Project Multatuli diluncurkan pada Mei 2021, dan sejak itu, saya resmi bekerja di sini sebagai penulis penuh waktu. Setelah kira-kira delapan tahun jadi wartawan, akhirnya datang juga kesempatan menulis rutin secara mendalam.
Sebelum peluncuran Project Multatuli, para staf yang terlibat sepakat mengadopsi gaya slow journalism, atau jurnalisme kalem.
Istilah ini pertama kali muncul dalam artikel Susan Greenberg di Prospect pada Februari 2007. Ia digunakan untuk merujuk “esai, reportase, dan bentuk penulisan nonfiksi lain yang tidak terburu-buru dalam mencari tahu, yang mampu menemukan kisah-kisah yang terlewat dan mengomunikasikannya dengan standar tertinggi”.
Ia bukan barang anyar, karena sebelumnya model jurnalisme semacam ini telah populer di Amerika Serikat pada 1960-an dengan sebutan jurnalisme baru.
Secara umum, definisi Susan sejalan pengertian kami soal slow journalism. Namun, kami memilih menggunakan istilah jurnalisme telaten. Itu karena ada kesan “malas” dari kata “slow“, yang dalam bahasa Indonesia dapat pula diartikan sebagai “gontai” atau “lamban”.
Kami cukup yakin dengan gaya jurnalisme ini karena model bisnis Project Multatuli memungkinkan penerapannya. Kami tak menggantungkan hidup pada pengiklan.
Karena itu, kami tak perlu menerbitkan berita-berita ringkas dengan topik tak penting dan judul heboh demi mendulang klik. Kami bisa fokus menerbitkan laporan panjang yang tak sekadar panjang, tapi yang benar-benar bisa membantu pembaca memahami realitas pelik dalam hidupnya, dan syukur-syukur, membawa dampak nyata.
Selain model bisnis yang tepat, jurnalisme telaten butuh ekosistem pendukung yang kuat. Harus ada orang-orang dengan level “kegilaan” tertentu dalam redaksi yang terbuka dengan beragam eksperimen serta bersedia menyisihkan uang, waktu, dan tenaga untuk memproduksi laporan-laporan mendalam.
Maka, salah satu alasan saya mau bergabung dengan Project Multatuli adalah saya percaya dengan orang-orang di dalamnya.
Ada Evi Mariani, yang konsisten mengangkat suara kelompok marginal urban. Ada Fahri Salam yang berpengalaman menggarap dan menyunting narasi dan laporan investigasi. Selain mereka, nama-nama lain juga bikin saya kagum dan hormat.
Semua itu bikin saya percaya diri untuk bergerak bebas mengeksplorasi gaya penulisan sendiri. Saya jadi semangat untuk “bermain-main”.
Selama sembilan bulan pertama, seiring usia bayi Project Multatuli, total saya bikin tujuh tulisan dengan panjang rata-rata 6.600 kata. Berarti, tulisan saya belum tentu terbit setiap bulan. Ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Karier jurnalistik saya dimulai di majalah pada 2013, lalu saya menjajal koran pada awal 2016, dan pindah ke kantor berita daring pada pertengahan 2018. Trayek karier ini memaksa saya kian terburu-buru; dari berhadapan dengan tenggat mingguan, ke harian, lalu ke secepat mungkin. Semakin lama, saya merasa semakin ngos-ngosan. Imbasnya, saya jadi kesulitan menulis panjang.
Untuk menemukan kembali semangat menulis panjang, saya membaca ulang sejumlah laporan legendaris. Favorit saya adalah naskah Gay Talese sepanjang 15.000-an kata berjudul “Frank Sinatra Has a Cold“.
Talese bersama Tom Wolfe, Truman Capote, dan sejumlah nama lain adalah orang-orang di balik gerakan “jurnalisme baru” di AS pada 1960-an. Gerakan ini kerap disebut jurnalisme sastrawi atau jurnalisme naratif. Produknya adalah naskah longform atau biasa disebut “narasi” di Indonesia.
Narasi berbeda dengan produk jurnalistik pada umumnya seperti hard news, feature, laporan mendalam, atau liputan investigasi. Narasi tercipta dari proses reportase menyeluruh, yang kerap menuntut seorang jurnalis menghabiskan waktu bulanan untuk riset, observasi lapangan, serta mewawancarai puluhan atau bahkan ratusan orang.
Hasilnya adalah naskah belasan atau puluhan ribu kata yang disajikan dengan menarik melalui berbagai teknik penulisan karya fiksi. Ada tokoh utama yang menemani pembaca dari awal hingga akhir, konflik yang menciptakan ketegangan, alur cerita yang kuat, adegan penuh detail, dan sebagainya. Namun, ia tetap produk jurnalistik karena ia kukuh bersetia pada fakta. Kontennya tak boleh mengada-ada.
Dari tujuh tulisan tersebut, hanya tiga yang saya coba sajikan dalam bentuk narasi: “Bak Diikat Tali Sehasta” (11.136 kata), “Hidup dan Mati di Lumbung Batubara Muara Enim” (7.656 kata), dan “Habis Utang, Terbitlah Gelap” (7.605 kata).
Empat tulisan lain tetap dikerjakan dengan semangat jurnalisme telaten, tapi hadir dengan gaya presentasi berbeda. Ada feature, laporan mendalam, juga reportase data.
