Sekilas Jody

Felix Jody Kinarwan di Jakarta Contemporary Artspace.
Felix Jody Kinarwan di Jakarta Contemporary Artspace. Viriya Singgih.

Selama kira-kira empat tahun saya mengenalnya, Felix Jody Kinarwan identik dengan rambut gondrong. Biasanya, ia hanya potong rambut setahun sekali. Itu terjadi kala ia pulang kampung ke Batam, menyempatkan diri singgah ke tukang pangkas langganan.

Namun Jody urung melakukan “ritual” itu kala pulang ke Batam akhir September 2014. Saat saya tanya kenapa, ia menjawab, “Tukangnya udah meninggal, Bro.”

Selama ini, Jody memang orang yang sakelek akan pilihan dan jalannya. Iya berarti iya, tidak berarti tidak. Bila orang lain bisa menerima, ya bagus. Bila tidak, ya sudah.

Hal itu sudah terlihat sejak awal saya mengenalnya pada pertengahan 2010, tepatnya pada semester 4 masa perkuliahan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang. Sepanjang semester, gayanya selalu sama tiap kali berjumpa: apa pun bajunya, mesti ada jaket cokelat tua yang sudah luntur warnanya jadi pelapis terluar.

Felix Jody Kinarwan dengan salah satu jaket andalannya.
Felix Jody Kinarwan dengan salah satu jaket andalannya. Viriya Singgih.

Sesungguhnya ia punya dua model jaket berbeda. Jaket lainnya berwarna hitam polos. Namun, ternyata ia bergantian mengenakan kedua jaket itu masing-masing tiap satu semester penuh. Kebiasaan itu baru mulai berubah sekiranya pada semester akhir masa perkuliahan. Kala itu Jody mulai mengenal kemeja flanel atau kemeja Eiger lengan panjang dalam cara berpakaian sehari-hari.

Namun, kini rasanya seperti déjà vu. Sejak diwisuda pada akhir 2013, saya dan Jody sama-sama memulai karier sebagai jurnalis di media baru bernama GeoTimes. Saya reporter, sementara Jody jadi fotografer.

Pada awal Juni 2014, kami dikirim kantor untuk dinas ke Papua. Sebelum berangkat, Jody membeli sebuah jaket hitam anti-air keluaran Eiger (lagi). Sejak itu, sehari-hari ia hampir selalu mengenakannya saat bepergian ke luar rumah, entah liputan, cari makan, atau sekadar mengedit foto di kantor.

Penggunaan jaket sebagai perlengkapan wajib rasanya berkorelasi dengan kurangnya daya tahan Jody terhadap udara dingin. Badannya memang kurus tinggi tanpa lemak berlebih. Sering kali ketika menginap di rumah saya atau di kontrakan teman kampus, ia menggigil dan mampet hidungnya karena setelan pengatur suhu yang terlampau dingin di pagi buta.

Pernah pula saya dan teman lain singgah ke tempat kos Jody. Di dalam kamar, saya merasa udaranya panas betul.

“Lo nyalain AC enggak sih, Jod?”

“Nyalain, kok.”

Ketika saya lihat remote pengaturnya, ternyata Jody hanya menyetel suhu di angka 28 derajat celcius.

“Pantas aja. Gedein lah, Jod, AC-nya.”

Jody terpaksa menurut dan menaikkan suhu jadi 27 derajat celcius.

Kepribadiannya yang santai dan cenderung pendiam memang jadi ciri khas tersendiri. Ia tak banyak bicara, tapi kerap “menampar” sekalinya bersuara. Saya ingat betul, dalam salah satu tulisan di blog pribadinya Jody berujar, “Kita selalu berguru pada hidup yang selalu bergurau.”

Selain itu, sebagai fotografer gambar jepretannya justru kerap lebih banyak berbicara. Saya ingat kata-kata seorang redaktur foto The Jakarta Globe soal Jody. Kala itu kebetulan kami sama-sama bekerja magang di sana pada rentang Juli-September 2012.

“Jody itu sudah bisa membuat objek foto berubah jadi subjek yang bercerita sendiri pada pembacanya,” kata sang redaktur.

Felix Jody Kinarwan sedang mengambil gambar.
Felix Jody Kinarwan sedang mengambil gambar. Viriya Singgih.

Tak hanya itu, gaya Jody yang spontan juga kerap memancing tawa orang-orang sekitar. Misalnya saja kala saya, Jody dan Dominiko menyambangi tempat kos Raff di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Saat itu setidaknya sudah pukul 10 malam. Niatnya, kami ingin kumpul santai; sekadar nongkrong di warung terdekat sembari bertukar obrolan melepas penat.

Lalu tiba-tiba telepon genggam Jody berbunyi.

“Oh gitu, oke gue anterin,” kata Jody dengan nada datar.

Saya dan teman-teman pun bertanya siapa yang menelepon.

“Ini si Miko (rekan kantor), kunci motornya kebawa gue.”

Sontak kami tertawa mendengar ucapan polos Jody. Alhasil, ia langsung berangkat kembali ke kantor di daerah Menteng, Jakarta Pusat, mengantarkan kunci sepeda motor Miko yang terselip di jaket Eiger-nya itu.

Lalu saya pun teringat salah satu cuitnya di media sosial Twitter beberapa waktu lalu.

“Tak perlu siap-siap. Kita tak pernah siap.”

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top