Revolution: Bahasa Jiwa Dalam Tarian

Pentas tari Revolution.
Pentas tari Revolution. Witjak Widhi Cahya/Komunitas Salihara.

Martha Graham, penari asal Amerika Serikat, suatu hari pernah berujar, “Tari adalah bahasa jiwa yang tersembunyi.”

Rasanya ucapan Martha ada benarnya. Terutama bila kita menyaksikan pentas tari Revolution karya penata gerak asal Prancis, Olivier Dubois. Acara ini terlaksana atas kerja sama Institut Français d’Indonésie dan Komunitas Salihara pada 2-3 Oktober 2014 di Teater Salihara, Jakarta. Selama kurang lebih dua jam, kita akan terbawa pada drama panjang penuh emosi dari 11 penari dalam pentas ini.

Sebelum acara dimulai, masing-masing penonton mendapat pamflet berisi kilas info pementasan. Tak ada penjabaran berlebih soal jenis tarian yang akan disuguhkan. Hanya ada rekam jejak Dubois yang disebut telah menampilkan pentas tunggal tari sejak 1999. Ia juga kerap berkolaborasi dengan para penari lain serta pernah meraih Special Jury Prize pada 2007 dari Asosiasi Kritikus Teater, Musik dan Tari Prancis.

Menarik melihat pandangan Dubois soal pentas kali ini. “Bagi para penonton, ini adalah soal berbagi kisah petualangan yang panjang, menyakitkan dan penuh pertentangan,” katanya.

Acara seperti apa yang sebenarnya akan disajikan?

Selewat tiga kali tabuhan gong, pentas resmi dimulai pada pukul 08.15 malam WIB. Panggung remang. Terlihat samar 11 tiang besi berdiri kokoh di berbagai sudut. Perlahan, para wanita berpakaian hitam berjalan masuk mengambil posisi. Tangan kanan mereka menggenggam erat tiang masing-masing. Lalu mereka mulai berjalan mengitarinya searah jarum jam. Suara (mirip) genderang perang mengalun sayup melatari. Perjalanan telah dimulai.

Selama kira-kira 20 menit ke depan, adegan terus berlangsung seperti itu. Para wanita itu terus berjalan memutar dengan irama sama. Konsistensi dan konsentrasinya luar biasa. Penonton mulai bingung menunggu kelanjutan aksi. “Kok aku jadi ikut pusing ya,” kata seorang perempuan di kursi penonton.

Raut wajah para penari itu begitu tenang. Ketika kita melihat dari sudut pandang lebih luas, adegan ini terasa seperti pengembaraan, pencarian panjang akan sesuatu yang belum kita mengerti. Masing-masing berjalan dengan gaya dan karakternya masing-masing. Ada yang anggun, gagah, lembut, kaku dan sebagainya.

Perlahan sekali, cahaya yang menyinari semakin terang. Semua terasa semakin kasat, dari warna kulit hingga postur tubuhnya. Tak lama kemudian, iramanya mulai berantakan. Beberapa penari sengaja berjalan melambat sepersekian detik, sementara yang lain tetap pada tempo awal. Mereka bergantian melakukannya hingga semua kembali seirama.

Tepat selewat setengah jam, semua serentak melaju dengan tempo tak terprediksi. Melambat, lalu sontak makin cepat. Mundur selangkah, maju kembali dengan terarah. Kerja sama dan perhitungan waktunya begitu presisi.

Cahaya kian terang, gerakan mereka juga makin bervariasi. Ada yang membekukan diri sejenak, menghentak sangar, memutar lincah, dan lainnya. Semua bertumpu pada tiang yang jadi fondasi pergerakan. Sekilas tarian mereka seperti memadukan beragam unsur genre, dari balet hingga dansa klasik.

Selewat satu jam, gerakan mereka tak jua mengendur. Keringat mulai membanjiri wajah masing-masing. Namun mereka tetap lugas sembari coba mengatur napas. Suara genderang semakin kencang.

Di tengah proses ini, penonton seakan diajak ikut serta mengembara bersama. Lelah, sakit dan bosan senantiasa ada di sana. Namun semua tak rela untuk beranjak begitu saja. Setiap gerakan yang terulang justru kian anggun dan tajam.

Menjelang akhir, alunan musik kerajaan masuk layaknya sebuah pengantar kemenangan perang. Mereka pun serentak berhenti bergerak dengan kedua tangan mendekap tiang serta wajah tertunduk lelah.

Hening sesaat, lalu tiba-tiba penonton buncah bersorak hingga serak. Mereka bertepuk tangan konstan selama lima menit penuh. Sementara itu, raut wajah para penari yang ada begitu lega. Ada yang menangis haru, ada yang terkejut tak percaya. Semua campur aduk jadi satu.

Media asal Prancis, Télérama Sortir, sempat memberikan ulasannya soal pentas ini: “Lucu, misterius dan menakjubkan adalah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.”

Dari sana kita bisa mengerti, perjalanan selalu membawa drama dan enigma. Asal kita melaluinya bersama, semua tak akan terasa sia-sia.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 13 Oktober 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top