Sayang Ada Kebenaran Lain

Pentas Sayang Ada Orang Lain oleh Teater Pagupon.
Pentas Sayang Ada Orang Lain oleh Teater Pagupon. Viriya Singgih.

Apa itu kebenaran? Memangnya siapa yang benar? Bagaimana yang salah?

Toh selama ini kebenaran hanyalah bentuk konsensus; kesepakatan temporer yang berlaku di tengah masyarakat pada suatu era. Karena itu kala kebenaran dimonopoli satu pihak saja, yang ada hanya kekacauan.

Indonesia di era Orde Baru pernah jadi peserta monopoli kebenaran. Sejak awal Soeharto berkuasa sebagai presiden, segala hal yang berkaitan dengan komunisme disingkirkan dari Tanah Air. Melalui Ketetapan MPRS No. 25/1966, Partai Komunis Indonesia dibubarkan karena ajaran komunisme dianggap bertentangan dengan Pancasila.

Lebih lanjut, G30S 1965 pun dianggap sebagai sebuah gerakan subversif yang haram eksistensinya. Karena itu, para anggota PKI dan simpatisannya juga terjerat UU No. 11/1963 tentang pemberantasan kegiatan subversi. Tak terhitung jumlah korban jiwa yang muncul akibatnya.

Alhasil, Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berada di bawah naungan PKI juga kena imbasnya. Banyak seniman Lekra yang harus jadi tahanan politik atau bahkan kabur ke luar negeri. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Hersri Setiawan, dan Utuy Tatang Sontani. Karena itu, Utuy yang lahir di Cianjur pada 1 Mei 1920 pun mesti tutup usia di Moskow, Rusia, pada 17 September 1979.

Namun, karya-karya mereka terus “berbicara” lintas generasi. Pada 26 Mei 2015, Teater Pagupon mengangkat kembali salah satu naskah lawas Utuy yang berjudul Sayang Ada Orang Lain. Naskah itu pertama dibuat pada 1954. Setelah lebih dari setengah abad, kisahnya tetap relevan untuk diperbincangkan dengan konteks kekinian.

Kisah ini menyoal kehidupan pasangan suami-istri dari kelas menengah ke bawah, Suminta dan Mini. Impitan ekonomi memaksa mereka berutang sana-sini. Gaji sang suami, Suminta, sebagai buruh tak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Menurut kalkulasi kasarnya, gajinya hanya bisa membiayai perut selama 10 hari dalam sebulan. Sisa 20 hari lainnya harus diakali dengan berutang atau menjual barang-barang pribadi; misalnya sepeda milik Suminta.

Walau begitu, Suminta dan Mini terlihat tetap mampu menjaga keharmonisannya. “Bagi kami, lima tahun kawin sama dengan lima hari kawin,” kata Mini.

Namun, semua berubah kala Mini pergi dari rumah dan Suminta kedatangan serentetan tamu tak terduga. Dari tukang panci, tukang jamu, tukang sayur, sampai ibu kontrakan datang mencari Mini untuk menagih utang. Belum lagi dengan kehadiran Bu Haji Salim yang sangat agamais tapi gemar bergosip sepanjang hari.

Dengan tergopoh, Bu Haji Salim segera melaporkan apa yang baru saja dilihatnya pada Suminta. Katanya, ia melihat Mini berada dalam mobil sedang menciumi seorang pria asing. Tak hanya itu, dua kawan akrab Suminta, Hamid dan Badrun, juga duduk di kursi depan. Mulanya Suminta tak percaya, tapi Bu Haji Salim begitu bernafsu mencoba meyakinkannya. “Demi Allah!”

Bu Haji Salim melaporkan perbuatan Mini pada Suminta.
Bu Haji Salim melaporkan perbuatan Mini pada Suminta. Viriya Singgih.

Menghancurkan Dinding Keempat
Sastrawan sekaligus sutradara teater asal Jerman, Bertolt Brecht, sempat menjabarkan teorinya soal efek alienasi. Ini terjadi kala para pemain berlakon seolah-olah tak ada dinding keempat yang membatasi mereka dengan penonton. Panggung proscenium berbentuk bingkai yang biasa digunakan dalam pentas teater memang memiliki tiga dinding penutup di sekeliling dan satu dinding imajiner yang memberi jarak serta batasan jelas pada penonton. Di sini, dinding keempat merujuk pada dinding imajiner tersebut.

