Kereta Kencana: Menyoal Senyum Sebelum Ajal

Kakek-nenek yang menanti ajal dalam pentas Kereta Kencana oleh Studiklub Teater Bandung (STB).
Kakek-nenek yang menanti ajal dalam pentas Kereta Kencana oleh Studiklub Teater Bandung (STB). Andrey Gromico.

Pementasan ulang karya klasik W.S. Rendra, Kereta Kencana, membuktikan bahwa karya bagus akan terus hidup.

Rasa-rasanya, Chairil Anwar hanya bercanda belaka waktu mengatakan ingin hidup 1.000 tahun lagi.

Pasalnya, dalam Kereta Kencana, hasil interpretasi W.S. Rendra terhadap naskah Les Chaises karya Eugene Ionesco (1909-1994), sepasang kakek-nenek yang berusia dua abad saja sudah lelah menunggu ajal menjemput.

Sepasang suami-istri berusia amat senja itu kesepian. Tak ada anak cucu. Mereka juga sudah bosan sekali menanti mati. Sang kakek bahkan mulai dihantui oleh suara derap kaki Izrail.

“Kita terlalu lama hidup, terlalu lama memeras tenaga untuk mengisi umur kita yang terlalu panjang ini. Berapa kali sajakah kita mengharap mati?” sesal sang kakek.

Telah berkali-kali mereka dikecewakan maut. Maka, mereka skeptis ketika sebuah suara datang mengabarkan bahwa kereta kencana akan menjemput saat angin mendayu dan bulan luput dari mata.

Namun, kala sang kakek telah kehabisan stok asa, nenek selalu bisa menebar optimisme dengan kata-kata.

“Apa gunanya hidup kalau kita tidak bisa menghibur diri sendiri. Jiwa dan pikiran kita harus bisa mengisi kekosongan dan kejemuan. Senyumlah, Sayang. Senyuman saat ini adalah kebahagiaan, dan kebahagian dapat mengatasi kekosongan dan kejemuan,” kata si nenek.

Lantas, mereka sontak berkelindan dalam kenangan dan pusaran kebahagiaan masa lalu. Entah saat sang nenek berlakon sebagai layang-layang, pun kala sang kakek diminta jadi badut.

“Badut adalah raja kebudayaan,” ujar sang nenek.

Saat ketidakpastian melanda, kita kerap tak berdaya disergap harap yang tak terwujud. Begitu juga halnya dengan sepasang kekasih yang telah bersama selama 170 tahun lamanya tersebut. Berbagai obsesi yang tak terpenuhi di masa muda mendadak kembali di penghujung hayat mereka.

Kakek-nenek tersebut bergantian menimang bayi yang tak pernah datang di kehidupan panjang mereka. Bahkan, tiba-tiba datang serombongan orang dengan pelbagai profesi, dari tukang kayu, uskup hingga perdana menteri, untuk mengadakan pesta perpisahan sebelum dua insan itu dijemput ajal.

Maka ketika imaji sesosok kaisar masuk dalam pandangan mata si kakek-nenek, mereka begitu bersuka karena merasa akan dijemput saat itu juga. Bahkan ketika akan mengucapkan permintaan terakhirnya, sang kakek kebingungan karena yang diinginkannya hanyalah mati.

“Permintaan terakhir? Apa yang harus kuucapkan?” tanya si kakek.

Di akhir kisah, derap kaki kuda kereta kencana terdengar begitu kencang. Kakek-nenek itu pun berpegangan tangan menunggu impiannya datang dengan damai hingga gelap tiba-tiba menyergap.

Pementasan Kereta Kencana kali ini dibawakan oleh Studiklub Teater Bandung (STB) pada 27-28 Maret 2014 di Bentara Budaya Jakarta. Naskah ini sesungguhnya ditulis Rendra pada 1960 silam. Sang lelaki gagah berjuluk Si Burung Merak ini pertama kali menampilkan drama itu bersama sang istri, Ken Zuraida, di Yogyakarta. Lalu, barulah pementasan berjudul sama dimainkan ulang oleh banyak kelompok teater setelahnya.

