Kisah Cinta dan Irasionalitas di Sekitarnya

Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS).
Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS). Joy Kornelius.

Katanya, cinta bukanlah hal besar. Justru, ia adalah kumpulan jutaan hal kecil di sekitar kita. Karena itu, tidak tepat rasanya membicarakan cinta tanpa membahas yang lain-lainnya.

Hal itu pula yang disajikan dalam pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS) pada 20 Mei 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bisa dikatakan, pentas ini adalah potret irasionalitas kehidupan rasional masyarakat metropolitan.

Alkisah, Nyonya sedang gundah. Anjing bulldog kesayangannya, Tony, sedang sakit parah. Selama ini, Tony yang selalu menemani Nyonya di kala sepi. Apalagi, Nyonya tak bisa punya anak, sementara Tuan terlampau sibuk bekerja dari hari ke hari. Karena itu, segala cara Nyonya lakukan untuk menyembuhkan Tony.

Di sini, terlihat bahwa Tuan dan Nyonya adalah tipikal pasangan suami-istri kaya raya dengan pengaruh besar di Jakarta. Sang pengurus rumah tangga, Willem, sempat membahas hal ini dalam dialognya. Ia khawatir, seluruh penjuru Jakarta ikut sibuk hanya karena Tony. Itu karena Nyonya adalah seorang “yang amat berpengaruh, seorang pengarang besar, seorang wartawan besar, seorang pemimpin partai. Pendeknya, seorang yang sangat berwibawa”.

Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS).
Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS). Joy Kornelius.

Masyarakat Rasional
Dalam naskah Kisah Cinta dan Lain-lain, sang pengarang, Arifin C. Noer, seakan berusaha menyentil konsep masyarakat rasional yang tumbuh pesat di tengah masyarakat Jakarta era 1980an. Dalam teori sosiologi, rasionalisasi merujuk pada pergeseran nilai-nilai budaya dan tradisi yang biasanya jadi motivasi dalam tingkah laku manusia sehari-hari. Nilai-nilai tradisional itu diganti dengan sistem rasional nan terstruktur demi mencapai efisiensi.

Misalnya dalam sistem pemerintahan. Dahulu, raja-raja diangkat dan berkuasa berdasarkan sistem otoritas karismatik yang merujuk pada kualitas individu sang pemimpin. Namun otoritas itu otomatis hilang kala sang raja mati. Karena itu Max Weber percaya, otoritas rasional-legal yang berlandaskan pada birokrasi dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan serta mewariskan otoritas yang ada secara turun temurun.

Konsep masyarakat rasional sama dengan restoran cepat saji semacam McDonald’s. Prosesnya harus cepat, dan mampu mencapai tujuan dengan usaha seminim mungkin. Sosiolog George Ritzer bahkan menggunakan istilah McDonaldisasi untuk merujuk proses rasionalisasi pada umumnya. Menurut Ritzer, ada empat komponen utama dalam McDonaldisasi: efisiensi, keterukuran, keterprediksian, dan kontrol.

Dalam pentas Kisah Cinta dan Lain-lain, sosok Tuan digambarkan sibuk bekerja tiap harinya hingga lupa menemani sang istri. Padahal, bisa kita bayangkan, ia justru membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan materiil sehari-hari, dan menjaga keluarganya tetap berada di strata sosial tinggi. Bukan berarti ia tak cinta. Dapat dilihat di adegan-adegan akhir kala Tony mati dan Tuan rela memenuhi seluruh permintaan Nyonya agar istrinya itu senang: menyebarkan kabar kematian, mengadakan konferensi pers, serta memberi pidato di depan para wartawan.

Di sini, Tuan adalah anggota masyarakat McDonaldisasi yang melakukan segala cara untuk mencapai tujuan besar versinya, meski harus mengesampingkan faktor perasaan Nyonya. Akhirnya, ia justru terjebak dalam dehumanisasi karena mengejar efisiensi. Setelah 20 tahun menikah, Nyonya merasa sang suami telah berubah jadi robot tanpa perasaan. Cinta Nyonya justru jatuh pada Tony, anjing yang selalu setia menemani. Maka jangan heran melihat Nyonya memanggil profesor hingga dukun untuk menyembuhkan Tony.

Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS).
Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS). Joy Kornelius.

Tak hanya Tuan, bahkan Otong sang sopir keluarga juga terjebak kondisi serupa. Ia beranak empat. Salah satunya tengah sakit keras di rumah. Namun Otong tak berani pulang untuk sekadar menjenguk karena Nyonya bersikeras ia harus terus berjaga-jaga, takut sesuatu terjadi dengan Tony. Bila membangkang, Otong bisa dipecat. Tak kerja, tak ada uang, keluarga pun tak makan. Urusan perut memang selalu bikin pelik.

Alhasil karena jarang pulang, Otong menyalurkan “kebutuhan ranjang” pada wanita di sekitarnya. Willem sang pengurus rumah tangga pun kerap digodanya. Di akhir cerita, saat tengah berlangsung konferensi pers kematian Tony, sempat muncul pula wanita lain yang sedang bunting besar dan meminta pertanggungjawaban Otong. Tak hanya itu, orang-orang di luar rumah berteriak memberi kabar, anak Otong yang sedang sakit mendadak meninggal. Namun Otong hanya terdiam tak berdaya.

Sayangnya, peran Tuan dan Otong dalam Kisah Cinta dan Lain-lain versi ST MANIS dimainkan dengan hambar. Intonasi mereka datar dan kerap “tenggelam” saat berdialog dengan lawan main masing-masing, entah kala Tuan bersanding dengan Nyonya atau saat Otong berbicara dengan Willem. Karena itu Tuan hanya terlihat seperti suami introvert nan penurut, sementara Otong justru terkesan seperti playboy kemarin sore.

Namun, secara umum adegan penutup pada pentas ini berhasil memberi ironi tersendiri. Seorang wartawan bernama Alex datang saat konferensi pers, meminta maaf karena wartawan lain tak bisa hadir dan mesti menyambangi acara pemakaman anjing lainnya. Lalu Nyonya memberikan kata-kata terakhirnya untuk Tony, “Saya tidak menyangka, ‘suami’ saya yang terakhir ini begitu cepat meninggalkan saya.”

Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS).
Pentas Kisah Cinta dan Lain-lain oleh Seni Teater Mahasiswa Bina Nusantara (ST MANIS). Joy Kornelius.

Tuan pun berujar pasrah, “Oh, ini bagai petir di siang hari.”

Semua jadi begini karena Tuan lupa, kisah cinta juga butuh yang lain-lainnya.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top