Maut yang Gegap Gempita

Pentas Nyonya Zachanassian Pulang oleh Teater Universitas Indonesia (UI).
Pentas Nyonya Zachanassian Pulang oleh Teater Universitas Indonesia (UI). Felix Jody Kinarwan.

Dulu, Gullen adalah kota kebudayaan kebanggaan Jerman. Bangunan-bangunan berdiri megah. Bahkan, penulis Johann Wolfgang von Goethe pernah menginap di sana. Namun, itu hanya kenangan indah masa lalu. Kini, kereta saja enggan untuk mampir. Tak ada warga yang mampu bayar pajak. Maka saat Claire Zachanassian, jutawan asal Gullen, memutuskan untuk pulang kampung, rakyat kota menyambut dengan gegap gempita.

Itulah sekilas kisah yang dibawakan Teater Universitas Indonesia (UI) dalam pementasan berjudul Nyonya Zachanassian Pulang di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 4 Mei 2014. Cerita yang ada diadaptasi dari naskah asli Friedrich Durrenmatt berjudul Der Besuch der alten Dame.

Para warga berharap banyak agar Claire bersedia menyumbangkan hartanya untuk membangun kembali kota tersebut. Alfred Ill, kekasih Claire di masa remaja, diandalkan untuk membujuk wanita tersebut menyisihkan harta dan belas kasihannya. Seluruh warga bahu membahu menciptakan citra pahlawan bagi Claire. Alhasil, semua kenangan kelam masa silam dikonversi jadi tindak mulia penuh keteladanan.

Namun, nyatanya Claire hadir membawa dendam. Berbagai pengalaman pahit telah membuatnya tak lagi utuh, lahir dan batin. Kecelakaan mobil dan pesawat di masa lampau memaksa Claire untuk mengenakan kaki dan tangan palsu dalam keseharian. Namun, cacat fisiknya tak sebanding dengan sakit hati yang ia pendam sejak lama.

“Kalian akan kuberikan 1 miliar dengan imbalan keadilan untukku,” tegas Claire.

Kemudian, tiba-tiba masuk satu per satu aktor masa lalu yang pernah membawa derita dan mengusir Claire dari Gullen ketika ia baru berusia 17 tahun. Claire menguak segalanya. Tentang kehamilannya dulu, tentang Alfred yang tak sudi bertanggung jawab akan benih yang ia tanam, juga tentang dua orang yang disuap untuk memberi kesaksian palsu di pengadilan hingga menutup semua pintu kebenaran.

Lalu, ia pun membawa serta hakim kepala bernama Hofer yang dulu memutuskan perkaranya di pengadilan dan memaksa Claire meneruskan hidup sebagai lonte di kota lain. Hofer sengaja dibayar mahal Claire untuk jadi pelayan pribadinya saat ini dan dibawa serta ke Gullen.

Semua telah Claire rencanakan. Gullen dan warganya akan hidup sejahtera bila ada yang bersedia menghabisi Alfred. Sebuah peti mati jua telah ia bawa untuk menjadi rumah terakhir Alfred. Warga kaget dan sontak menolak penawaran itu. “Kita adalah masyarakat Eropa yang beradab. Lebih baik kami miskin daripada berlimpahan darah,” ujar sang walikota.

Namun, penolakan yang ada hanya mentok di logika. Sementara, dalam keseharian para warga justru berlaku sebaliknya. Tiba-tiba mereka berani belanja kebutuhan sehari-hari, dari yang primer hingga tersier, dengan harga selangit. Semua didapatkan dengan berutang, entah sepatu, arak ataupun gigi emas.

Di sinilah ironi terjadi. Bahkan, sang walikota sempat menyarankan Alfred untuk bunuh diri dengan pistol agar namanya bersih dan semua senang. Akhir cerita, Alfred pun mati dengan disambut sorak sorai seluruh warga. Mereka saling berteriak meluapkan kegembiraan dengan pakaian mewah dan harapan akan imbalan kesejahteraan pasca-kematian Alfred.

Menariknya, cinta Claire pada Alfred sesungguhnya tak pernah mati. Saat tak sengaja bertemu Alfred di hutan, Claire sempat menjelaskan hal tersebut. Ia juga berniat meletakkan peti mati Alfred di Golden Apostle yang menghadap langsung ke Laut Mediterania.

“Semasa Alfred hidup, Claire tidak bisa memilikinya. Tapi ketika Alfred mati, Claire bisa memilikinya, abadi, dengan meletakkannya di sebuah hotel yang menghadap Laut Mediterania,” ujar Alfian Siagian, sutradara pementasan tersebut.

“Dari sudut pandang politis, kita terbiasa mengharapkan sesuatu yang sangat hebat, besar, kaya raya. Lalu ketika orang yang membawa kekayaan itu datang dan meminta segalanya termasuk nyawa, kita akhirnya rela menyerahkan itu,” tutur Alfian kembali.

Der Besuch der alten Dame sendiri merupakan kisah legendaris yang telah dipentaskan ulang di banyak negara. Namun, lakon versi Teater UI kali ini sayangnya tidak dibarengi detail teknis yang menawan.

Misalnya kala mereka mencoba menggambarkan kontrasnya kondisi kemiskinan warga dan kehidupan glamor Claire dengan membelah panggung jadi dua latar cerita. Di sisi kanan, Claire diceritakan sedang bersantai di atas balkon menghisap cerutu, berbincang dengan suami (yang kembali berganti) dan sebagainya. Sementara di sebelah kiri latar terus berganti dari toko kelontong Alfred, kantor polisi hingga kantor walikota.

Tempo yang ada berjalan begitu lambat dan latar yang ada begitu “seadanya”. Barang-barang dagangan di toko Alfred tak terlihat nyata dan mendetail, seperti hanya tempelan tambahan di sebuah bangunan sederhana. Sementara balkon tempat tinggal Claire juga jauh dari kesan mewah dan terlihat kosong miskin properti.

Selain itu, penggunaan cahaya di panggung juga terkesan tidak maksimal. Hal itu terlihat kala warga menari bersama dan lampu yang ada hanya dihidup-matikan di berbagai sudut. Imbasnya, kemeriahan justru urung tercipta. Nuansanya justru lebih mirip kota yang berkali-kali korsleting aliran listriknya.

Walau begitu, sorak sorai warga di akhir cerita karena kematian Alfred berhasil mengingatkan kita akan sebuah kemeriahan semu. Gullen, justru semakin mati setelah kepulangan Claire.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 12 Mei 2014.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top