Lelucon Pamungkas Sukiu

Dudung Hadi.
Dudung Hadi. Dokumentasi Teater Koma.

Suatu hari pada Maret 2013, ada perpisahan yang disampaikan dengan penuh tawa.

Nio dan istrinya heran bukan main. Putra mereka satu-satunya, Sampek, berhari-hari terkulai tak berdaya di ranjang, menolak makan dan minum hingga tubuhnya kurus kerontang. Ia patah hati karena kebodohannya sendiri. Setiap saat, hanya nama Engtay yang disebut di sela tangisannya.

Wajar, hampir satu tahun Sampek tidur seranjang, tapi tak kunjung sadar kalau Engtay adalah perempuan yang sedang menyamar agar bisa belajar di sekolah laki-laki. Setelah membuka kedoknya, Engtay pun terpaksa pulang kampung untuk dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtua. Sampek berjanji akan datang mendahului melamar, tapi malah salah menghitung hari.

Sang bujang, Sukiu, juga tak bisa berbuat apa-apa selain memijat kaki Sampek. Namun, lama-lama ia jengah mendengar ratapan juragannya itu.

“Sebetulnya sih, ini terjadi lantaran juragan muda tidak mau badung sedikit. Kalau pasangan sudah sangat agresif begitu, ya tabrak saja! Urusan belakangan.”

“Kalau dia laki-laki, hitung-hitung tambah pengalaman. Baru kalau dia perempuan, rezeki nomplok namanya!”

Ratusan penonton yang memadati Gedung Kesenian Jakarta sontak pecah tawanya mendengar celetukan Sukiu. Namun sang bujang tetap memasang muka datar, sebelum kembali berujar, “Juragan kelewatan sih. Sudah seranjang, masih juga bisa lolos.”

Entah telah berapa kali Dudung Hadi mengucapkan kata-kata itu saat berperan sebagai Sukiu. Sejak Teater Koma berdiri pada 1977, ini adalah ke-16 kalinya Sampek Engtay diproduksi. Sekali produksi, mereka bisa memainkannya berhari-hari. Bahkan pada akhir 1999 dan awal 2000 mereka pernah memainkan lakon ini selama total 24 hari di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, dan sukses menggaet lebih dari 20 ribu penonton.

Pada 2004, Sampek Engtay mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia sebagai pentas teater yang sukses dimainkan sebanyak 80 kali selama 16 tahun dengan tujuh pemain dan empat pemusik yang sama. Dudung termasuk di dalamnya. Tokoh Sukiu begitu melekat pada dirinya, hingga banyak penonton setia datang berkali-kali karena ingin menyaksikannya.

Sejak pertama bergabung dalam Teater Koma pada 1981, Dudung memang akrab dengan peran komedi. Sutradara sekaligus pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, juga mengakui hal ini. Saat membuat sebuah naskah, ia telah membayangkan peran apa yang kira-kira akan diberikan pada Dudung. “Pokoknya sesuatu yang kira-kira bakal lucu,” kata Nano.

Sebelumnya, Dudung memulai karier sebagai aktor film dan komedian. Bersama Otong Lenon, Muchlis Gumilang dan Yogie, ia bermain dalam film Bodoh-bodoh Mujur dan Acuh-acuh Sayang yang rilis pada 1981. Otong adalah salah satu dari 12 pendiri Teater Koma, sementara Muchlis bergabung ke sana pada 1978.

Bersama grup Bel Cuap, mereka juga memenangi lomba lawak RRI dan TVRI pada tahun yang sama. Selain itu, Dudung sempat jadi sutradara Teater Samrah yang tampil dengan menonjolkan tradisi Betawi. Hasil garapannya itu ditampilkan di TVRI pada 1980-an.

Latar belakang Dudung itu sempat membuat Ratna Riantiarno khawatir. Ratna adalah istri Nano yang ikut mendirikan Teater Koma. “Saya suka khawatir kalau seseorang pernah bermain lawak, ia kesannya ingin melawak terus,” kata Ratna. “Tapi Dudung ini orangnya justru pendiam dan sangat santun.”

Di luar panggung, Dudung memang hanya bicara saat dibutuhkan, terutama dalam forum diskusi formal. Butuh waktu baginya untuk mengenal seseorang lebih jauh dan bercanda lepas dalam keseharian. “Dia itu pengamat orang yang baik. Jadi dia tidak mau mengganggu. Mungkin karena itu dia tak pernah memulai komunikasi duluan dengan orang baru,” kata Rita Matu Mona, anggota Teater Koma angkatan 1980.

