Panggung Pesta Anak-anak

Festival Teater Anak 2014.
Festival Teater Anak 2014. Andrey Gromico.

Tantangan bagi anak untuk bertahan dalam pergaulan sosial dewasa ini lebih besar. Perkembangan teknologi jadi pisau bermata dua: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Di saat seperti ini, teater bisa jadi solusi.

Teater adalah salah satu medium tumbuh kembang kreativitas anak. Di sana mereka dapat berkumpul dan bermain bersama, mencari kenaifan yang perlahan hilang terkikis perkembangan zaman.

Ini diakui sendiri oleh Edi Haryono, anggota Bengkel Teater bentukan W.S. Rendra. “Dalam teater, anak-anak bisa melatih kemampuan bertahan hidup bersama teman-teman sebayanya. Sekarang kecenderungannya anak-anak lebih suka bermain sendiri dengan gadget-nya, hingga kesulitan untuk bekerja sama atau bersaing di dunia luar,” kata Edi.

Karena itu, Edi bersedia jadi salah satu juri dalam Festival Teater Anak yang berlangsung pada 2-7 September 2014 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain Edi, ada pula aktor senior Harry de Fretes dan pendongeng Agus Fatah yang ikut memberi penilaian. Total ada 26 teater dari wilayah Jabodetabek yang jadi peserta. Dari sana akan dipilih tiga teater terbaik dan satu teater favorit di akhir acara.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Teater Jakarta untuk mengadakan festival ini setiap tahun sekali. Tak hanya pentas teater, ada pula berbagai perlombaan bagi anak berusia maksimal 14 tahun, dari baca puisi, tari, menggambar dan mewarnai, lukis serta dongeng.

“Soal kualitas permainan anak-anak itu nomor sekian. Yang penting mereka bisa tampil dengan berani dan benar-benar menikmati. Karena akting anak-anak itu adalah buah kejujuran di atas panggung,” kata Hamdi, wakil ketua panitia penyelenggara festival ini.

Ini bisa kita lihat dari penampilan Teater Sakura di hari pertama acara. Teater dari SMPK Bala Keselamatan, Jakarta, ini membawakan naskah berjudul Aku Rapopo. Kisah yang diusung sederhana. Ia menyoal perseteruan yang terjadi antara siswa bernama Kendil dan Tengul.

Kendil adalah murid baru di sekolahnya. Walau begitu, teman-teman langsung memilihnya jadi ketua regu jelang persiapan lomba gerak jalan. Tengul merasa tidak senang karena sebelumnya dia telah mentraktir minum anak-anak saat semua sedang kehausan sehabis bermain bersama. Ia merasa telah berjasa dan lebih berhak jadi ketua regu.

“Ada ubi ada talas, ada budi ada balas,” kata Tengul.

Kendil pun semakin lama kian tertekan. Tengul kerap menghardik atau mengancamnya karena berani mengambil jabatan ketua regu. Sementara di sisi lain, Kendil juga sedih menghadapi kenyataan bahwa sepatunya telah rusak parah. Ada bolong besar di sepatu kanan yang telah ditambal berlapis-lapis. Namun, Kendil tak punya uang untuk beli sepatu baru dan ia ragu meminta bantuan teman-temannya.

Dengan licik, Tengul berusaha menghasut teman-teman lain dengan mengatakan bahwa Kendil adalah pencuri uang kas kelas. Padahal, Tengul adalah pelakunya sendiri. Singkat cerita, kebohongan itu terbongkar. Tengul minta maaf dan Kendil menceritakan masalah yang dihadapinya. Teman-teman dengan senang hati ingin membantu tanpa pamrih.

Anak-anak Teater Sakura bermain dengan lepas di atas panggung. Keceriaan mereka membuat kisah ini begitu segar disaksikan seluruh penonton yang ada di sana. Tak hanya itu, teater lain juga membawakan kisah beragam nan inspiratif.

Salah satunya adalah Lab’s Teater dari SMP Labschool yang membawakan pentas Kilau Mutiara di Usia Senja. Kisahnya berkutat soal perjuangan delapan pemulung yang ingin bersekolah di tengah segala keterbatasan biaya. Untungnya mereka bertemu dengan seorang guru yang mau membimbing dan mendorong mereka ikut lomba musik. Dari sanalah semangat mereka kembali membubung.

“Dengan ikut teater, anak-anak ini bisa unjuk gigi mengeluarkan potensinya. Banyak orangtua yang terkejut karena di rumah anaknya cenderung pendiam, tapi ternyata bisa bermain lepas di atas panggung,” kata Anantyo Bimo Suseno, pembina kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolah tersebut.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 8 September 2014.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top