Suara Pascasuara Teater Garasi

Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi.
Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi. Niki Vlahov.

Teater Garasi baru saja membawakan pertunjukan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA) pada 23-24 Juni 2015 di Auditorium PKKH Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mereka mengklaim, ini adalah hasil penelusuran lebih jauh atas ledakan “suara” atau “narasi” di Indonesia setelah 1998, atau usai tumbangnya rezim Orde Baru Soeharto. Dari sana, bisa dikatakan YFaWKA adalah perjalanan reflektif mengenai kisah-kisah post factum dari sebuah rezim yang dibangun di atas lautan darah manusia.

YFaWKA adalah versi lebih lengkap dari pertunjukan Sehabis Suara yang dibawakan Teater Garasi pada 26 Maret 2014 di Erasmus Huis, Jakarta, sebagai bagian dari acara penyerahan Prince Claus Award 2013 oleh duta besar Kerajaan Belanda. Teater Garasi mendapat penghargaan ini atas jasa mereka merangsang pertumbuhan seni pertunjukan di Asia Tenggara. YFaWKA menggabungkan unsur teater dan tari kontemporer. Yudi Ahmad Tajudin jadi sutradaranya.

Sedari awal, kita bisa melihat sosok perempuan berkostum (mirip) Po, salah satu tokoh di acara televisi anak-anak Teletubbies, hadir dalam pertunjukan. Ia bergerak seperti robot di antara beberapa pemain yang sedang menari di atas panggung. Tak lama, masuklah seseorang menyemprotkan asap pekat hingga mengaburkan pandangan penonton. Setelahnya, perempuan itu melepaskan kostum merahnya dan meletakkannya di tengah panggung. Seorang pria masuk menenteng kepala Po, mengambil kostum itu, dan memakainya seketika. Berbeda dengan Po di Teletubbies yang memiliki antena berbentuk seperti tongkat untuk membuat gelembung balon dari sabun, Po dalam YFaWKA justru berambut mohawk merah.

Orang-orang lalu lalang di atas panggung. Ada pria berpantomim seolah sedang memegang bahu seseorang di depannya, sementara Po asyik menari hip-hop. Tak lama, pria yang sama terlihat membawa sesuatu yang mirip sepotong paha ayam mentah raksasa. Di sisi lain, pria lain masuk bersama wanita bule yang kemudian berjoget riang dengan tempo cepat. Semua terlihat sibuk. Hingga kemudian darah menetes deras di kiri dan kanan panggung. Seseorang mencoba mengepel, membersihkan lantai dari genangan darah. Namun nodanya justru kian melebar ke sekitar.

“Tahun 1967. Hari itu dua tentara menjemput kakek saya. Hanya ada nenek dan ayah saya di sana. Dengan cepat keduanya tahu apa yang harus dilakukan. Ayah saya segera mengungsikan adik-adiknya kepada enam keluarga dengan hubungan darah yang jauh, untuk menjadi anak angkat atau pembantu. Sedangkan ayah saya, anak pertama, tinggal bersama adiknya yang paling bungsu di rumah seseorang yang telah dianggap saudara oleh kakek saya. Butuh waktu tujuh tahun bagi keluarga ayah saya untuk bisa berkumpul kembali sebagai keluarga yang utuh. Kecuali kakek saya. Ia tak pernah kembali sejak saat itu.”

Kita tahu, setelah tragedi 1965, Indonesia bergejolak luar biasa. Pembantaian terjadi di mana-mana pada mereka yang dituduh terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak terhitung jumlah korban jiwa yang muncul karenanya. Selain itu, banyak pula yang jadi tahanan politik atau menerima hukuman sosial panjang dengan dikucilkan dari pergaulan. Orang-orang keturunan Cina pun ikut kena imbasnya karena digeneralisasi sebagai komunis.

Karena itu, banyak hal bisa ditafsirkan dari penempatan Po dalam pertunjukan ini. Dalam serial Teletubbies, Po adalah yang termuda dibanding tiga lainnya: Tinky Winky, Dipsy, dan Laa-Laa. Mereka berempat merupakan tokoh fiksi buatan Anne Wood dan Andrew Davenport yang digambarkan sebagai alien berusia balita dengan warna dan ciri khasnya masing-masing.

Tinky Winky adalah yang tertua, berwarna ungu dengan antena segitiga di kepala. Ia kerap membawa tas berwarna merah, dan sempat memancing kontroversi karena dianggap sebagai representasi kaum gay. Sementara itu Dipsy berwarna hijau dengan antena lurus dan wajah kegelapan sebagai representasi ras kulit hitam. Laa-Laa berwarna kuning, berantena keriting, serta gemar bernyanyi dan bernari sepanjang hari. Lalu Po, berwarna merah serta berantena seperti tongkat gelembung sabun. Wood dan Davenport mengakui, Po adalah representasi orang Kanton dari suku Han, suku terbesar di Cina yang juga banyak tersebar di berbagai penjuru dunia.