Walau begitu, ia tak pelit berbagi ilmu pada anggota yang lebih muda. Bila diminta saran atau pendapat, dengan senang hati ia akan meladeni tanpa maksud menggurui. Itu pula yang dialami Budi Ros di awal perkenalannya dengan Dudung. Saat baru masuk Teater Koma pada 1985, suara Budi dirasa kurang lantang kala berdialog. “Bud, suara kamu jangan seperti main di TV,” kata Dudung sembari berbisik hati-hati saat itu.

Paulus Simangunsong, anggota Teater Koma angkatan 2000 juga mengucapkan hal senada. “Di awal saya bergabung dengan Teater Koma, beliau adalah salah satu yang enak diajak ngobrol. Karena, dia selalu tak pernah menganggap dirinya lebih tahu dibanding yang lain,” kata Paulus.

Dudung tak pernah neko neko. Apalagi ia menaruh rasa hormat besar pada Nano dan Ratna. Ia menganggap mereka sebagai guru sekaligus orangtua. Karena itu ia selalu datang latihan tepat waktu dan patuh mengikuti instruksi Nano sebagai sutradara. Setelah puluhan tahun bergabung dengan Teater Koma, Dudung bahkan masih segan makan dalam satu ruangan yang sama bersama mereka dan mesti minta izin terlebih dahulu sebelum buang air kecil atau mengambil camilan.

Namun semua berubah kala Dudung naik ke atas panggung. Di sana, ia bagai menemukan dirinya sendiri. Suaranya lantang dan gerakannya lincah. Ia bagai tenggelam dalam peran yang dibawakannya.

“Dudung itu orangnya paling bisa menutupi masalah yang dihadapinya di luar. Saat berada di atas panggung, dia lupakan semua masalah itu. Dia sudah bukan jadi Dudung lagi, tapi masuk betul-betul ke dalam perannya,” kata Alex Fatahillah, anggota Teater Koma angkatan 1983.

“Itulah kelebihannya dia. Dedikasi dan loyalitasnya tinggi,” kata Dorias Pribadi, anggota Teater Koma angkatan 1978.

Tak lupa, ia kerap menyelipkan banyolan di saat tak terduga. Beberapa rekannya bahkan berkata, Dudung seperti “tersiksa” ketika dilarang bercanda.

Biasanya, Alex yang kerap menegur bila Dudung mulai kelewat batas. Seperti kala mereka bermain bersama dalam lakon Sie Jin Kwie, Februari 2010. Dudung jadi Litocong, menantu dari tokoh yang dimainkan Alex, Thiosukwie. Saat latihan, Dudung berkoordinasi dengan Alex untuk mencoba sebuah lawakan baru. “Lalu saya bilang, ‘Jangan, ini lagi serius. Awas ya kalau coba kaya gitu.’ Setelah itu akhirnya dia menurut,” ujar Alex.

Bukan berarti Dudung tak bisa membawakan peran serius. Pada akhir 1991, Teater Koma pernah memainkan naskah berjudul RSJ. Saat itu Nano memberi Dudung peran sebagai seorang dokter. “Peran itu sangat serius, dan dia mempelajari naskahnya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada lawakan dan dia harus memainkannya persis dengan dialog. Hasilnya, sangat bagus,” kata Nano. “Itu malah jadi sebuah tantangan untuk dia.”

Bermain teater memang bukan soal menonjol sendirian. Baik-buruk sebuah pentas tergantung pada kepaduan himpunan. Masing-masing harus bermain secara maksimal sesuai porsi untuk mencipta harmoni. Seperti Sukiu yang memelipir kala Nio dan istrinya berdebat soal penyakit Sampek. Ia tahu itu bukan porsinya. Ia sadar waktunya bicara belum tiba.

Lain halnya ketika Sukiu menyambangi rumah Engtay di Serang untuk menyampaikan surat titipan Sampek. Sukiu menjelaskan sembari tersedu sedan bahwa juragannya sekarat karena ditinggal pergi sang pujaan hati. Ia bahkan sempat mencuri waktu untuk menggoda Suhiang, pelayan pribadi Engtay.

