Sederhana ala Jose Rizal Manua

Jose Rizal Manua di toko bukunya di Taman Ismail Marzuki.
Jose Rizal Manua di toko bukunya di Taman Ismail Marzuki. Felix Jody Kinarwan.

Pukul 16.20 WIB, 1 April 2014. Jose Rizal Manua baru saja selesai mandi. Kira-kira dua jam lagi anak-anak akan segera datang menemuinya. Sembari menunggu, ia merebahkan diri sejenak di dua kursi yang terjejer di depan toko buku bekasnya. Mengenakan kemeja lengan panjang merah, celana bahan dan sepatu hitam, Jose terlihat begitu menikmati waktu sorenya.

Dengan rambut panjang beruban yang terkuncir rapi, Jose terlihat begitu letih, dan damai di saat bersamaan. Tak lama, ia tertidur dengan anak kucing meringkuk santai di atas pangkuan tangannya. Tak ada yang berani mengganggu, atau sekadar mengusik kesederhanaannya kala itu.

Setengah jam sebelum azan maghrib, Jose telah hilang dari kursi malasnya tersebut. Ternyata, ia sedang berkutat di dalam toko, entah sekadar membaca buku, mencatat harga atau menulis di komputer jinjingnya. Hidupnya sehari-hari memang ia habiskan di tempat tersebut. Tenggelam dalam buku, hanyut di tengah pusaran jendela ilmu.

Selain buku, teaterlah yang bisa memberinya begitu banyak candu. Kira-kira pukul 18.30 WIB datanglah anak-anak Teater Tanah Air asuhannya. Jose pun segera meletakkan kursi di seberang teras Graha Bhakti Budaya dan meminta mereka mulai berkumpul dan melakukan pemanasan. Fokusnya segera teralih dari tumpukan buku ke kumpulan bocah tersebut.

Anak-anak itu sedang berlatih untuk mementaskan naskah Zero di Gedung Kesenian Jakarta pada 11 April 2014. Latihan berlangsung sederhana, dan hanya diiringi musik dari komputer jinjing di pojok teras. Namun prosesnya dilakukan begitu serius. Bahkan, istri Jose sampai harus menegur anak-anak yang ada karena dianggap tak serius dan kelewat banyak bercanda.

Naskah yang sama sebelumnya telah membawa Teater Tanah Air meraih predikat “Best Performance” di Festival Teater Anak Dunia di India, pada Desember 2013. Namun, Jose tetap ingin menjaga keseriusan. Tiada kesan meremehkan dalam setiap detail proses latihan.

Mungkin hal inilah yang mendorong kesuksesan hadir secara konstan bagi Teater Tanah Air. Sejak berdiri pada 1988 lalu, teater tersebut telah empat kali menjadi yang terbaik di dunia: pada 2004 di Jepang, 2006 di Jerman, 2008 di Rusia dan yang teraktual di India pada 2013 lalu. Atas segala prestasi internasionalnya tersebut, Teater Tanah Air bahkan diundang untuk tampil di markas besar PBB di Eropa pada 2008 silam.

Semua itu hadir dari keteguhan sosok Jose dalam membimbing anak-anaknya selama ini. Kemudian, ia sendiri kerap memberi kebebasan pada para anak didiknya untuk mengeksplorasi diri.

“Saat melatih anak-anak, kita harus masuk ke jiwa mereka. Jadi, tidak bisa kita mengintervensi mereka. Kadang-kadang, apa yang ada di imajinasi anak-anak itu berbeda sekali dengan kita, dan bisa saja lebih kaya dibanding apa yang kita bayangkan. Karena banyak sekali hal yang tak terduga dari anak-anak,” jelas Jose.

“Dengan begitu, kita melatih mereka juga untuk bersosialisasi satu sama lain karena mereka dibiarkan untuk melakukan improvisasi sendiri. Soalnya, anak-anak sekarang kan individual sekali.”

Padahal, bisa dikatakan tidak ada latar belakang seni dalam keluarga besar Jose sendiri. Ia lahir pada 1954 di Padang, kemudian pindah ke Kalimantan Utara pada 1959 karena kewajiban dinas sang ayah sebagai tentara. Pada 1966, atau tepatnya saat Jose menginjak bangku kelas 3 SD, ia kembali bermigrasi ke Jakarta dan menetap hingga kini.

Pendidikan yang ditempuh pun berlawanan dengan pilihan kariernya saat ini. Setelah lulus SD, Jose mengambil sekolah teknik di jenjang SMP dan SMA, dan baru berbelok arah ketika masuk ke Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di masa kuliah. Ia pun sempat melanjutkan pendidikan S2 untuk konsentrasi perfilman di Institut Seni Indonesia, Solo.

