Pulau Burung: Bukan Tempat Sampah Berjemaah

Pulau Burung di Serang, Banten.

Pada 1-3 Agustus 2014, saya berwisata ke wilayah Banten bersama dua kawan: Felix Jody Kinarwan dan As Safa Prasodjo. Di sana, kami mampir ke beberapa daerah, salah satunya Pulau Dua/Pulau Burung di Kecamatan Kasemen, Serang, tepatnya tiga mil laut di sebelah timur Pelabuhan Karangantu dengan luas 30 hektar.

Pulau Burung merupakan cagar alam yang jadi lokasi transit ratusan hingga ribuan burung yang biasanya bermigrasi pada April hingga Agustus. Burung itu berasal dari berbagai daerah, entah benua Asia, Australia maupun Afrika. Untuk mencapai ke pulau itu, kita bisa berjalan kaki dari daerah Sawah Luhur.

Dalam perjalanannya, kami menyusuri pinggir tambak ikan di jalan setapak sejauh kira-kira dua kilometer. Suasananya menyenangkan. Beberapa burung kerap bersembunyi di tengah alang-alang dan sontak terbang tinggi ketika ada manusia mendekati. Saat senja, cahaya jingga berkelindan di angkasa. Pantulan matahari di atas air pun mengiringi di sekeliling sudut pandang.

Sayangnya, Pulau Burung sendiri seperti pahlawan sekarat yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Lingkungan di sekitar hutannya kotor. Sampah berserakan di mana-mana, dari sepatu, sandal, botol hingga tas. Saat saya datang, burung juga sedang jarang mampir ke sana. Di pinggir pantai, nyamuk bertebaran ganas dan tak akan pergi dengan hanya sebuah tebasan tangan.

Bisa dikatakan, pulau ini cocok bagi peneliti, kunjungan ramai wisatawan penasaran atau warga lokal yang nekat pacaran. Namun untuk tempat pelarian pribadi atau kunjungan berkala mencari sepi, rasanya Pulau Burung bukan pilihan ideal. Lebih baik tak usah datang sama sekali bila cuma singgah sesaat untuk merokok dan membuang sampah.

Kamera: iPhone 5.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top