Sukiu pun pulang ke Pandeglang membawa balasan dari Engtay, kemudian lanjut membacakannya pada Sampek dan kedua orangtuanya. Namun sebagai bujang yang tak terpelajar, Sukiu kesulitan melafalkan kata demi kata yang tertera dalam surat itu. Dengan kening berkerut dan suara terbata, ia tetap berusaha.

Nio sampai gemas dibuatnya. Namun Sukiu cuek saja. Ia terus membaca sambil mengejan dan mengubah-ubah posisi, dari duduk bersila, tengkurap hingga duduk bertumpu pada lutut. Belum lagi dengan suaranya yang nyaring dan posturnya yang pendek gempal. Alhasil, penonton tak henti tertawa menyaksikannya. “Adegan baca surat itu gila banget,” kata Nano.

Nyonya Nio pun tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Sukiu selesai membaca. Peran sang nyonya dibawakan oleh Rita, yang tentu sudah hafal betul dengan gaya main Dudung. Mereka telah bermain bersama dalam puluhan produksi, dan satu hal yang paling diingat Rita dari Dudung adalah spontanitasnya.

Pada Mei 1993, Teater Koma pernah membawakan pentas Raja Ubu selama dua minggu. Dudung berperan sebagai Raja Ubu dan Rita jadi istrinya. Saat itu, Dudung mesti mengenakan kostum besar untuk menambah kesan gemuk pada dirinya. Butuh banyak waktu untuk mengenakan atau mencopot kostum tersebut.

“Saat itu kami ada adegan pelukan sebagai suami-istri. Terus saya bilang, ‘Dung, kok elo bau pesing, sih?’”

“Rit, daripada gue kencing batu, tiap mau pipis gue pipisin aja langsung. Cuma elo doang yang tahu.”

Itu terjadi di atas panggung saat pementasan tengah berlangsung. Karena itu kian hari baunya semakin menyengat, dan Rita jadi korban terdekat. Namun itulah tingkah polah Dudung yang begitu diingat dan selalu memancing tawa Rita.

Rita adalah salah satu teman dekat Dudung di Teater Koma. Karena itu Dudung banyak bertukar pikiran dengannya soal berbagai masalah pribadi. Namun, Dudung berhasil menyimpan satu rahasia besar dari Rita dan teman-teman lain selama bertahun-tahun.

Semua terungkap kala Dudung mengidap penyakit sinusitis pada 1990-an hingga mesti dioperasi. Saat itu Sari Madjid, adik Ratna, yang kerap menemaninya di rumah sakit. Tak disangka, datanglah seorang perempuan muda yang mengaku sebagai istri Dudung untuk menjenguk. Padahal, sosoknya berbeda dengan istri Dudung yang dikenal Sari sebelumnya.

Tak hanya itu, Budi juga sempat mendapat giliran jaga pada hari lainnya. Kala itu datang seorang pria tua yang mengaku sebagai mertua Dudung. Padahal, setahu Budi mertua Dudung tinggal di Purworejo, Jawa Tengah. Alhasil, terungkaplah bahwa Dudung telah menikah untuk kedua kalinya, tanpa sepengetahuan sang istri pertama.

***

Abdul Hadi Ilyas, itulah nama asli Dudung. Lahir di Jakarta pada 5 Oktober 1958, Dudung adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan gemar bercanda. Itu pula yang membuat Triantini luluh hatinya kala Dudung mendekati.

Mereka bertemu pertama kali di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, pada 1978. Keduanya tinggal berdekatan di sana. Setelah tiga bulan berpacaran, Dudung segera melamar Triantini. Lalu lahirlah empat anak dari pernikahan mereka: Euis Chatu Islamia (1980), Wasis Gumilang (1981), Sandy Afrian (1984) dan Imammi Putri Nugelis (1994). Sesungguhnya sang putri bungsu terlahir kembar. Namun saudarinya, Imammi Putri Wahyuni, meninggal sehari setelah persalinan.

Beberapa tahun setelah menikah, Dudung aktif di Teater Samrah sebagai sutradara dan penulis naskah. Sehari-hari ia kerap melatih anak-anak didiknya itu di Sanggar Kata Kate dekat rumah. Selain itu, Dudung bekerja tetap sebagai penyemprot pestisida di perusahaan pengendalian hama, Rentokil.

Namun teater berubah jadi pekerjaan utama, dan bahkan hidupnya, sejak ia bergabung dengan Teater Koma. Pentas perdananya adalah Kopral Doel Kotjek pada November 1981. Sejak saat itu, ia telah terlibat dalam ratusan produksi lainnya, entah memainkan naskah saduran ataupun asli karangan Nano, entah produksi panggung maupun televisi.

