Musikal Sekolahan: Meriah dan Klise

Pentas Musikal Sekolahan.
Pentas Musikal Sekolahan. Sumber: jktmovein.com.

Jakarta Movement of Inspiration menyelenggarakan drama musikal berjudul Musikal Sekolahan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 16-17 Agustus 2014. Pentas berlangsung meriah; kuat dari sisi musik tapi lemah dalam keaktorannya.

Musikal Sekolahan berkisah soal Dhea, gadis yatim piatu yang berusaha mengejar mimpi bersama teman-temannya di sekolah. Bila yang lain ingin jadi pengacara, tentara, perancang busana, atau juru masak, Dhea punya mimpi besar untuk menjadi penyanyi papan atas.

Pentas ini melibatkan banyak unsur seni, dari akting, tari hingga musik. Ada sekiranya 185 orang yang terlibat dalam produksi.

Walau begitu, cerita yang dibawakan klise soal kehidupan anak SMA yang berkelompok dalam keseharian. Yang populer kurang pandai secara akademis. Para siswi mengenakan seragam ketat dengan rok tinggi di atas lutut, sementara para siswa bajunya terkesan berantakan dengan dasi menjuntai ke mana-mana.

Seperti kerap ditampilkan sinetron-sinetron televisi Tanah Air, para murid kutu buku selalu duduk di depan dan mengenakan seragam dengan garis pinggang terlalu tinggi atau ikat dasi terlampau ketat. Bedanya, para murid pandai dalam kisah ini yang jadi antagonisnya.

Dhea dan kawan-kawan pun akhirnya berhasil meraih mimpi setelah menjadi grup musik favorit dalam sebuah perlombaan. Inggrida, guru yang sebelumnya selalu menghukum dan memarahi mereka kemudian luluh memberi dukungannya.

Dari segi teatrikal, Dhea dan kawan-kawan terlihat seperti sedang melakoni drama mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Pada beberapa bagian suara aktor kerap hilang tak terdengar, sementara dialog diucapkan cepat dengan lafal yang tak jelas. Namun, semua terobati ketika mereka telah bernyanyi.

Latar panggung pun terkesan seadanya. Satu set digunakan untuk seluruh adegan; bangunan dengan tiang-tiang besar berlantai dua. Saat masuk adegan sekolah, papan nama “SMA Swara Bangsa” akan turun dari langit-langit panggung. Ketika proses belajar-mengajar di dalam kelas pun latarnya serupa; terlihat seakan para siswa sedang belajar di tengah halaman sekolah.

Beda lagi halnya ketika Dhea sedang mengirim pesan singkat melalui telepon selularnya. Ia akan bermonolog di sebelah kiri atas panggung, dan tiba-tiba muncul kotak persegi panjang dari kayu dengan tempelan rerumputan di sekelilingnya. Entah maksudnya apa.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top