“Namun, sebelum masuk IKJ saya sudah menggeluti teater dan belajar dari Putu Wijaya dan juga W.S. Rendra. Paling berkesan adalah saat saya ikut Bengkel Teater Rendra karena bisa ikut pertunjukan ke Jepang, Korea dan Amerika,” ujar Jose.

Keikutsertaan Jose di Bengkel Teater pulalah yang membawanya pada ide untuk membuka toko buku bekas di Jakarta.

“Jadi, awalnya saya memang senang mengoleksi buku. Buku di rumah itu banyak sekali saya koleksi kira-kira dari 1974. Lalu, pada 1988 itu saya diajak Rendra ikut pertunjukan di Broadway, Amerika. Nah, di Broadway itu saya lihat, di setiap satu kilometer jalanannya ada secondhand bookstore. Menurut saya itu luar biasa karena saya bisa membeli buku-buku murah yang saya cuma pernah tahu judulnya saja selama ini, dari buku teater, film, sastra dan lainnya,” tutur Jose.

“Saat pulang ke Jakarta, saya ngomong sama Gubernur Jakarta Soerjadi Soedirdja bahwa di Indonesia ini perlu ada secondhand bookstore. Gubernur setuju, saya pun bikin desain dan pilih tempat ini sebagai lokasinya. Lalu dinas kebudayaan membangun dan membuka tempat ini. Jadi ini sebenarnya aset Pemda.”

Maka, dibukalah toko buku bekas di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki sejak 28 April 1996 lalu. Mulanya, buku-buku yang dijual hanya berkisar pada genre seni dan budaya. Namun dalam perkembangannya, Jose mendapat permintaan dari para kenalannya untuk menambah jenis buku yang ada.

Alhasil, kini telah terdapat kurang lebih 10.000 buku di toko buku tersebut yang terbagi dalam beberapa seksi: novel dan cerpen, budaya dan sastra, film dan teater, politik dan sejarah dan sebagainya. Koleksi yang ada kebanyakan didapat dari hasil pencarian Jose sendiri di berbagai tempat dan daerah. Namun, kerja sama juga terjalin dengan penerbit Yayasan Obor serta Horison dengan sistem bagi hasil.

“Kita juga punya langganan yang suka beli buku dari Jerman, Inggris, Singapura, Malaysia, Jepang, Australia. Mungkin mereka pernah mendengar soal keberadaan toko buku ini. Bahkan, buku kami pernah diborong oleh perpustakaan dari Inggris,” ujar Jose.

Selain itu, Jose juga saat ini menyibukkan diri dengan mengajar di IKJ, khususnya untuk mata kuliah yang berhubungan dengan film dan teater. Ia juga masih rajin menulis puisi dan bahkan sedang mempersiapkan sebuah buku untuk diterbitkan dalam jangka waktu ke depan.

Teater Tanah Air asuhan Jose pun mengusung tema yang merepresentasikan kehidupannya kini, yaitu merenung seperti gunung, bergerak seperti ombak.

“Artinya, walau kita diam tapi kita juga harus tetap aktif di dalam. Seperti gunung, kelihatannya diam tapi sebenarnya dia merenung. Di dalamnya ada magma, lava dan lainnya, ada gejolak di situ. Lalu bergerak seperti ombak, maksudnya kalau dia belum mencapai pesisir, dia belum akan berhenti. Kalau kita punya keinginan, kita harus tuntaskan, jangan berhenti di tengah jalan,” ujar Jose kembali.

Dengan prinsip inilah Jose menjalani hidupnya. Bahkan, ketika teaternya kekurangan dana untuk tampil di Festival Teater Anak Dunia di Jepang pada 2004 lalu, jalan akhirnya terbuka dengan sendirinya saat ia berusaha semaksimal mungkin.

Saat itu Jose tidak mendapat satupun dukungan dana dari sponsor di Indonesia. Pemerintah pun tidak berminat untuk menyalurkan bantuan. Akhirnya, Jose mengirim surat secara resmi ke pihak panitia penyelenggara di Jepang dan mereka bersedia untuk menanggung seluruh biaya yang diperlukan. Indonesia akhirnya menjadi satu-satunya negara yang mendapat perlakuan khusus tersebut.

Maka, banyak hal yang bisa kita pelajari dari sosok Jose. Kesederhanaannya dalam menjalani hidup selalu berbalut kerja keras tiada henti. Lantas, jalan pun akan terbuka lebar bagi ia yang tak mudah berputus asa.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top