Triantini pun mendukung penuh sang suami dengan segala kesibukannya tersebut. Saat Dudung mulai jarang pulang dengan alasan latihan, ia maklum. Padahal, kala itu anak ketiga mereka belum lama lahir. Namun, semua berubah ketika muncul pergunjingan di antara tetangga.

“Waktu itu saya lagi duduk bengong, sementara anak nangis saja. Terus ada tetangga nanya, ‘Memang ayahnya ke mana, Tin?’ Saya bilang, Ayah lagi kerja,” kata Triantini.

“Terus dia bilang, ‘Mba, jangan marah ya. Bang Dudung sebenarnya kawin lagi.’ Saya kaget mendengarnya.”

Untuk mengonfirmasi, ia pun menanyakan langsung kebenaran kabar ini pada ibu mertua. Namun ibu mertuanya itu segera menyanggah. “Enggak, Tin. Kalau Abang kawin lagi nanti Emak marahin,” katanya.

Tak langsung percaya, Triantini juga menyambangi tempat latihan Teater Samrah di Sanggar Kata Kate. Namun orang-orang di sana tetap mengelak ketika ditanya. Memang, menurut gosip yang beredar, Dudung menikah untuk kedua kalinya dengan anak didiknya sendiri di sana.

Perlahan, makin banyak orang yang membicarakannya. Kebohongan pun punya batas waktu penyimpanan. Sisa-sisa dinding keyakinan Triantini runtuh seketika setelah pengakuan datang dari mulut sang ibu mertua. Ternyata benar, Dudung menikah lagi dengan seorang perempuan muda yang kagum padanya. Perempuan yang tahu benar bahwa Dudung telah berkeluarga.

“Dulu kita bahkan pernah diajak Ayah main ke rumah keluarga perempuan itu,” kata Euis, sang putri sulung. “Enggak disangka, ternyata itu rumah keluarga calon istrinya.”

Sang ibu mertua coba memberi pengertian. Triantini diminta sabar dan menerima keadaan yang ada, selama Dudung masih bertanggung jawab dan menafkahi keluarga. Namun Triantini tak bisa menerima begitu saja. Diam-diam, ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli rumah di Teluk Pucung, Bekasi Utara. Sakit hati, ia bersikeras ingin pindah rumah dari Karet Tengsin.

Mengetahui hal ini, Dudung sempat naik pitam. “Ngambil rumah jauh-jauh, tempatin sendiri saja sana,” katanya seperti ditirukan Triantini.

Walau begitu, sesungguhnya Dudung pun menyimpan penyesalan besar dalam hati. Ia merasa ini bisa terjadi juga karena keluarga sang istri kedua membuka jalan baginya. Teman-teman Dudung di Teater Koma juga menduga hal serupa. Kekaguman besar pada sosok Dudung sebagai seniman teater dirasa jadi pemicu utama.

“Kata Dudung, orangtua perempuan itu memberi peluang sekali untuk terjadinya hal ini. Makanya Dudung sebal banget sama mertuanya,” kata Budi. “Apalagi mertuanya itu terbuka sekali memberi tahu orang-orang soal ini.”

Sari juga sepakat soal ini. Ia sampai terheran-heran melihat bapak mertua Dudung itu ikut rombongan Teater Koma kala mereka mementaskan ulang RSJ di Purna Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Februari 1992. “Kita sampai bercanda begini, ‘Kayanya nih orang ajaib deh,’” kata Sari. “Dia sepertinya bangga sekali punya menantu seorang pemain teater.”

Namun, nasi telah jadi bubur. Penyesalan tak pernah mendahului tindakan. Kenyataannya, Dudung mesti melewati sebuah fase hidup sebagai kepala keluarga dari dua rumah tangga. Dari istri mudanya itu, Dudung memiliki dua anak: masing-masing satu putra dan putri.

Triantini dan keempat anaknya pun perlahan berdamai dengan diri sendiri. Mereka menerima fakta bahwa Dudung punya kewajiban untuk menghidupi keluarga lain. “Kita enggak mau ambil pusing. Jadi di antara dua keluarga ini ya kita urus urusan masing-masing saja,” kata Euis.

