Refleksi Setahun Pandemi

Ilustrasi pandemi Covid-19.
Ilustrasi pandemi Covid-19. Alexandra_Koch/Pixabay.

Pandemi Covid-19 baru berlangsung kira-kira setahun. Namun, bila sekarang saya coba mengingat kembali kehidupan prapandemi, ia terasa begitu jauh dan asing. Virus korona sialan ini benar-benar mengubrak-abrik cara saya memahami dan menjalani hidup.

Sepanjang 2019, saya masih menjalani rutinitas sebagai wartawan Bloomberg News, kantor berita asal Amerika Serikat. Setiap hari saya pergi liputan ke berbagai tempat berbeda, entah ke Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Istana Negara, atau hotel-hotel tempat berlangsungnya seminar atau konferensi pers. Di tempat liputan, saya dan para wartawan lain yang hadir akan anteng mendengarkan dan mencatat omongan narasumber, saling membandingkan catatan untuk mengecek akurasi, lalu sama-sama mencegat dan mewawancarai narasumber setelah acara usai. Pada hari-hari tertentu, saya bakal melakukan reportase lapangan sendirian atau menemui dan mewawancarai seorang narasumber secara eksklusif sesuai dengan kebutuhan tulisan yang sedang dikerjakan.

Di sela-sela kesibukan sebagai wartawan, saya masih menyempatkan diri untuk menggarap sebuah pertunjukan teater. Saya menulis naskah berjudul Sang Netizen, mengumpulkan teman-teman yang bersedia menjadi pemain dan kru, memimpin latihan setiap akhir pekan selama dua bulan, dan mementaskan lakon tersebut di kafe Paviliun 28 di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2019. Kami berusaha mengangkat keriuhan yang kerap diciptakan warganet yang terhormat di berbagai media sosial ke dunia nyata. Banyak pemain yang sengaja ditempatkan di area penonton dan “mengganggu” aksi aktor di panggung dengan berbagai celetukan sok tahu dan makian kasar. Para penonton pun akhirnya terpancing untuk ikut terlibat. Hasilnya benar-benar rusuh dan menyenangkan.

Saat tak ada urusan teater di akhir pekan, saya akan menghabiskan waktu di rumah saja, jalan dengan pasangan, atau berkumpul dengan kawan-kawan lama dari masa perkuliahan di Tangerang. Selalu seperti itu, hingga saya memutuskan untuk mundur dari Bloomberg pada akhir 2019 untuk beralih menjadi pekerja lepas.

Alasan saya pindah haluan sederhana saja. Saya ingin punya waktu lebih banyak untuk mengerjakan hal-hal yang saya suka atau yang selama ini selalu tertunda. Saya mau membuat situs pribadi, mencari beasiswa untuk S2, menulis lebih banyak soal teater dan sepak bola, menggarap pentas teater, dan bahkan belajar main gitar. Saya punya tabungan yang cukup dan percaya diri bisa mendapatkan berbagai pekerjaan lepas untuk menghidupi diri. Masalahnya cuma satu. Saya, seperti banyak orang lainnya, tak pernah menduga bahwa pandemi akan datang.

Pandemi terasa berat karena ia menegasikan pertemuan-pertemuan fisik dalam kehidupan kita yang sangat komunal. Sejak pandemi menerjang, aktivitas liputan jadi ajang pertaruhan nyawa. Semua akan berlomba menghujat lembaga atau kementerian yang memfasilitasi keramaian dengan mengadakan konferensi pers secara fisik dan kantor media yang masih mengirimkan wartawannya ke acara tersebut. Orang-orang secara umum enggan berkumpul di tempat publik. Tiba-tiba saja, ide untuk berdesakan menonton konser serta berbagi ruang di bioskop, gedung pertunjukan teater, atau kafe yang padat jadi terdengar sangat konyol.

Semua diminta berdiam saja di rumah masing-masing. Banyak orang yang punya privilese untuk melakukannya. Namun, banyak pula yang tidak bisa dan memang harus pergi mencari nafkah. Bila pilihannya adalah mati kelaparan di rumah atau mati disergap virus di jalan, orang-orang cenderung memilih yang terakhir. Lebih baik mati setelah berusaha terlebih dahulu.

Mulanya, saya cukup bersyukur dengan pilihan untuk menjadi pekerja lepas sesaat sebelum pandemi datang. Setidaknya, saya tidak perlu pergi liputan setiap hari dan menemui banyak orang yang entah membawa virus atau tidak. Apalagi, pada awal 2020 kantor-kantor media masih mewajibkan para wartawannya untuk ke lapangan.

