka berteriak lantang meminta Sirkus Barock membawakan “Hio” yang dulu sempat dipopulerkan Iwan Fals dan Jabo lewat album Swami II pada 1991.

Tak bisa mengelak, panggung kembali hidup setelah mati sesaat, bahkan lebih liar dari sebelumnya. Bagai ombak menyisir pantai, para penonton turun persis ke bawah panggung dan memadatinya hingga sesak. Di sana, semua bernyanyi dan berjoget bersama, berkelindan jadi satu.

Aku mau wajar-wajar saja, aku mau apa adanya.
Aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya.
Aku mau sederhana, mau baik-baik saja.
Aku hanya tahu, bahwa orang hidup agar jangan mengingkari hati nurani.
Hio… Hio… Hio… Hio… Hio…

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 19 Mei 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top