Meski demikian, dalam perjalanannya Dudung merasa tetap harus memilih. Ia tidak bisa egois mengambil semuanya. Pada pertengahan 1990-an, ia memutuskan bercerai dengan istri kedua. Kala itu sang anak bungsu, Putri, kira-kira baru berumur dua tahun.

“Suatu malam, tiba-tiba dia memeluk saya dan mencium telapak kaki saya. Dia minta maaf sambil nangis,” kata Triantini.

Sang istri pun memaafkan dan tak mau lagi menengok ke belakang. Menurutnya, yang terpenting adalah masa depan anak-cucu mereka. Hingga kini, Dudung telah memiliki lima cucu, empat dari anak pertama, satu dari yang kedua. Dudung berjanji, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu menafkahi seluruh cucunya itu.

Di rumah, keluarga pun mengenal Dudung sebagai sosok pendiam. Terkesan cuek, tapi Dudung sesungguhnya perhatian. Ia paling tak tega bila anggota keluarga ataupun rekannya sedang membutuhkan sesuatu. Bila mampu, ia akan segera mengulurkan tangan. “Ayah bahkan pernah kasih hape ke tukang sampah. Orangnya royal sekali,” kata Triantini.

“Lain lagi kalau sudah dapat honor dari Teater Koma, Ayah pasti mengutamakan kebutuhan anak-anak. Terus pas sudah ada cucu, gantian jadi cucu yang nomor satu,” kata Euis.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Dudung mengambil berbagai pekerjaan sampingan. Ia mengikuti audisi sinetron dan iklan televisi, meski tanpa mengganggu aktivitasnya di Teater Koma. Menurutnya, berakting bersama Teater Koma memang yang utama. Ia pun memutuskan keluar dari Rentokil dengan alasan serupa, walau masih menyemprot pestisida secara lepas, tergantung pesanan para kerabat atau kenalan sekitarnya.

Keluarga sudah hafal betul. Dudung tak bisa diganggu ketika sedang latihan atau menghafal naskah. Kadang ia mencari tempat sepi di luar, misalnya masjid dekat rumah, dan bisa keasyikan berbicara sendiri selama berjam-jam. Tanpa sadar, orang-orang yang menegur pun bisa tak diacuhkannya

Lain lagi ceritanya bila sudah pukul 2 siang. Itulah waktunya Dudung berangkat latihan dari rumah menuju Sanggar Teater Koma, entah kala sanggar terletak di Setiabudi maupun Bintaro. Biasanya ia pergi dari Bekasi Utara ke Jakarta Selatan dengan menggunakan jasa bus, angkot, ataupun kereta api.

“Jadi kita tahu kalau Dudung jam 5 atau setengah 6 sore belum datang, pasti sakit atau ada halangan. Lalu dia akan menelepon untuk kasih kabar,” kata Nano. “Karena dia selalu tepat waktu.”

Latihan berlangsung hingga tengah malam, dan Dudung biasa tiba di rumah pada pukul 2 atau 3 pagi. Lalu ia akan merokok sembari menonton televisi hingga waktunya salat tahajud. Terkadang ia mengundang warga yang sedang meronda untuk makan atau berbagi rokok. Barulah ia tidur dan bangun kembali pada pukul 10 pagi. Selalu seperti itu.

Dudung pun kerap mengajak keluarga menonton gladi bersih terbuka yang diadakan Teater Koma bersama pers sehari sebelum pementasan. Saat itu Triantini dan anak-anaknya bisa tergelak tanpa henti menyaksikan tingkah polah Dudung. “Saking lucunya saya suka sampai terharu nonton suami sendiri,” kata Triantini.

Saat itu pula Dudung kerap memperkenalkan keluarganya pada rekan-rekan di Teater Koma. Hubungan kekeluargaan di sana memang begitu erat. Karena itu, istri dan anak-anak Dudung selalu diterima dengan tangan terbuka.

Salah satu anggota Teater Koma generasi muda yang dekat dengan Dudung adalah Paulus, yang aktif selama kurang lebih 10 tahun di sana. Paulus bahkan pernah bermain sebagai Sampek, juragan Sukiu, dalam pentas Sampek Engtay, Februari 2006. Banyak pengalaman berkesan yang didapatnya ketika bermain bersama Dudung.

