Panggung Teater dari Sisi Musisi

Proses latihan musisi Teater Koma.
Proses latihan musisi Teater Koma. Dokumentasi Teater Koma.

Awalnya semua berjalan lancar. Kaisar Li Si Bin sedang melontarkan dialognya dan, seharusnya, musik akan masuk mengiringi sesaat kemudian. Para musisi, termasuk salah satunya Fero Aldiansya Stefanus (26), segera bersiap diri. Tiba-tiba kondisi berubah gelap, pekat. Hening sesaat menyelimuti sebelum seluruh penonton menyadari bahwa listrik gedung pertunjukan mati. Fero panik luar biasa.

Saat itu adalah malam ke-24 pentas Sie Jin Kwie di Negeri Sihir yang dibawakan Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sepanjang Maret 2012. Sudah 23 malam terlewati tanpa kendala berarti, maka wajar bila para pemain dan musisi kaget dengan apa yang terjadi. Berkeringat dingin, mereka tak tahu harus berbuat apa.

Untung saja beberapa penonton berinisiatif untuk memberikan sedikit penerangan lewat cahaya dari telepon genggamnya. Li Si Bin pun melanjutkan kembali dialognya. Sementara para musisi langsung berdiskusi dengan suara berbisik soal apa yang harus dilakukan untuk mengakali situasi.

“Masalahnya, tak sampai lima menit lagi setelah dialog Li Si Bin, musik harus segera masuk. Tapi alat musik yang digunakan hampir semuanya memerlukan listrik. Kita benar-benar enggak tahu harus bagaimana,” ujar Fero.

Untungnya, sang kaisar berhasil mencairkan suasana dengan beberapa improvisasi dialognya. Jatah bicaranya pun jadi molor hingga kira-kira 15 menit. Di tengah dialog, lampu sontak menyala kembali. Rasa lega langsung menyergap Fero dan kawan-kawan.

Itulah perbedaan mendasar musisi teater dengan musisi lainnya. Mereka terikat dengan jalan cerita dan harus bisa masuk di saat yang tepat, entah untuk memberi ilustrasi atau menggarisbawahi sebuah adegan.

“Sering ada salah persepsi soal peran musisi dalam produksi drama musikal dan teater. Di drama musikal, musik hanya sebatas berperan mengiringi mereka yang ada di panggung. Tapi pada umumnya kalau di teater, musik itu menjadi satu bagian, bukan hanya pelengkap. Kita bersama-sama menggarap konsep dan kebutuhan musiknya seperti apa dari awal dengan yang lainnya,” ujar Fero.

Selain itu, musik yang ada dalam pementasan teater bisa berbentuk dialog yang dinyanyikan. Maksudnya, para musisi berperan sebagai pengiring dialog yang dilontarkan dengan nada oleh pemain di atas panggung.

Fero sendiri telah bergabung dengan Teater Koma sejak pertengahan 2006. Kebetulan, saat itu Teater Koma membutuhkan seorang pemain trompet untuk bermain dalam pentas Kunjungan Cinta di awal 2007. Beberapa anggota teater tersebut pernah melatih sekolah Fero, Kolese Kanisius, untuk persiapan sebuah drama musikal sehingga telah mengetahui kemampuan musiknya.

Alhasil, Fero kecanduan bermain sebagai musisi teater hingga saat ini. Bahkan, pada November 2010 ia mendapat kepercayaan untuk pertama kalinya sebagai music director pentas Rumah Pasir di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta.

Menurut Fero, secara umum proses produksi musik teater berlangsung selama kurang lebih enam bulan lamanya. Sebelum mulai mencipta lagu, seluruh tim produksi, termasuk musisi, diminta untuk mempelajari naskah yang akan dibawakan dalam pentas. Kemudian, masing-masing koordinator divisi akan mencari referensi dan mendiskusikan konsep besar pementasan selama satu bulan.

Setelahnya, barulah masing-masing divisi mulai berjalan sendiri. Di sini, tim musik akan mengumpulkan orang, mencari alat musik yang dibutuhkan dan membuat lagu. Sekitar dua bulan sebelum pentas, penyesuaian pun dilakukan antara musisi dan aktor yang ada.

“Pernah dulu kita harus membuat hampir 30 lagu untuk sebuah pementasan. Apalagi Teater Koma kan biasa membawakan naskah berdurasi panjang, bisa sekitar empat jam. Tapi ada juga naskah yang sama sekali enggak butuh musik, seperti pentas Tanda Cinta yang dimainkan cuma oleh dua orang. Jadi ya tergantung kebutuhan naskahnya saja,” kata Fero.

Dalam produksi teater, sutradara, pemain dan musisi memang berada di bawah satu payung naskah. Namun, tetap sutradara memiliki porsi lebih dalam proses diskusi kreatif pra-produksi. Hal senada juga diungkapkan Dira Nararyya (21), musisi Teater KataK dari Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

“Biasanya di awal itu kita diskusi dulu dengan sutradara, dia maunya lagu seperti apa dan di adegan bagaimana. Lalu baru dibuat lagunya dengan mempertimbangkan beberapa aspek, seperti nuansa di sebuah adegan yang sedang berlangsung dan latar belakang cerita yang dibawakan,” ujar Dira.

“Misalnya, dulu saat Teater KataK membawakan naskah Dokter Gadungan hasil adaptasi karya sastrawan Prancis, Moliere, saya riset dulu biasanya musik di Prancis itu seperti apa. Di situ, saya coba untuk pakai akordeon karena sesuai dengan latar ceritanya.”

Namun, setelah seluruh musik siap dan melewati proses panjang latihan berbulan-bulan pun perubahan masih bisa terjadi di tengah jalan. Fero mengakui, bahkan saat pementasan telah berlangsung selama belasan hari, penambahan di detail-detail tertentu masih mungkin dilakukan. Misalnya pemberian sound effect di beberapa dialog untuk menggarisbawahi adegan. Itulah yang membuatnya urung jenuh bermain musik dalam pentas teater.

Memang, apresiasi terhadap musisi kerap kalah besar dengan yang didapat para pemain atau sutradara teater. Namun, kerja keras yang dilakukan tidak kalah beratnya. Menilai sebuah pementasan tanpa memperhitungkan musisi, rasanya sama saja dengan mengagumi sebuah makanan tanpa menghiraukan bumbu masaknya.

Karena asam manis sebuah pementasan juga tergantung pada kualitas musisi di dalamnya.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 14 Juli 2014.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top