Odyssey ala The Paper Cinema: Animasi yang Menghanyutkan

Pentas Odyssey oleh The Paper Cinema.
Pentas Odyssey oleh The Paper Cinema.

Telemachus terlihat begitu gundah. Sudah 20 tahun ayahnya, Odysseus, hilang tanpa jejak. Kenangan masa kecil bersama sang ayah terus terngiang dalam benak, terbagi dalam kelebat memori yang berlalu lalang tanpa henti.

Tiba-tiba, perhatian penonton teralih pada sosok Hazel Mills di pojok kanan panggung. Dengan posisi layaknya polisi mengangkat pistol ke udara, pianis asal Inggris ini menyalakan mesin bor paku di tangannya. Suara yang tercipta akhirnya selaras mengiringi adegan gundah Telemachus yang tayang secara live lewat proyektor di atas panggung.

Tak lama, muncul memori para pelamar yang digambarkan sebagai kumpulan serigala sedang mengepung Penelope, istri Odysseus, di rumahnya sendiri. Musik dengan suasana mencekam pun mengalun perlahan di telinga penonton, mengakhiri bagian pertama dari pertunjukan Odyssey yang dibawakan grup The Paper Cinema asal Inggris di Teater Salihara, Jakarta.

The Paper Cinema didapuk untuk membuka Helateater Salihara 2014 bertema “Sastra Manggung” yang berlangsung sepanjang akhir pekan Maret-April tahun ini. Tepatnya, mereka tampil pada 7-8 Maret, membawakan tafsiran ulang kisah klasik Odyssey karya Homer. Nicholas Rawling dan Imogen Charleston berperan sebagai dalang. Selain itu, terdapat pula tiga musisi dalam diri Christopher Reed, Katherine Mann – atau akrab disapa Quinta – dan Mills.

Kelompok ini memadukan animasi dan musik yang disajikan secara langsung di depan sebuah kamera video dan diproyeksikan ke layar besar. Odyssey sendiri telah beberapa kali mereka mainkan di sejumlah tempat dan acara, seperti Edinburgh Fringe Festival, Battersea Arts Centre (London), Warwick Arts Centre (Coventry), Salisbury Arts Centre (Salisbury), The North Wall Arts Centre (Oxford) dan Norwich Playhouse (Norwich).

The Paper Cinema yang terbentuk pada 2004 mencoba membawakan Odyssey dalam dua bagian. Pertama, soal hilangnya Odysseus tanpa jejak usai terjun dalam Perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun lamanya. Kedua, perihal waktu 10 tahun pasca-perang yang dibutuhkan Odysseus untuk pulang kembali ke Ithaca, tempat istri dan anaknya tinggal.

Di bagian kedua tersebut, dikisahkan bahwa Odysseus harus melewati pelbagai rintangan terjal untuk dapat menemukan kembali jalan pulangnya. Salah satunya adalah masa tujuh tahun di Pulau Ogygia milik Calypso. Calypso yang jatuh cinta pada Odysseus harus mendapati kenyataan bahwa pria tersebut selalu menolaknya di berbagai kesempatan.

Odysseus baru bisa meninggalkan pulau tersebut setelah seorang kakek buyutnya – yang dikirim oleh Zeus atas permohonan Athena – memohon pada Calypso untuk melepaskannya. Lalu, Odysseus membuat sebuah rakit serta diberikan pakaian dan minuman oleh Calypso agar bisa pulang ke Ithaca.

Singkat cerita, Odysseus harus terdampar kembali di Pulau Cyclops Si Mata Satu dan menghindari kejaran Poseidon yang gusar padanya. Berkat bantuan Phaeacians, ia bisa pulang ke Ithaca dan bertemu dengan sang anak Telemachus. Bekerja sama dengan anak dan istrinya, Odysseus berhasil membunuh 108 pelamar yang telah lama berpesta pora di rumahnya dengan alasan sedang dalam proses pendekatan untuk melamar Penelope.

Akhirnya, Odysseus bisa bereuni bersama keluarganya dan hidup bahagia. Pertemuan kembali antara Odysseus dan Penelope digambarkan dengan sebuah animasi berwarna dalam sebuah rumah di pinggir pantai. Itu adalah satu-satunya gambar berwarna yang digunakan The Paper Cinema dalam pertunjukan. Lebih lanjut, Odysseus dan Telemachus juga digambarkan saling melepas rindu saat duduk berdua di atas genteng rumah yang diiringi alunan musik country.

Seluruh kisah yang ada terangkum dalam kombinasi pertunjukan waktu aktual (real time) antara animasi dan musik. Usai pertunjukan, Rawling mengatakan bahwa terdapat sekitar 300-400 gambar yang digunakan dalam prosesnya. Sementara itu, butuh waktu kira-kira lebih dari dua tahun untuk proses persiapan sebelum The Paper Cinema maju ke atas panggung mementaskannya.

Kemudian, aspek visual dan audio tak bisa dibicarakan secara terpisah begitu saja karena saling berkaitan satu sama lainnya.

“Pertunjukan ini menggabungkan aspek visual dan musikal sehingga mereka bisa hidup bersama. Maka hubungan antara keduanya sangatlah erat,” ujar Rawling kembali.

“(Dalam prosesnya), musisi akan memperhatikan tanda atau isyarat dari kami saat bermain dan begitu juga sebaliknya. Anda tidak bisa menukarnya. Anda tidak bisa hanya meminta musisi mengikuti kami atau kami hanya mengikuti tanda dari musisi. Hal ini bergabung menjadi satu dalam proses pengembangannya.”

Peran musisi memang tidak bisa dikecilkan begitu saja dalam proses membangun suasana dan nuansa. Misalnya saja ketika Odysseus terdampar sendirian di pinggir laut, bunyi derit kayu hadir dari gerakan microphone stand yang digoyang berulang-ulang oleh musisi.

Mereka pun saling membantu di tengah pertunjukan. Seperti saat Reed sempat ikut menjadi dalang bekerja sama dengan Rawling dan Charleston memainkan gambar di depan kamera. Selain itu, permainan cahaya yang beberapa kali dilakukan Charleston dengan tangannya membuat gambar yang dihasilkan proyektor menjadi blur dan menciptakan efek magis.

Tak hanya itu, Rawling dan Charleston kerap memadukan gambar-gambar yang ada di tangan mereka untuk mendapatkan sudut pandang tertentu di dalam bingkai kamera. Seperti saat Charleston memegang gambar rumah dengan bolongan berbentuk persegi sebagai jendela di tengahnya. Lalu, Rawling meletakkan gambar Odysseus, Penelope dan Telemachus kecil di dalam rumah tepat di belakang jendela tersebut sehingga penonton seperti sungguh sedang mengintip dari luar rumahnya.

Mills mengakui bahwa salah satu elemen terpenting dalam pertunjukan The Paper Cinema adalah aspek kehidupan itu sendiri, saat mereka menampilkannya secara langsung di depan ratusan mata penonton. Namun, semua aspek yang ada sesungguhnya bisa berkelindan menjadi sebuah kesatuan utuh karena mereka mencoba untuk selalu bersenang-senang di atas panggung sehingga penonton bisa terhibur dengan sendirinya.

“Malam ini sungguh menyenangkan. Kami berhasil bekerja sama dengan baik dan penonton yang ada sungguh brilian. Kami sungguh terpengaruh oleh respon penonton malam ini. Kalian sungguh brilian,” ujar Mills setelah pertunjukan hari kedua.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top