“Sebelum naik ke atas panggung, Bang Dudung biasanya sudah stand by di belakang panggung 20 menit sebelumnya. Waktu main di Opera Kecoa, saya pernah iseng sama dia. Sesaat sebelum dia masuk, saya pegang kakinya sampai dia panik luar biasa. Setelahnya saya diomelin sama dia,” kata Paulus sembari tertawa mengenang kejailannya.

Pentas terakhir Paulus bersama Teater Koma adalah Sie Jin Kwie pada Februari 2010. Kemudian ia mengajak beberapa rekan untuk mendirikan Teater Koper pada 2012. Mereka adalah Christina Panjaitan, Naomi Lumban Gaol, Ina Kaka dan Dudung.

Teater Koper memiliki gaya berbeda dengan Teater Koma. Mereka banyak menonjolkan tradisi kesenian Batak dan biasa bermain dengan jumlah pemain lebih sedikit, sekitar 5-6 orang saja sekali pementasan. Dudung ikut bermain di sana dalam pentas Mauliate, September 2012, dan Anak Nature, April 2013.

Walau asli orang Betawi, Dudung berhasil memainkan perannya sebagai pria Batak dengan baik. Paulus merasa, itu terjadi karena kerendahan hati Dudung untuk selalu belajar dan mengasah diri.

“Dia belajar logat Batak dengan sangat baik,” kata Paulus. “Dia tipe orang yang suka riset. Saat saya jelaskan kalau perannya adalah preman perantau yang suka nongkrong di Terminal Senen, dia nongkrong di sana untuk mendengarkan orang Batak ngobrol.”

Selain itu, ada satu kejadian yang begitu berbekas dalam benak Paulus. Setelah selesai pementasan perdana Teater Koper, Paulus segera mentransfer “uang permen” yang ada kepada para pemain, termasuk Dudung. Lalu mereka bertemu kembali saat persiapan awal produksi pentas kedua. “Saat itu dia menyalami saya dan berkata, ‘Terima kasih, akhirnya saya bisa beli motor buat anak saya, walaupun cuma motor bekas,’” ujar Paulus.

Kemudian, mestinya Dudung juga ikut bermain dalam pentas Tona, Juli 2013. Ia pun telah ikut proses latihan sejak awal, walau kesehatannya sempat terganggu selama beberapa waktu. Namun, dua minggu jelang acara berlangsung, Dudung undur diri. Penyakitnya memburuk, hingga perannya digantikan oleh seorang pelawak Batak. Hasilnya, tak sesuai harapan.

“Ternyata susah, karena pelawak tak terbiasa menghafal naskah. Pontang-panting kita jadinya. Kalau Bang Dudung, dia memang berangkat dari dunia lawak, tapi juga belajar menghafal naskah,” kata Paulus.

Syahdan, Dudung mesti rehat sejenak dari kegiatan berteater. Bahkan, ia urung terlibat untuk pertama kalinya dalam produksi Sampek Engtay kala lakon itu dipentaskan kembali pada Juni 2013 di Semarang. Kondisi fisiknya tak memungkinkan.

***

Rita merasa serba salah. Sejak Dudung sakit, ia justru mengambil jarak. Ia tak tega melihat temannya tak berdaya dan semakin kurus dari hari ke hari. Bersama Alex, ia berjanji akan membesuk Dudung ke rumahnya di Bekasi sebelum Idul Fitri. Namun kini sudah 11 Agustus 2013, atau lewat tiga hari setelah hari raya itu.

Sejak malam sebelumnya, BlackBerry Rita juga mengalami gangguan hingga ia tak bisa menerima atau mengirim pesan. Tak ada kabar apa pun, termasuk dari grup berisi sesama anggota Teater Koma di sana.

Lantas pukul 10 pagi, Alex menghubungi ponsel Rita lainnya. Ia mengajak berangkat bareng ke rumah Dudung dari Kampung Melayu, Jakarta Timur, bersama Asmin Timbil dan Sena Sukarya. Rita senang bukan kepalang dan langsung menyanggupi. Setelah sekian lama, ia bisa menepati janji sekaligus melepas Rindu dengan karibnya itu.

Tak ada yang tahu pasti apa penyakit Dudung sebenarnya. Seingat Triantini, ini bermula beberapa bulan sebelumnya kala Dudung berkata bahwa perutnya sakit dan terasa keras. Karena itu ia urung bisa beraktivitas secara leluasa. “Padahal biasanya Ayah suka mantek-mantek di rumah,” kata Triantini.