Lantas kenapa Po harus berambut mohawk?

Gaya mohawk sempat mencuat sebagai simbol pemberontakan di kalangan punk-rock pada 1980an. Ia menunjukkan kemarahan, perlawanan terhadap tuntutan tatanan sosial. Di sisi lain, banyak orang meletakkan stereotip pada kalangan berambut mohawk sebagai orang-orang kasar yang tak kenal tata krama.

Dari sana kita bisa menempatkan Po di YFaWKA sebagai representasi masyarakat keturunan Cina di Indonesia. Dalam buku Identitas Tionghoa Pasca-Soeharto: Budaya, Politik dan Media (2012) karya Chang-Yau Hoon, dijelaskan bahwa orang-orang Cina setidaknya telah ada di Indonesia sejak abad ke-17. Mereka pun sudah bisa berbaur dengan masyarakat setempat sebelum tiba era kolonial Belanda. Setelahnya, kebijakan apartheid Belanda-lah yang secara artifisial menciptakan “minoritas Cina” saat itu. Sejak itu, kerap muncul ketegangan antara etnis Cina dan pribumi. Etnis Cina pun sering dijadikan kambing hitam, khususnya bila tengah terjadi krisis nasional.

Karena itu, orang Cina di Indonesia kerap dianggap sebagai orang asing, komunis pemberontak yang kerap mencari masalah. Ini persis seperti gambaran Po dalam YFaWKA dengan gaya rambut mohawk-nya.

Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi.
Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi. Noufri Affandy Bachdim.

Ketika Po sedang asyik bergerak dengan bebasnya, ada orang-orang lain yang tak peduli, dan hanya berusaha mencari sepotong ayam untuk mengisi perutnya sendiri. Wanita Barat itu berjoget riang. Lalu darah turun di kiri-kanan. Entah dari mana asalnya. Orang-orang mulai tumbang, dan lantai sejarah kita pun penuh dengan darah. Mengikuti instruksi seseorang di pinggir panggung, semua bahu-membahu menutupi lantai yang lalu dengan kain putih baru. Narasi anyar akan segera dimulai di atasnya.

Post Factum

…seorang guru mengajarkan para murid-muridnya untuk minta kembang gula kepada Tuhan. Mengikuti apa yang diucapkan gurunya, anak-anak itu mengucapkan bersama-sama sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka, “Ya Tuhan, berilah kami bonbon.” Kemudian guru bertanya, “Sekarang buka matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?” Anak-anak itu menjawab, “Tidak, Bu.” Ibu Guru menyahut. “Tentu saja tidak. Itu berarti Tuhan itu tidak ada.” Kemudian katanya lagi kepada anak-anak, “Sekarang, mintalah kepada gurumu!” Sambil menutup mata dan menadahkan tangan mereka, anak-anak itu berkata, “Ya, Guru, berilah kami kembang gula.” Ketika anak-anak itu “berdoa”, Ibu Guru menaruh kembang gula di telapak tangan anak-anak, dan kemudian berkata, “Baiklah anak-anak. Sekarang bukalah matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?” Mereka semua serempak menyahut, “Ya, Bu.” Ibu Guru menyahut, “Tentu saja! Mengapa? Karena gurumu memang benar-benar ada, di sini, di depan kamu semua. Tapi Tuhan? Tidak! Jadi, kamu semua tidak perlu percaya pada apa yang tidak ada.

Itulah salah satu dari beberapa kisah yang kerap didengar Budiawan di sekolah dari para gurunya, sejak ia menginjak bangku SD pada 1970an hingga SMA bertahun-tahun kemudian. Seluruh kisah itu ia tuang dalam buku Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto (2004). Biasanya, guru agama dan guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang jadi medium penanaman kisah-kisah itu. Tak hanya itu, para guru juga kerap melakukannya saat upacara bendera, hari besar agama ataupun hari raya nasional; khususnya hari peringatan “kesaktian” Pancasila setiap 1 Oktober.

