Klinik Male: Parade Gigolo Bawah Tanah

Para gigolo di Klinik Male.
Para gigolo di Klinik Male. Dokumentasi Teater Q.

Sembilan pria berbadan kekar masuk ke dalam ruangan. Telanjang dada, hanya celana pendek ketat yang menutupi tubuh mereka. Setelah menari beberapa saat, mereka berpose dan bergeming di tempat masing-masing layaknya sebuah manekin. Madam Sauna dengan segera memilih pria nomor 1, 5 dan 9 untuk menemaninya menghabiskan malam.

Sauna memang pelanggan tetap di Klinik Male, pusat penyaluran jasa para gigolo. Suaminya kaya raya, tapi jarang hadir di rumah untuk memenuhi hasrat duniawinya. Alhasil, Sauna menjadi liar di luar, dan gemar berbohong di rumah.

“70% pelanggan kami adalah orang yang sudah memiliki pasangan,” kata Kuncoro sang pengelola Klinik Male. “Kami ada karena yang membutuhkan jasa kami ada.”

Kisah ini diangkat dalam pentas berjudul Klinik Male yang dibawakan Teater Q di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 18-19 April 2014. Teater Q berusaha memotret fenomena sosial yang kerap terjadi, tapi jarang diperbincangkan luas di masyarakat karena dianggap tabu, tepatnya soal kebutuhan seks wanita dan “jalan belakang” untuk memenuhinya.

Wanita, utamanya dari kalangan sosialita, punya kemampuan finansial untuk memuaskan hasratnya akan seks dengan cara menyewa jasa gigolo – walau tentu tak semuanya seperti itu. Dan hanya di pusat penyaluran gigolo itu-lah mereka bisa menunjukkan sisi “terliar” mereka, yang selama ini mungkin hanya tersimpan rapat di sudut angan karena aturan dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Namun, paduan antara hasrat, kebohongan, dan urusan masa lalu yang belum tuntas kemudian justru berujung bencana, seperti yang terjadi pada Kuncoro.

Diceritakan, Kuncoro telah memiliki seorang anak di luar pernikahan. Segera setelah anaknya lahir 20 tahun silam, sang kekasih pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi. Alhasil, Kuncoro yang bertanggung jawab penuh membesarkan sang anak yang diberi nama Adam. Secara rutin Kuncoro mengirimkan bantuan uang hingga Adam berusia 18 tahun.

Karena malu dengan pekerjaannya, Kuncoro tak berani mengungkapkan identitas aslinya pada Adam. Semua baru terungkap setelah Adam tak sengaja mendengarkan obrolan Kuncoro dengan Ivo Yolanda, partner-nya dalam mengelola Klinik Male. Awalnya, Adam tak bisa menerima hal ini. Namun, perlahan ia berdamai dengan sang ayah dan bahkan ikut bekerja menjadi gigolo.

Saat hubungan ayah dan anak itu telah membaik, ternyata datang kejadian tak terduga. Sauna, yang telah lama tak mampir ke Klinik Male, kali ini ingin mengadakan pesta besar bertajuk “Go Go Boy” bersama teman-temannya semasa kuliah di Belanda. Saking bersemangatnya, seorang teman Sauna bernama Erna Pringayuda bahkan datang duluan ke tempat acara untuk melakukan “pemanasan”. Di sana, ia memilih Adam sebagai rekan pemuas hasratnya.

Yang Erna tidak ketahui, Adam adalah anak kandungnya sendiri. Akhirnya jadi kacau balau. Kuncoro, pengelola jasa penyalur gigolo, dengan sadar telah mempekerjakan anaknya sendiri. Dan anaknya itu justru bersetubuh dengan ibu kandungnya tanpa disengaja.

“Aku tidak mau menerima semua ini. Ini terlalu pahit dan ganjil untuk dijalani,” ujar Adam putus asa.

Adam merasa begitu marah pada nasib yang menimpanya. Ia tampak begitu terpukul hingga tak bersedia disentuh langsung oleh ibunya.

“Jangan, aku adalah pelacur. Kalau kau ingin menyentuhku, berarti kau harus membayarnya,” kata Adam, murka.

Teater Q, yang berdiri pada 9 September 2009, memang kerap mengangkat tema-tema kontroversial. Pada Desember 2013, misalnya, teater ini sempat membawakan naskah berjudul Diari Kematian yang berkisah tentang sosok ayah pedofilia. Mereka juga berani menampilkan adegan vulgar di atas panggung, seperti yang terlihat di pentas Klinik Male.

Misal, pada adegan pesta “Go Go Boy”, 10 pria menari erotis menemani Sauna dan kawan-kawannya sembari hanya mengenakan celana pendek ketat. Selain itu, salah satu gigolo juga sempat membawa dildo sembari mengenakan kostum pilot bercelana pendek ketat (lagi). Karena itu, hanya penonton berusia di atas 18 tahun yang bisa menyaksikan pentas arahan sutradara Cik’im Sinongan ini.

“Di cerita ini, ada sedikit pembelaan kita bagi kaum wanita. Secara tidak kita sadari, sesungguhnya bukan hanya wanita saja yang kerap berprofesi sebagai pelacur, laki-laki pun juga begitu,” ujar Edi Saputra, pemeran tokoh Kuncoro dalam Klinik Male.

Dalam sebuah adegan, salah seorang gigolo memang sempat berujar bahwa profesi gigolo sesungguhnya lebih berat daripada pelacur wanita pada umumnya. Hal itu karena mereka wajib tetap tampil “gagah” di depan berbagai macam pelanggan, bahkan nenek-nenek sekalipun, untuk dapat menunaikan tugasnya.

Bila sudah begitu, mana yang lebih berdosa, seorang istri yang berselingkuh dengan gigolo, atau gigolo yang bersetubuh dengan ibunya sendiri? Entahlah, karena hitungan karma sudah tak lagi jelas saat syahwat yang “bicara”.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top