Surat ke Langit: Yang Bahagia di Persimpangan Akhirat

Pentas Surat ke Langit oleh Papermoon Puppet Theatre.
Pentas Surat ke Langit oleh Papermoon Puppet Theatre. Andrey Gromico.

Rasanya semua berjalan biasa, selayaknya kondisi kantor pos pada umumnya. Tiga pria berkutat di meja dengan urusan masing-masing. Yang di tengah asyik memberi cap pada tumpukan surat di depannya. Tiba-tiba ia terdiam ketika menemukan sebuah surat dengan alamat tujuan “Puno di langit”.

Itulah adegan pembuka pentas Surat ke Langit yang dibawakan Papermoon Puppet Theatre di Teater Salihara, Jakarta. Pentas berlangsung tiga kali. Sekali pada 27 September dan dua kali pada 28 September 2014. Menarik melihat pentas boneka yang dipadukan dengan unsur multimedia serta detail etnik kaya warna.

Iwan Effendi dan Maria Tri Sulistyani menggagas kelompok teater boneka itu pada 2006 di Yogyakarta. Karya-karya mereka telah dimainkan di berbagai negara, di antaranya Amerika Serikat, Belanda, Jepang, Australia, dan India.

Walau lahir dan besar di Yogyakarta, Papermoon Puppet Theatre tidak lantas menggunakan media wayang kulit klasik khas Jawa sebagai elemen utama pementasan. Ia juga tidak serta merta mengekor bentuk pementasan teater boneka tersohor di luar negeri seperti The Muppet Show atau Sesame Street.

Mereka berusaha menciptakan sendiri ciri khasnya dengan pementasan nirdialog. Sepanjang satu jam 20 menit, penonton hanya mendengar gumam, tawa, atau teriakan dari mulut para dalang. Namun, bukan berarti karakter-karakter yang dibawakan tak bernyawa. Gestur, mimik, dan akting mereka di panggung kerap memberi warna.

Kali ini, ada tiga tokoh utama dalam cerita: Puno, Hef dan Tala. Masing-masing dimainkan oleh dalang berbeda. Menariknya, para dalang juga kerap bergantian jadi figuran tak bernama.

Setelah melihat surat untuk Puno di langit, terjadi kilas balik adegan. Sosok Puno mulai diperkenalkan. Ia pria yang riang dan kerap meramaikan suasana di kantor dengan segala keisengannya. Biasanya Hef yang menjadi korban ulah jahil Puno.

Suatu hari Puno jatuh sakit. Tiba-tiba ia pingsan setelah batuk keras dan menumpahkan minuman di gelas. Setelah dibawa ke rumah sakit baru diketahui ada virus yang menggerogoti tubuhnya. Para dokter telah berusaha sekuat tenaga, tapi usia Puno dirasa tak lagi lama.

Kala adegan Puno dioperasi, terlihat gambar bagian dalam tubuh Puno hasil sorotan proyektor sebagai latar. Penyakit yang akan dibuang, entah mengapa terus kembali datang.

Puno dioperasi karena virus yang menggerogoti tubuhnya.
Puno dioperasi karena virus yang menggerogoti tubuhnya. Viriya Singgih.

Puno sedih bukan kepalang. Ia menjadi murung, membuat bingung rekan-rekan di kantor. Untung saja ada Tala, gadis cilik murah senyum yang kerap menghibur Puno dengan segala keluguannya.

Kedekatan dengan Tala membuat Puno bisa sejenak mengalihkan pikiran dari penyakitnya. Namun, muncul dilema baru. Puno bingung memberikan penjelasan kepada Tala soal kepergiannya bila saatnya tiba.

Di akhir cerita, Puno menitipkan sebuah surat melalui Hef untuk diberikan kepada Tala. Surat itu dilipat sehingga berbentuk seperti perahu. Setelah itu barulah Puno berpulang dengan damai. Adegan ini berlangsung magis. Tiga dalang sekaligus mengangkat tubuh Puno secara halus sehingga seperti melayang di udara. Ketiga dalang memegang topeng yang seakan jadi malaikat pengiring kepergian Puno. Musik etnik kental mengiringi.

Kemudian jasad Puno dikremasi dan abunya diletakkan dalam perahu kertas berukuran besar. Di sana Tala meletakkan bunga dan membalas surat Puno. Ia menangis, ikhlas memeluk duka yang melabrak tiba-tiba.

Surat-surat berbentuk perahu kertas pun berjatuhan dari langit. Puno seakan menjawab seluruh lara Tala dengan cara-cara tak terduga.

Surat-surat berbentuk perahu kertas datang setelah kematian Puno.
Surat-surat berbentuk perahu kertas datang setelah kematian Puno. Viriya Singgih.

“Pentas ini kami dedikasikan untuk Don Maralit Salubayba, rekan seniman asal Filipina. Seharusnya kami berencana menjalankan beberapa proyek bersama, tapi sayang ia meninggal mendadak pada Maret lalu,” kata Maria yang kali ini jadi penulis naskah, sutradara sekaligus pemain dalam pentas Surat ke Langit.

“Beberapa waktu lalu kami juga meminta kawan-kawan untuk menuliskan surat pada mereka yang telah pergi. Jadi, semua surat yang tergantung di atas panggung ini semuanya kisah nyata.”

Pentas Surat ke Langit terasa begitu dekat dan personal. Kita bisa belajar tentang penerimaan dengan melihat kematian dari sisi berbeda. Lubang besar di dada akhirnya jadi ruang pembelajaran dan pemenuhan diri. Di sini, kematian jadi jalan ikhlas untuk menemukan pulang.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 6 Oktober 2014.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top