Kisah-kisah semacam itu datang bukan dari pengalaman historis, melainkan penanaman secara politik dan sosial. Kita diajak untuk membayangkan diri sebagai anggota komunitas besar yang disebut “bangsa” dan diminta untuk mengenali siapa saja “musuh” dari “bangsa”. PKI dianggap berusaha mencabut (khususnya) sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga bertentangan dengan watak bangsa Indonesia. Alhasil, cerita yang beredar mengatakan, kegagalan PKI terjadi karena mereka tidak mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Lebih lanjut, kisah-kisah tersebut hadir sesaat setelah kejatuhan Soekarno dan dimulainya kampanye besar-besaran pemerintah Orde Baru untuk mengebiri komunisme di Indonesia. Dengan kata lain, kisah-kisah itu adalah “fakta sosial” yang datang “sesudah fakta”, atau kerap disebut sebagai post factum.

Dalam pentas YFaWKA, kita juga menemukan hal serupa. Diceritakan, pada saat Lebaran 2002, seorang ibu sedang mengungkapkan keresahan hatinya akan kondisi keluarga. Ia memiliki tiga anak, masing-masing bernama Rosyid, Rosnah, dan Husein. Sehari-hari Rosyid gemar menonton dua film: Pengkhianatan G30S/PKI dan bokep. Sementara itu Rosnah baru saja pulang sehabis bekerja jadi TKI di Hongkong. Ia bercita-cita melakukan operasi payudara dan jadi bintang sinetron di Jakarta. Lain lagi dengan Husein yang dianggap tidak waras oleh warga sekitar karena gemar membawa pengeras suara dan melantunkan azan di mana-mana.

Haji Ahmad-lah yang memberi nama pada Husein. Ia pengikut berat Gus Dur dan sering berujar, orang-orang Islam ikut membunuh komunis. Karena itu Rosyid yang benci komunis pun ikut-ikutan membenci Haji Ahmad.

Menurut ibu, Lebaran kali ini sama sekali tidak membawa keceriaan bagi keluarga. Sang bapak sehari-hari cuma sibuk menembaki burung. Padahal, Rosnah baru saja dihamili orang Cikampek dan Rosyid begitu menggebu ingin menjual sawah agar bisa pergi ke Afghanistan.

Saat ibu asyik bercerita, yang lainnya hanya duduk terdiam di belakang meja. Barulah kala ibu membawakan sepotong paha ayam raksasa, semua berubah liar; layaknya anjing-anjing kelaparan menemukan makanan. Tak lama, mereka tertawa malu-malu, seakan baru sadar khalayak ramai sedang menyaksikan keberingasan mereka. Kemudian, mereka terdiam sesaat kala sutradara masuk menumpahkan darah ke paha ayam. Sembari dibantu dua orang lain, ia menggunting dan mengangkat kain putih penutup darah di lantai. Lalu keberingasan pun kembali dimulai. Dan sebuah patung besar, layaknya monumen di tengah perkotaan, didorong masuk ke dalam panggung; tertutup terpal biru yang diikat kencang dengan tali.

Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi.
Pentas Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi oleh Teater Garasi. Noufri Affandy Bachdim.

Segalanya bisa ditafsirkan berbeda oleh penonton berbeda. Namun yang pasti, YFaWKA menyoal banalitas dalam keseharian kita. Soal apa yang tumbuh secara laten setelah pemerintah Orde Baru memaksakan satu narasi searah selama 32 tahun lamanya dalam tatanan sosial masyarakat. Soal apa yang “meledak” dan menggerakkan kita dalam situasi terkini.

Kita diminta percaya pada Tuhan dengan menghalalkan pembunuhan. Ada kebanggaan yang ditutupi usai melakukannya; seperti monumen itu yang tetap mencolok kehadirannya di mata kita. Dari sana, muncullah kaum fundamentalis seperti Rosyid yang akhirnya meniti karier sebagai teroris di Afghanistan. “Rosyid akan berusaha memastikan tempat untuk keluarga kita di surga,” katanya melalui surel yang dibacakan oleh polisi pada sang ibu.

Di sisi lain, yang naif dan bermimpi seperti Rosnah hanya akan berakhir tak berdaya saat menemui realita. Ia pergi ke Jakarta dan sukses ditipu habis-habisan. Sementara itu, Husein yang rajin melantunkan azan; pengingat akan salat, justru dianggap gila dan kerap jadi sasaran amuk massa. Ia jadi kambing hitam atas pembunuhan delapan kucing yang dilakukan sang bapak. Bangkainya disebar di mana-mana, membawa teror bagi warga. Namun kala bapak melapor pada atasan, tak ada satu pun yang menggubrisnya.

“Dunia di luar ini tidak lagi menjanjikan apa-apa, termasuk surgamu.”

Di akhir pertunjukan, Husein melayang di langit bersama pengeras suara di mulut, sementara Rosyid hanya bisa membanting-banting kursi dan tenggelam dalam kalut. Mungkin karena selama ini ia begitu asyik memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai kini ia lupa untuk apa.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top