Loss-Layers: Mengaburkan Batas Ilusi dan Realita

Pentas Loss-Layers oleh A.lter S.essio.
Pentas Loss-Layers oleh A.lter S.essio. Dokumentasi Komunitas Salihara.

Tingginya tak lebih menjulang dari tinggi orang dewasa Indonesia. Hanya sehelai kain tipis putih menutup tubuhnya dari bahu hingga sedikit di bawah pangkal paha. Cahaya putih berbentuk persegi melabrak dari langit-langit, seakan membentuk jeruji. Perempuan itu memberontak seakan banyak orang sedang mengunci raganya. Ia menghentak tak mau kalah. Gerakannya liar, tapi indah, dan diselingi senyum di wajah.

Musik mengalun layaknya genderang perang dengan tempo semakin cepat. Tak lama, ia menyerah dan berserah. Dari tertunduk, ia lanjut membaringkan badan dengan pasrah. Tiba-tiba, darah membercak deras di kakinya. Lantai pun perlahan penuh dengan noda merah. Sang perempuan makin kebingungan.

Itulah cuplikan pentas tari kontemporer Loss-Layers yang dibawakan A.lter S.essio di Teater Salihara, Jakarta, pada 21-22 Mei 2014. A.lter S.essio adalah grup asal Prancis yang memadukan berbagai elemen audiovisual dan instalasi dalam pementasannya. Grup ini didirikan Fabrice Planquette pada 1998. Barulah pada 2007 Yum Keiko Takayama bergabung sebagai penari utama.

Bisa dikatakan, pentas Loss-Layers adalah perpaduan antara tari dan video. Kentalnya unsur teknologi dalam pertunjukan berhasil mengaburkan batas ilusi dan realita. Suara, gambar serta gerak tubuh berkelindan jadi satu hingga menghasilkan efek magis di mata penonton.

Dalam aksinya, Yum Keiko juga memasukkan tari robot dan pantomim di berbagai adegan. Dengan teknik pencahayaan yang mumpuni, kita tak punya waktu berkedip kala menyaksikan alur yang terbangun dari awal hingga akhir.

Misalnya kala cahaya seakan membentuk aliran listrik di lantai tempatnya berpijak dan mengalir perlahan ke tubuhnya. Yum Keiko sontak menari semakin liar dan berputar dengan sangat cepat. Musik menghentak memekakkan telinga dan tiba-tiba hening seketika kala cahaya menghilang begitu saja. Senyap melabrak hingga begitu menyesakkan dada.

Saat lampu perlahan menyala, Yum Keiko telah berganti pakaian dengan dress merah pekat tanpa lengan. Posisinya mengangkang seperti sedang di tengah proses melahirkan. Ia meringis tampak begitu kesakitan. Suasana mencekam dan merajam bulu kuduk yang menyaksikannya.

Pentas ini memang benar-benar mengandalkan daya tafsir penonton. Kita seakan diajak untuk merenung dan mempertanyakan kembali makna dari keterasingan dalam kehidupan manusia yang penuh intrik.

“Karya ini mempersoalkan kembali hakikat ‘kehilangan’ (keseimbangan, akal, kendali, identitas) dalam lingkungan manusia modern yang penuh permusuhan. Seakan-akan tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di dalam dunia yang bergerak cepat,” seperti yang tertulis dalam buku pentas Loss-Layers.

Setelah melalui berbagai distraksi yang meregang hidup sehari-hari, posisi kita akhirnya tak lebih baik dari sebuah janin yang menunggu waktu untuk keluar dari rahim sang ibu. Ajal bisa menyapa kita kapan saja tanpa peringatan atau aba-aba.

Di akhir pentas, Yum Keiko terlihat melepas seluruh pakaian yang melekat di dirinya. Ia benar-benar polos dalam menghadapi dunia, bahkan tak ada rambut yang menutupi kepala. Ia pun berdiri dengan posisi sedikit membungkuk sembari menyampingi penonton. Cahaya remang-remang, dan perlahan air menetes dari atas panggung. Ia basah dan pasrah. Lagi-lagi, seperti janin yang menunggu saat kelahiran.

“Hasilnya membawa kita pada penglihatan akan semesta yang gelap dan begitu berkuasa, yang mana menarik kita pada akselerasi, aksi berlebih dan penyangkalan akan kehidupan manusia. Seorang karakter masuk dalam kehidupan, tumbuh hingga melakoni pertarungan menyedihkan berujung kehancuran,” kata penjelasan di buku pentas.

Di sini, Yum Keiko berperan sebagai penata koreografi dan kostum, sementara Planquette yang mengatur konsep, penyutradaraan hingga kreasi audiovisual. Selain itu, ada pula Matthieu Levet di bagian video dan Cecile Attagnant di seksi fotografi serta desain grafis.

Tak hanya tampil di Salihara, A.lter S.essio berkeliling Indonesia dari 15 Mei hingga 23 Juni mendatang. Ada 11 kota besar dalam rencana persinggahannya, yaitu Bali, Balikpapan, Banda Aceh, Bandung, Jakarta, Makassar, Malang, Medan, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta.

Pada akhirnya, Loss-Layers adalah medium kontemplasi bagi kita semua, tentang hidup yang harus dijalani dan makna yang terkandung dalam setiap pilihan langkah yang ada.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 2 Juni 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top