Saat dibawa keluarga ke klinik dekat rumah, dokter menyarankan agar Dudung menjalani USG. Setelahnya, rekan-rekan dari Teater Koma pun ikut membantu. Sari sempat membawanya ke Rumah Sakit Cikini. Di sana dokter mengatakan, terjadi komplikasi hingga Dudung mengidap kanker kelenjar getah bening.

Setelah seminggu di sana, Dudung memutuskan pulang ke Bekasi. Keterbatasan biaya mendorong keluarga mencoba jasa pengobatan alternatif di Bogor. Namun kondisi Dudung tak kunjung membaik, hingga kemudian Sari memboyongnya sementara ke rumahnya di Setiabudi. Di sana ia berkali-kali dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sejak saat itulah Anneke Sihombing mulai turun tangan.

Anneke adalah anggota Teater Koma angkatan 1981. Sebelum aktif di sana, ia bekerja sebagai perawat. Karena itu, rekan-rekan kerap minta bantuannya kala ada yang sakit, entah sekadar masuk angin ataupun kencing batu.

“Waktu itu saya baru dengar kalau Dudung sakit. Lalu saya cari tahu dan segera telepon dia. Mendengar suara saya, dia langsung nangis. Dia bilang, ‘Kak An, sudah lama aku sakit tapi kok enggak pernah nongol,’” kata Anneke.

Setelahnya, Anneke bergegas berangkat naik kereta api dari rumahnya di Citayam, Bogor, menuju rumah Dudung di Bekasi. Niatnya untuk menengok sekaligus menemani Dudung berobat. Namun di tengah jalan, ia dapat kabar kalau dokternya sedang absen. Alhasil, ia tak jadi menemui Dudung hari itu. Mereka baru berjumpa esoknya saat Dudung dibawa ke Setiabudi.

Di saat yang sama, Teater Koma sedang memulai persiapan awal pementasan Ibu. Masing-masing pemain telah memegang naskahnya, termasuk Dudung. Semangat Dudung memang masih membara. Ia tetap berhasrat untuk terlibat di sana. “Di pentas Ibu itu kan ada peran yang pakai kursi roda. Ayah sempat bercanda, ‘Gue aja yang mainin peran itu, kebetulan gue lagi sakit,’” kata Sandy, anak ketiga Dudung.

Hal serupa dikatakan Anneke. Bahkan Dudung berencana membawa istrinya untuk menemaninya tinggal sementara di sanggar, selama proses latihan berlangsung. “Saya enggak mau bilang apa-apa karena semangat dia masih tinggi, sementara kalau melihat kondisinya sudah enggak mungkin dia main,” ujar Anneke.

Setelahnya, hampir setiap hari Anneke menemani Dudung ke RSCM. Namun setelah Dudung menjalani berbagai pemeriksaan, ternyata secara medis hasilnya relatif positif. “Hasil USG dan endoskopinya semua bagus. Tapi ada pembesaran di scrotum (testis), kata dokter ada cairan di situ,” ujar Anneke.

Lalu diagnosa yang muncul jadi membingungkan. Bila sebelumnya dikatakan Dudung mengidap kanker, ternyata hasil pemeriksaan di RSCM menunjukkan sebaliknya. Sempat muncul pula dugaan ia mengidap hernia. “Jadi kami sendiri pada akhirnya sampai enggak paham dia sakit apa,” kata Anneke.

Sembari menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya, Dudung pulang dan beristirahat di rumah. Saat itu kondisi fisiknya kian menurun. Ia semakin kurus dan rambutnya terus rontok. Karena itu ia minta sang istri memotong rambutnya hingga botak.

Selain itu, rekan-rekan dan keluarga juga melihat perubahan drastis sikap Dudung. Ia jadi mudah marah karena hal-hal sepele. Triantini hanya bisa sabar dan terus menemani.

Bahkan Alex ikut kena getahnya. Menjelang Lebaran, ia datang membesuk Dudung ke Bekasi. Walau telah berulang kali ke sana, Alex selalu lupa jalan. Karena itu ia menelepon Dudung untuk menanyakan arah. Mendadak, Dudung marah-marah membentaknya. “Berapa kali ke rumah gue masih enggak tahu jalan juga. Gimana sih, goblok!” katanya seperti ditirukan Alex.

Tak hanya itu, sesampainya di sana Alex masih kena semprot. Kala Triantini bermaksud membuatkan kopi, Dudung menghardik lagi. “Sambil tiduran dan merem dia bilang, ‘Minum kopi melulu, entar sakit aja elo!’” kata Alex.

