L’Histoire du soldat: Perang Abadi Manusia dan Iblis

Pentas tari kontemporer L’Histoire du soldat.
Pentas tari kontemporer L’Histoire du soldat. Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Yusuf Dupras kelaparan. Ia tentara miskin, tak punya uang untuk beli makanan. Untunglah ia punya biola. Di pinggir sungai, ia mainkan sebuah musik untuk alihkan duka. Dari dalam hutan, iblis tak sengaja mendengar. Iblis heran, ada tentara gemar main biola. Iblis pun mendatangi Yusuf. Ia tawar biola itu dengan harga 25 juta.

“Kalau aku serahkan biola ini, Bapak pakai buat apa? Bapak tidak bisa lapar,” kata Yusuf.

“Aku tidak bisa lapar, tapi aku sering kesepian. Aku terlalu berkuasa di hutan,” balas iblis.

Awalnya Yusuf ragu. Namun iblis menaikkan penawaran. Ia janji beri buku-buku istimewa. Ada secercah masa depan dari buku itu. Menurut sang iblis, masa depan akan tampak seiring datangnya hujan dan bulan purnama tiga hari berselang. Yusuf mengangguk setuju. Selama tiga hari ia tinggal di hutan mengajarkan iblis cara bermain biola. Setelahnya, purnama benar datang. Sayangnya, tak diiringi oleh hujan. Yusuf ditipu, tak ada masa depan yang bisa diintipnya.

Itulah kisah pembuka pentas tari kontemporer L’Histoire du soldat di Teater Salihara, Jakarta, pada 11-12 Juli 2014. Goenawan Mohamad berperan sebagai penulis naskah, sementara Gerard Mosterd jadi koreografer pertunjukan. Aktor senior Rudy Wowor bermain sebagai dalang, sementara Rury Avianti, Hendro Yulianto dan Siko Setyanto jadi penari utama.

L’Histoire du soldat awalnya ditulis oleh penulis Swiss, C.F. Ramuz, dan komposer Rusia, Igor Stravisnky, pada 1918 dengan mengadaptasi cerita rakyat Rusia berjudul The Runaway Soldier and the Devil.

Menonton pementasan ini seperti mendengarkan dongeng sebelum tidur di masa kecil, disertai imaji-imaji yang terus berseliweran di kepala. Rudy berkisah dengan nada dan tempo suara beragam untuk mengatur nuansa cerita. Sayangnya, aksen Rudy yang keturunan Belanda kerap membuat lafalnya tak jelas, walau secara umum masih bisa dimengerti.

Namun, daya tarik utama pementasan ini ada di tiga penari yang bergerak sesuai alur cerita bawaan Rudy. Misalnya kala Yusuf tengah berpikir keras menimbang tawaran iblis untuk membeli biolanya. Masuklah seorang penari dengan cara menyeret tubuh sembari bergulat keras di atas lantai. Ini seakan menunjukkan pergulatan batin dalam diri Yusuf kala itu.

Setelah pulang dari hutan, Yusuf baru menyadari kalau ia dikerjai sang iblis. Kampung halamannya telah berubah total. Tak ada kehidupan di sana. Hanya ada seorang nenek tua yang mampu beri penjelasan. Menurutnya, gunung api meletus tiga tahun lalu hingga warga mati atau mengungsi. Yusuf kaget, karena ia hanya pergi ke hutan selama tiga hari. Sebelumnya, semua baik-baik saja. Sekarang, entah di mana ibu dan kekasihnya.

Tiga penari itu kembali menari dengan magis. Membentuk siluet besar sebagai latar, mereka bergerak perlahan, penuh cekam dan sengsara. Yusuf kesal dan bingung, tapi ia tak bisa apa-apa. Ia hanya mampu berkelana mencari jejak keluarganya.

Di tengah perjalanan, Yusuf kembali bertemu dengan sang iblis. Yusuf marah dan sontak mengusirnya. Namun iblis tak hilang akal. Kali ini kota besar dijadikan bahan tawaran. Lagi-lagi, Yusuf termakan rayuan iblis.

Keserakahan membuatnya gelap mata. Tujuan utama selalu terlupa kala harta menyapa. Beberapa saat ia tinggal di kota, sebagai pemilik juga penguasa. Namun Yusuf bosan. Ia hanyut dalam sepi. Tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa. Hingga suatu hari ia melihat dua orang pengembara datang. Sepasang kekasih rupanya, saling berpeluk dan bercumbu. Penuh asmara, sesuatu yang Yusuf tak punya.

“Setan bajingan! Kau ajari aku arti kehilangan!”

Singkat cerita, Yusuf pergi meninggalkan kota. Ia terus melangkah hingga tak tahu lagi apa arti tujuannya. Sampailah Yusuf di sebuah kedai. Banyak orang di sana, tapi semua urung bicara. Ternyata iblis pernah datang ke daerah itu dan mengutuk warga karena tak mau mengikuti alunan musik dari biolanya. Biola yang dulu diberikan Yusuf padanya.

Lantas, iblis mengutuk tuan putri kerajaan jadi bisu. Bahkan darah keluar dari rahimnya. Para perempuan kabur ke hutan ketakutan. Seluruh pria lumpuh otot-otot tangannya. Yusuf mencoba menghadap untuk menyembuhkan sang putri. Yusuf berhasil, bukan karena ia lihai, tapi karena iblis ingin membuatnya jadi juru selamat. Alhasil, Yusuf jadi berutang kembali pada iblis.

Suatu malam, iblis melabrak Yusuf dengan penawaran pamungkas. Ia ingin tukar peran. Yusuf jadi iblis, iblis jadi manusia. Iblis merasa tak lagi hampa setelah bisa bermain biola. Kenapa tidak sekalian jadi manusia, pikirnya. Mereka berdua pun bermain kartu. Bila Yusuf menang, biola kembali ke tangan dan iblis pergi dari kehidupannya. Bila iblis menang, tukar peran wajib dilakukan.

Geram melihat Yusuf selalu kalah, dalang ikut campur dalam cerita yang dibawakannya sendiri. “Mas Yusuf, kamu tenang saja. Ikuti kemauan iblis, mainkan kartumu. Aku sebagai dalang cerita akan membantumu, kamu pasti menang,” katanya.

Benar saja, Yusuf menang. Iblis murka, tapi tak bisa berbuat apa-apa. “Iblis kesal karena jadi iblis adalah pekerjaan rutin, dan dia mengerjakan itu dengan sukarela. Dia ingin dimutasi, tapi Tuhan ingin stabilitas. Padahal, stabilitas itu membosankan,” tutur dalang.

Maka, penari pria masuk dengan dress jingga, sementara penari wanita hadir dengan baju hitam tanpa lengan. Mereka saling berkejaran. Musik mengalun riang, seperti melihat parodi tak berujung. Mereka lari, jatuh dan berdansa bersama. Yang mana setan dan manusia, akhirnya tak lagi bisa dibedakan.

Dalang berkesimpulan, “Sang iblis menari hingga ia hilang dalam fantasi. Tapi setan tak pernah benar-benar pergi. Tiap kali menghilang, ia selalu siap datang lagi.”

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 21 Juli 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top