Ada kalanya dinding keempat sengaja “dijebol” melalui interaksi langsung pada penonton ataupun dialog absurd akan permainan di atas panggung. Misalnya saat Teater KataK mementaskan Kebun Ceri pada 23 Mei 2015. Saat itu, Adhimukti Prabhawa yang berperan sebagai Ephikodov mendadak turun dari panggung dan berjalan melewati penonton. Sebelum keluar dari ruang pentas, ia menghancurkan dinding keempat dengan berteriak, “Semangat ya yang di atas panggung!”

Dengan begitu, penonton diasingkan dari penerimaan pasif akan isi pertunjukan. Mereka diajak untuk berpikir kritis serta masuk dalam kerangka pikir analitisnya sendiri. Para pemain di atas panggung bukan lagi liyan yang tak tersentuh.

Pada pentas Sayang Ada Orang Lain, dinding keempat dihancurkan kala seorang tukang obat kuat bernama Johny muncul dari tengah kerumunan penonton yang memadati Auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Saat itu, Johny sontak menawarkan barang dagangannya pada para penonton di sekitar. “Barang siapa tak bisa berdiri?!”

Johny membuka lapak obat kuat.
Johny membuka lapak obat kuat. Viriya Singgih.

Lalu, empat ibu-ibu majelis taklim pun muncul dari arah penonton menyusul Johny yang telah naik ke atas panggung dan membuka lapak di depan rumah Suminta. Mereka datang dengan heboh, membandingkan ibadah yang satu dengan yang lain, kemudian terperanjat gembira melihat Johny dan barang-barang dagangannya. Bu Haji Salim termasuk di antaranya dan segera saja mencari obat penyubur dan obat pelemah syahwat untuk ia dan sang suami.

Tak hanya itu, Teater Pagupon menggunakan tiga jendela gantung untuh menambah aksen rumah dalam setnya. Tata cahaya yang kurang pas berulang kali menimpa jendela-jendela itu sehingga bayangan acak menerpa wajah para pemain. Namun di sisi lain, penonton seakan dibuat sedang mengintip dari luar rumah melalui jendela yang ada untuk menyaksikan liku-liku kehidupan Suminta dan Mini. Mereka jadi penonton aktif dalam pementasan itu. Dinding imajiner pun kembali rubuh seketika.

Penonton dapat mengintip kehidupan Suminta dan Mini melalui jendela gantung.
Penonton dapat mengintip kehidupan Suminta dan Mini melalui jendela gantung. Viriya Singgih.

Menyoal Kebenaran
Suminta yang naik pitam mendengar laporan Bu Haji Salim akan kelakuan sang istri di luar rumah sontak tak bisa tenang. Setelah Mini pulang, ia segera melakukan konfrontasi. Suminta ngamuk membanting makanan yang dibawa Mini, sementara sang istri hanya bisa terisak tak berdaya.

Keadaan semakin kacau setelah Hamid, Badrun, dan Bu Haji Salim datang. Masing-masing kubu punya versi kebenarannya sendiri. Menurut Hamid dan Badrun, Suminta bagai barang mati yang tak berbuat apa-apa dalam keadaan ekonomi sulit. Mini hanya berusaha mencari uang tambahan untuk menyelamatkan keluarga dari keterpurukan, walau mesti menabrak norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Dosa yang kerap dibawa-bawa dalam persoalan, sesungguhnya hanyalah jamur yang tumbuh subur dalam pikiran.

Sementara itu, Bu Haji Salim bersikeras melihat kejadian ini dari sudut pandang ajaran Islam. Menurutnya, Mini pantas dihukum karena telah berzina dengan pria lain. Tindakannya itu tak dapat dimaafkan dan sungguh memalukan.

“Memangnya agama Islam dan seluruh umatnya pernah berbuat apa untuk membantu saya?” ujar Mini menanggapi ocehan Bu Haji Salim.

“Memang sayang, Mini. Sayang ada orang lain dengan kebenaran lain,” kata Suminta tenggelam dalam kesedihan.

Alhasil, masing-masing punya kebenaran yang salah bagi pihak lainnya. Semakin runcing perdebatan, kian dalam Suminta terjebak dalam dilema. “Aku jadi tidak mengerti, sebenarnya mana yang penghasut?”

Dengan berat hati, Suminta memutuskan untuk pergi. Lalu terdengarlah suara azan magrib mengiringi. Tak diduga, Suminta kembali ke dalam rumah, memeluk Mini dan menusuknya hingga mati.

Tragedi di akhir kisah.
Tragedi di akhir kisah. Viriya Singgih.

Tak ada kompromi. Saat kebenaran tak bisa mencapai kesepakatan, nyatanya yang ada hanyalah pembinasaan.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top