Jalan saya sebagai pekerja lepas pun seperti dilancarkan. Tiga hari sebelum saya resmi mundur dari Bloomberg, saya mendapat tawaran untuk menjadi kontributor The Wall Street Journal (WSJ) gara-gara rekomendasi seorang teman. Koran bisnis asal Amerika Serikat ini belum lama menutup kantor cabangnya di Jakarta dan saat itu tengah mencari pekerja lepas untuk membantu meliput isu-isu yang terkait Indonesia. Sebagai kontributor, saya tidak bisa mengajukan ide liputan sendiri, harus selalu siap kapan saja WSJ memanggil dan memberi pekerjaan, serta bakal dibayar per proyek liputan. Tidak masalah. Saya terima tawaran itu.

Pada 13 Januari 2020, saya menemani seorang wartawan WSJ mewawancarai bos sebuah kawasan industri di Indonesia yang terkenal banyak menggunakan tenaga kerja asing asal Cina. Wawancara berlangsung selama satu setengah jam. Semua berjalan lancar. Saya yang seharusnya membantu menerjemahkan omongan si narasumber pun malah jadi menganggur karena ternyata ia cukup fasih menjawab seluruh pertanyaan dengan bahasa Inggris.

Beberapa hari setelah wawancara itu, tiba-tiba saya merasa tidak enak badan. Saya batuk-batuk dan tenggorokan terasa sakit saat menelan makanan. Saya kira, itu sakit radang tenggorokan biasa. Sebagai perokok, saya memang rutin mengalami radang tenggorokan setiap beberapa bulan sekali. Namun, kali ini rasanya lebih buruk dari biasanya.

Saya menyambangi klinik dekat rumah pada 18 Januari 2020 dan mendapatkan obat antibiotik. Selama seminggu setelahnya, saya coba banyak beristirahat sembari menghabiskan obat dari dokter. Namun, batuk saya justru kian parah. Di saat-saat terburuk, napas saya pendek dan dada terasa sangat sesak.

Saya datangi lagi klinik yang sama. Dokter yang berbeda kembali memberi obat antibiotik, yang lantas saya habiskan dalam waktu kira-kira seminggu. Tak ada perubahan berarti. Saya frustrasi.

Entah bagaimana, pada akhir minggu pertama Februari saya sembuh dengan sendirinya. Batuk dan sakit tenggorokan mendadak raib begitu saja. Saya ingat, pada 8 Februari 2020 saya pergi menemani (mantan) pacar kondangan dan saat itu saya sudah merasa bugar.

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Dua minggu berselang, di grup-grup WhatsApp wartawan beredar foto surat yang menyatakan bahwa istri dari narasumber yang saya wawancara pada Januari telah meninggal. Diduga kuat, ia wafat karena Covid-19.

Saya tidak bisa mengonfirmasi kebenaran informasi ini. Namun, saya jadi kepikiran soal apa yang saya alami setelah wawancara itu. Mungkinkah saya telah terjangkit virus korona jauh sebelum dua kasus resmi diumumkan oleh pemerintah? Tidak ada yang tahu. Apalagi, pada Januari 2020 pandemi Covid-19 belum “hit” di Indonesia. Saya pun saat itu tidak menjalani tes mendetail untuk mengetahui apa yang terjadi di tubuh saya. Yang pasti, tiba-tiba saya sembuh pada awal Februari.

Namun saya ingat, saat sedang batuk-batuk parah, saya sempat mampir ke sebuah mal di Tangerang dan menghabiskan waktu berjam-jam di satu kafe untuk menulis. Saat saya tengah asyik menulis, lewat dua kawan lama saya. Kami mengobrol sebentar, sebelum mereka lanjut berkeliling mal tersebut. Belakangan, mereka baru cerita bahwa tak lama setelah bertemu saya, ternyata mereka bergantian mengalami meriang. Sekarang, setiap kali bertemu, kami selalu mentertawakan kejadian tersebut sambil bertanya-tanya, apa benar kami secara tak sengaja sudah jadi penyintas Covid-19?

Selain menggarap proyek liputan WSJ, saya juga sempat menulis untuk JobStreet Indonesia. Pada 21 Februari 2020, tiba-tiba saya mendapat telepon dari staf JobStreet. Ia sedang mencari dua penulis untuk mengerjakan laporan hasil survei soal faktor-faktor yang memengaruhi ketertarikan para pencari kerja di 25 industri berbeda. Ia menemukan profil beserta kontak saya di JobStreet dan segera menghubungi karena merasa cocok. Saya merasa beruntung sekali. Lagi-lagi, kerjaan datang menghampiri tanpa harus dicari.

Saya menyelesaikan seluruh pekerjaan dari JobStreet pada 7 April 2020. Di hari yang sama, Kementerian Kesehatan secara resmi menyetujui penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. Bisa dikatakan, pada titik inilah rentetan kesialan saya dimulai.