Respons positif dari pembaca paling banyak datang untuk tiga narasi tersebut. Sementara dua laporan mendalam penuh data bisa dikatakan paling sepi peminat.
Saya sempat mendiskusikan ini dengan Evi. Kesimpulan kami, pembaca lebih suka narasi yang emosional dibanding laporan mendalam yang cerebral. Saya makin yakin narasi masih punya tempat di tengah badai berita ringkas hari-hari ini.
Masalahnya, menulis narasi tak semudah membicarakannya.
Saat ingin menggarap narasi, biasanya saya memastikan dulu saya punya tokoh utama yang dapat menuntun pembaca sepanjang cerita. Maka, saya butuh narasumber dengan kisah yang kuat. Unsur penting lain adalah konflik, bahan bakar yang membuat cerita terus berjalan maju.
Kemudian, saya bakal merancang plot berdasarkan ketersediaan bahan, entah hasil riset, observasi lapangan, atau wawancara. Secara umum, saya berpatokan pada piramida Gustav Freytag, yang membagi struktur cerita ke lima tahapan: eksposisi, aksi meningkat, klimaks, aksi menurun, dan konklusi.
Itu membantu saya membangun cerita dengan rapi, dari saat memperkenalkan karakter dan semesta cerita, menyelipkan bibit konflik, menempatkan puncak konflik, hingga menyajikan konklusi. Semua itu biasanya saya rencanakan dalam kepala, karena saya malas bikin kerangka tertulis.
Secara struktur, narasi paling “kasar” adalah “Bak Diikat Tali Sehasta”. Ia berisi cerita pengalaman saya menjadi kurir Shopee Express selama dua minggu.
Ada begitu banyak bahan yang saya punya, hingga saya kebingungan sendiri saat merancang plot dan menuliskannya. Walau begitu, ia malah jadi yang paling banyak dibaca di antara tiga narasi saya. Saya kira, itu karena unsur kebaruannya paling kuat. Sebelumnya, tak ada wartawan yang pernah menjajal jadi kurir dan menceritakannya dalam tulisan.
Sementara buat saya pribadi, konflik terkuat ada di “Hidup dan Mati di Lumbung Batubara Muara Enim” dan struktur cerita paling rapi ada di “Habis Utang, Terbitlah Gelap”. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Rata-rata, saya menghabiskan dua bulan untuk mengerjakan setiap narasi tersebut. Prosesnya panjang dan kerap bikin stres.
Karena itu setelah tulisan beres, sepuas apa pun saya dengan hasilnya, saya tetap butuh seseorang dengan mata “segar” untuk bisa memberi kritik dan masukan, seseorang yang komentarnya bisa bikin tulisan saya jadi lebih baik. Untuk itu, saya sangat percaya kepada Fahri sebagai pemimpin redaksi Project Multatuli.
Komentar Fahri kerap bikin saya berpikir, “Benar juga ya.”
Saat menyunting “Bak Diikat Tali Sehasta”, ia minta saya bikin prolog singkat agar pembaca lebih paham konteks sebelum masuk ke dalam cerita. Untuk “Habis Utang, Terbitlah Gelap”, ia meminta saya menambahkan epilog yang menunjukkan pertumbuhan narasumber utama dan lantas jadi penutup cerita yang manis. Untuk “Hidup dan Mati di Lumbung Batubara Muara Enim”, menurutnya draf awal saya sudah bagus, “tapi kok terasa maskulin sekali ceritanya, ya?”
Ke depan, Project Multatuli ingin lebih konsisten menerbitkan narasi. Setidaknya, setahun dua kali. Saya tanya ke Fahri, sepanjang apa naskah yang dicari?
“30.000 kata,” katanya. “Nggak deh, 15.000 aja.”
Saya hanya bisa tertawa getir. Saya tak bisa membayangkan kepusingan yang harus dilalui untuk mengerjakan naskah 15.000 kata. Namun, saya juga paham, Fahri bilang begitu bukan sekadar untuk gaya-gayaan.
Sejak awal, Project Multatuli secara sadar memilih bermain di “pinggiran”, menghindari arus utama yang deras dan kerap bikin celaka. Kami berusaha memberikan pilihan-pilihan lain kepada pembaca, terutama mereka yang kelimpungan menghadapi badai berita ringkas.
Milan Kundera sempat membahas hubungan antara kecepatan dan ingatan dalam novel Slowness (1995). Ia bilang, seseorang cenderung melambatkan laju saat berusaha mengingat sesuatu. Sebaliknya, seseorang jadi tergesa ketika berusaha melupakan sebuah kejadian.
Di dunia yang serba cepat dan terburu-buru ini, saat informasi seakan telah jadi wabah mematikan, media massa terus memasok berita dengan jumlah tak terkira, dan tanpa sadar membuat pembacanya kian cepat lupa.
Mimpi Project Multatuli sederhana. Kami ingin duduk di samping pembaca, bersama-sama mengambil jeda dari hiruk pikuk dunia, lalu pelan-pelan mengingat apa yang terlewat, apa yang benar-benar bermakna dan mestinya dirawat. Dan, syukur-syukur, membawa dampak nyata.
Saya kira, kita santai saja.
Tulisan ini mulanya terbit pada 11 Februari 2022 dalam nawala “Di Balik Layar” yang hanya disebar kepada Kawan M, sebutan bagi member Project Multatuli.


