Nuk dan Tari Sekar Puri

Sekar Puri unjuk gigi.
Sekar Puri unjuk gigi. Dokumentasi Sekar Puri.

Ada banyak kelompok tari tradisional di Indonesia, tapi Sekar Puri berbeda. Kelompok Sekar Puri beranggotakan 20 perempuan yang kebanyakan berstatus ibu muda. Yang menarik, para anggotanya adalah keluarga para politisi Indonesia. Mereka punya hasrat tinggi mengangkat budaya Tanah Air.

Pada 2010, Yani Arifin meminta Nuk Sri Lestari untuk mengajarkan tari Jawa kepada anak-anak dari keluarganya. Selama setahun berlatih di bawah asuhan Nuk, mereka mengalami kemajuan pesat. Kebetulan Yani, anak sulung mendiang Bustanil Arifin—dikenal sebagai kepala Badan Urusan Logistik era pemerintahan Soeharto—saat itu tengah mempersiapkan pesta ulang tahun sang ayah ke-85. Anak-anak dan beberapa cucu Bustanil diminta untuk menampilkan pentas tari.

“Saat itu saya diminta untuk melatih anak-cucu Pak Bustanil dari nol. Mereka semua sama sekali tidak bisa menari sebelumnya. Ada yang senang dan bersemangat ikut latihan, tapi ada juga yang tidak senang dan ikut karena terpaksa. Lalu setelah dipentaskan di acara ulang tahun Pak Bustanil, ternyata mereka merasa senang dan ketagihan untuk menari lagi,” ujar Nuk yang sudah berusia 60 tahun.

Sayangnya, karena beberapa anak dan cucu Bustanil bersekolah ke luar negeri, latihan tak bisa dilanjutkan. Namun, Yani tetap bersemangat untuk mengumpulkan rekan-rekan yang tertarik mempelajari tari Jawa. Latihan terus berjalan seperti biasa setiap Jumat siang.

“Ternyata setelah itu, para ibu-ibu tersebut banyak mengajak anak-anak atau kerabatnya yang lebih muda, kebanyakan usianya 25-30 tahun. Ya, usia ibu-ibu muda. Merekalah yang akhirnya membentuk Sekar Puri,” ujar Nuk kembali.

Sejak itu Nuk membagi waktu mengajarnya di hari Jumat menjadi dua sesi. Pukul 10.00 hingga 13.00 ia mengajar kelompok Sekar Puri, sementara pukul 14.00 hingga kira-kira 16.30 ia melatih kelompok ibu-ibu yang lebih senior.

Anggota Sekar Puri termasuk di antaranya Sarah Arifin (menantu Yani), Gendis Siti Hatmanti Wicaksono (cucu mantan presiden Soeharto), Mulan Kwik (putri ekonom Kwik Kian Gie), Ayu (putri dari seniman Deddy Sutomo), dan Wulan Guritno.

Mereka belajar bermacam tari Jawa seperti tari Bedoyo, tari Serimpi, tari Batik, tari Sekar Puri dan tari Suko Retno. Sebelum mengajarkan pelbagai tarian itu, Nuk melatih mereka dengan tari Rantoyo sebagai dasarnya. Alasan Nuk, “Kalau tari Rantoyo mereka sudah kuat, ke depannya akan lebih mapan dan lebih cepat mendalami.”

Selama lebih dari dua tahun mengajar Sekar Puri, Nuk selalu menekankan soal pentingnya komitmen dan disiplin waktu. Selain itu, ia pun senang bila sedari awal para anggota memiliki niat besar untuk belajar serta aktif mencari tahu atau bertanya tentang apa yang tak dimengerti.

Hingga saat ini Sekar Puri telah beberapa kali diundang dalam pelbagai acara. Mereka juga kerap membuka acara-acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Wayang Orang Bharata. Pada Desember 2013 hingga awal Januari 2014, misalnya, mereka pentas tari di Amerika Serikat bersama sekolah Al-Izhar.

Banyak manfaat yang dirasakan para anggotanya sejak mendalami dunia tari. Bila dulu terkesan abai pada kebudayaan Nusantara, sekarang mereka menjadi jauh lebih menghargai. Selain itu mereka juga belajar mendalami roso (rasa) dalam setiap gerakan tari. Mereka bisa merasakan irama dan bekerja sama dengan baik satu sama lain.

“Buat saya sendiri, menari bisa membuat saya lebih tenang secara spiritual, seperti beribadah saja. Saya kan sehari-hari memang mengajar tari. Jadi, kalau sehari saja tidak membuka tarian, seperti merasa ada yang kurang. Seperti salat lima waktu, kalau bolong satu saja rasanya berdosa,” ujar Nuk.

Banyak pengalaman menarik yang dirasakan Nuk selama melatih Sekar Puri. “Awalnya mereka itu merasa risih saat harus menari menggunakan setagen. Katanya jadi sesak dan capek. Tapi, lama-lama setelah terbiasa, justru kalau tidak menggunakan itu, mereka jadi risih sendiri. Senang rasanya melihat mereka semua yang belajar dari nol hingga lihai saat ini.”

Nuk mengatakan bahwa tarian yang paling sulit untuk diajarkan kepada anak-anak didiknya adalah tari Suko Retno. Ini karena tarian tersebut memiliki ragam gerak yang berlimpah, irama yang beragam, serta durasi yang panjang.

Saat ini Nuk sibuk mengajar tari dari hari ke hari. Selain mengajar Sekar Puri di rumah keluarga mendiang Bustanil Arifin di Kebayoran Baru, ia juga melatih kelompok tari Padneswara pada Minggu, Jawa Jawi Java tiap Sabtu pagi, dan Widyarini pada Sabtu sore. Tari memang telah merasuki jiwanya begitu rupa karena ia sendiri lahir dari keluarga besar seorang penari.

“Saya menari dari kecil. Ibu, Bapak, dan Eyang saya itu guru tari semua. Kalau Eyang saya guru tari di Keraton Solo. Saya mulai berlatih tari sejak berumur 5 tahun di rumah karena sering ngeliat orang latihan di rumah. Rumah saya dulu itu kan di belakang Keraton Solo. Jadi karena lingkungan keraton, saya harus bisa menari. Saya pun belajar dari Eyang dan Ibu soal disiplin ketat yang akhirnya saya terapkan pada murid-murid saya saat ini.”

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 10 Maret 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top