Sejak PSBB pertama diluncurkan, saya kesulitan mendapat pekerjaan. Saya rasa ini terkait erat dengan pandemi yang sukses menghajar perekonomian nasional. Banyak perusahaan mesti mengencangkan ikat pinggang, termasuk dengan memecat sebagian besar karyawannya, agar bisa tetap bertahan menghindari kebangkrutan. Imbasnya, mereka jadi sangat selektif dalam merekrut pekerja lepas. Di sisi lain, para pekerja lepas pun berlomba membanting harga.

Saya sama sekali tidak memiliki pemasukan selama kurang lebih enam bulan. Saat periode “kemarau” itu, sejumlah calon klien memang sempat menghubungi, tapi cuma untuk “basa-basi”. Ada kawan yang mengajak saya mengerjakan company profile sebuah perusahaan migas, tapi menghilang setelah menanyakan harga. Ada perusahaan tambang yang menawarkan pekerjaan menjadi penerjemah lisan, tapi batal di saat-saat akhir. Ada media daring yang minta saya mengerjakan advertorial, tapi menghilang setelah memberikan pengarahan singkat. Ada media daring lainnya yang mencari penulis konten. Saya melamar. Mereka oke, minta saya mengirimkan KTP, bilang akan menghubungi kembali, dan lantas menghilang.

Untuk urusan menghilang, para calon klien ini mungkin lebih lihai dari Harry Houdini.

Walau tak ada pemasukan, saya coba tetap produktif dengan mengerjakan proyek-proyek pribadi. Sesuai rencana, saya berhasil membuat sendiri dari nol sebuah situs pribadi untuk menampung seluruh karya saya, entah dalam bentuk tulisan ataupun foto. Saya menulis profil Jurgen Klopp, pelatih sepak bola jenius yang berhasil membawa Liverpool kembali menjuarai Liga Inggris setelah puasa gelar selama 30 tahun, sepanjang 9.000 kata. Saya puas sekali karena terakhir saya mengerjakan longform adalah saat menulis profil seniman teater Putu Wijaya sepanjang 4.000 kata pada akhir 2015.

Selain itu, saya sempat berkolaborasi dengan lokakarya seni pertunjukan Danada dalam membuat video solilokui tentang refleksi pribadi selama pandemi. Saya pun mengikuti kursus gitar secara daring, walau hingga kini tak kunjung mahir karena malas latihan. Lalu, saya mencoba peruntungan dengan mengikuti beberapa lomba menulis dan mengirimkan aplikasi beasiswa untuk S2 ke sejumlah lembaga.

Oktober 2020 jadi titik balik kehidupan profesional dan personal saya. Mulanya, seorang teman merekomendasikan saya untuk mengerjakan naskah video animasi Bank Dunia. Setelahnya, tiga kawan lain secara beruntun juga merekomendasikan saya untuk menggarap tiga proyek berbeda. Pertama, tulisan panjang soal cerita di balik layar pentas virtual Teater Garasi. Kedua, terjemahan bahasa Inggris dari siaran pers sebuah perusahaan tambang. Ketiga, buku panduan untuk guru seni teater kelas 6 SD. Pada Januari 2021, WSJ pun memanggil saya kembali untuk membantu liputan soal kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dan gempa bumi di Sulawesi Barat. Mendadak, saya jadi kebanjiran pekerjaan.

Di sisi lain, hubungan saya dengan pasangan memburuk hingga kami berpisah pada awal November 2020. Tak lama kemudian, badai Covid-19 menerjang keluarga besar saya.

Pada Desember 2020, kakak sulung mama saya terjangkit Covid-19 dan meninggal dunia. Ia menyusul popo, atau nenek dari pihak mama, yang telah pergi duluan lima bulan sebelumnya. Pada awal Januari 2021, giliran papa, kakak, dan keponakan saya yang dihajar virus korona. Papa, yang gejalanya paling parah, terpaksa dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Tangerang, sementara kakak dan keponakan saya masih bisa menjalani isolasi mandiri di rumah. Setelah ketiganya pulih pada akhir Januari, dua kakak mama pun positif Covid-19 dan lantas wafat pada Februari.

Pandemi benar-benar menguras emosi saya. Saya memasuki kalender pandemi sebagai mantan wartawan media asing yang terbiasa memiliki kebebasan finansial dan sering kali dicari narasumber untuk kebutuhan pemberitaan. Lalu saya kehilangan pemasukan dan merasa tak lagi relevan. Saya menghadapi setumpuk penolakan dan perpisahan.

Semua itu toh akhirnya membuat saya belajar. Saya jadi paham, saat berada di titik terendah, satu-satunya jalan yang tersisa adalah jalan ke atas. Dan yang akan menemani kita ke atas adalah keluarga dan teman-teman terdekat. Mereka yang patut kita jaga dan peluk erat-erat.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top