Salah satu pementasan ulang Kereta Kencana yang cukup mengundang perhatian adalah yang ditampilkan oleh Putu Wijaya pada bulan Juni 2010 di Yogyakarta. Di kota tempat Kereta Kencana berumah, Putu memainkan sendiri tokoh kakek tersebut. Pentas ini juga diselenggarakan untuk mengenang Rendra yang mangkat pada 2009 lalu.

Kereta Kencana sendiri sempat menimbulkan perdebatan panjang dalam dunia teater. Muncul pertanyaan dan perdebatan: apakah itu karya terjemahan Wendra terhadap Ionesco? Ataukah karya Rendra yang terinspirasi oleh Ionesco?

Ikranegara, teaterawan senior, pernah menulis dalam kolom di Kompas bahwa Kereta Kencana itu bukan karya terjemahan, melainkan karya Rendra yang berdiri sendiri. Ikranegara sendiri juga pernah memainkan peran kakek dalam pementasan Kereta Kencana oleh Teater Mandiri pada 2009.

Ia sempat menyatakan kalau naskah asli Ionesco banyak yang berbeda dengan naskah Rendra. Begitupun sebaliknya. Ia lantas memberi misal: pembukaan cerita, setting tempat, hingga akhir kisah yang berbeda.

Dalam akhir kisah Les Chaises, hidup kakek-nenek yang getir menunggu ajal bertambah jadi tragis. Sepasang suami-istri tua yang bosan menunggu mati itu lantas memutuskan untuk mencabut nyawa mereka sendiri dengan melompat keluar jendela, yang lantas digambarkan mati tenggelam. Sedangkan Rendra membuat akhir kisah yang kontemplatif: menunggu maut dengan takzim. Hanya menunggu.

Kesabaran itu membuahkan hasil. Kakek-nenek itu lantas benar-benar didatangi oleh kereta kencana. Mereka lalu bersahut-sahutan, entah gembira, entah ketakutan karena maut tinggal sejengkal dari ubun-ubun.

Namun, hal berbeda ditampilkan oleh STB pada pementasan teraktualnya. Tidak ada kereta kencana yang datang menjemput. Cuma gelap yang pekat dan harapan yang mencuat hadir dalam epilognya.

“Saya sengaja membuat akhirnya jadi menggantung, sehingga semua tergantung pada tafsir penonton,” ujar I Gusti Nyoman Arya Sanjaya, sutradara pentas tersebut.

Optimisme dalam memaknai kehidupan, menjadi hal utama yang ditonjolkan dalam pementasan ini. Seperti ujaran sang pemeran kakek, Indrasitas (36), usai acara selesai.

“Berbeda dengan naskah aslinya yang terkesan pesimis sekali, di naskah Rendra ini kita menemukan optimisme bahwa hidup ini tidak selesai dengan logika saja. Ada harapan dan bagaimana cara memupuk optimisme bahwa suatu saat yang ditunggu akan datang,” tutur Indrasitas.

“Kita menjalani hidup secara optimis saja bahwa kematian itu kan sudah fitrah, seperti kelahiran. Jadi tergantung bagaimana kita menyikapinya, ada yang menganggap kematian itu bukanlah hal yang menakutkan, melainkan sesuatu yang biasa-biasa saja,” ujar Sugiyati (70), pemeran nenek sekaligus istri dari pendiri STB, mendiang Suyatna Anirun.

Pementasan ini juga mengingatkan pada satu hal: bahwa raga bisa mati, tapi karya tidak. Rendra yang meninggal tak sampai umur dua abad, turut meninggalkan Kereta Kencana sebagai salah satu warisan terbaiknya. Naskah itu akan diinterpretasikan ulang, dimainkan kembali, dari satu panggung ke panggung lain.

Kereta Kencana juga seperti jalan hidup Rendra. Tidak tentang hidup yang terlampau lama, namun tentang meninggal dengan megah. Rendra meninggal dengan ditangisi oleh jutaan orang. Mungkin itulah kereta kencana yang sebenarnya.

Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusingan. Wahai-wahai! Di tengah malam di hari ini akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua. Kereta kencana, sepuluh kuda satu warna! Lantas keduanya menuju cahaya…

***

Catatan
1. Tulisan ini dikerjakan bersama Nuran Wibisono.
2. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 7 April 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top