Sikap berbeda ditunjukkan Dudung ketika Sari gantian menjenguk pada Jumat, sehari setelah Lebaran. Sari berjanji akan membawa Dudung ke rumahnya di Setiabudi pada Minggu, lalu menemani berobat pada Senin di RSCM. Namun Dudung tak sabar dan ingin segera berangkat. Sari menolak secara halus karena pada Minggu ia mesti kondangan terlebih dahulu.

Minggu pagi, keluarga memutuskan membawa Dudung ke pengobatan alternatif di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebelum dijemput Sari pada sorenya. Namun Dudung kembali merengek. “Malamnya dia nego sama saya, minta pergi jam 3 subuh saja ke alternatif itu. Ngomongnya sudah ngaco,” kata Euis.

Ia pun minta terus ditemani dan dipeluk Triantini. Entah kenapa Dudung seakan kembali jadi anak kecil. Keluarga terus mencoba memberi pengertian untuk berangkat pukul 7 pagi, dan akhirnya Dudung menyanggupi.

Kira-kira 10 menit sebelum waktu keberangkatan, Dudung tiduran di ruang tamu bersama Iwan, adiknya yang sedang berkunjung sembari membesuk sejak sehari sebelumnya. Sementara itu, Triantini berkutat di dapur membuat kopi.

Tiba-tiba, Dudung berteriak dengan suara seadanya memanggil Triantini. Tergopoh-gopoh sang istri datang melihat kondisi. Dudung terkulai lemas di pangkuan Triantini, hingga kemudian napasnya berhenti. Ajalnya telah tiba.

Beberapa jam kemudian, Rita berjumpa dengan Alex, Asmin dan Sena di Kampung Melayu. Mereka memilih taksi untuk berangkat ke Bekasi. Tak tahu apa-apa, Rita tetap bergaya ceria. Di tengah jalan, ponsel Asmin terus berdering. Beberapa rekan Teater Koma menanyakan jalan ke rumah Dudung padanya. Rita mulai curiga.

“Kok pada datang semua sih ke rumah Dudung? Memang kita semua mau ngapain? Bukannya kita mau membesuk?”

“Loh, memang elo enggak buka BB, Rit?”

Lalu terjawablah sudah. Rita mendengar kabar duka di tengah jalan menuju proses pelayatan. Hatinya hancur seketika. Ia menangis tak berdaya.

Tak hanya Rita yang menangis hari itu. Keluarga, dan seluruh rekan Dudung di Teater Koma bagai tersambar petir di siang bolong. Sebelumnya mereka sudah menduga, tapi saat kenyataan tiba, tetap saja tak bisa menerima. Seorang kepala keluarga, sahabat, dan pemain teater bersahaja baru saja pergi meninggalkan mereka.

Jenazah Dudung dimakamkan di TPU Mangunjawa, Tambun Selatan, Bekasi. Bersamaan dengan itu, terkubur pula sosok Sukiu, peran yang begitu melekat sepanjang hidupnya bermain seni peran. Tak ada yang menyangka, pementasan Sampek Engtay pada Maret 2013 adalah kado perpisahan Sukiu. Sebuah salam terakhir yang disampaikan dengan penuh tawa.

Harap diperhatikan baik-baik.
Carilah salju pada bulan Agustus,
otak dari ayam emas,
hati ular naga hijau dari lautan timur,
jeroan burung hong bersayap putih,
taring serigala berbulu merah, berkaki lima,
dan dua tetes air embun yang masih menempel di daun ketapang,
tepatnya jam 12 siang.
Campurkan semua itu dan godoklah di dalam panci berlian.
Atas perkenan dewa-dewa, pasti Kakak akan sembuh.
Kalau semua itu tidak bisa diperoleh,
sudah bisa dipastikan 99,99 persen pasti Kakak akan mati.

Itulah isi surat dari Engtay pada Sampek yang dibacakan Sukiu dengan terbata-bata. Saat itu Engtay seakan ingin mengatakan, butuh lebih dari sebuah keajaiban untuk mengusir ajal yang datang tepat waktu.

Begitu pula dengan Dudung. Waktunya telah tiba dan kita tak bisa berbuat apa-apa. Duka karena kehilangannya membuat kita berkabung, tapi suka akan kenangan bersamanya akan terus membawa kita membubung.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top