Surga Mini Danau Sentani

Danau Sentani di Jayapura, Papua.
Danau Sentani di Jayapura, Papua. Edwin Yepese/Flickr.

Danau Sentani punya candu tersendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Di sana, dapat terlihat bukit-bukit hijau bergelombang. Pegunungan Cyclops menjulang gagah. Bayangan besar awan putih terpantul di permukaan air jernih yang jadi tempat anak-anak berenang dengan riang.

Terletak di Jayapura, Papua, danau seluas 9.630 hektare ini menghimpun 22 pulau kecil yang tersebar di seantero danau. Di berbagai penjuru terdapat 24 kampung adat dengan keunikan budaya masing-masing.

Untuk mencapai Danau Sentani bisa dicapai melalui Bandara Sentani, Jayapura. Dari bandara ini dilanjutkan dengan perjalanan mobil sekitar 10 menit.

Banyak aktivitas menarik bisa dilakukan di danau ini. Berenang dan berkecipak air dari atas perahu atau sekadar menikmati keindahan alam. Kita juga bisa mengelilingi danau dengan perahu sewaan. Para pemandu siap menemani tamasya sembari bercerita banyak sejarah dan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan legenda, peradaban di sekitar Danau Sentani dimulai dari perjalanan seseorang dari Papua Nugini yang menunggang naga. Nahas, mereka terdampar di sana. Naga mati, penunggangnya selamat dan kemudian membangun sebuah peradaban. Masyarakat percaya kepala naga ada di sebelah timur danau dan buntutnya ada di bagian barat.

Namun, naga yang dimaksud berbeda dari gambaran naga masyarakat Cina. Di sini, naga merujuk pada ikan hiu dan barakuda di Danau Sentani. Memang, biasanya keduanya hidup di laut. Meski demikian, mulanya mereka dipercaya datang dari hilir, lalu beradaptasi secara perlahan untuk hidup di air payau dan air tawar.

Danau Sentani di Jayapura, Papua.
Danau Sentani di Jayapura, Papua. Nicko Vandha/Flickr.

Hiu di danau ini sifatnya endemik. Hiu ini memiliki moncong mirip gergaji sehingga disebut hiu gergaji atau hiu Sentani. Sejak awal 1970-an hiu gergaji diburu hingga kian menyusut dari waktu ke waktu. Kini ia masuk kategori hewan dilindungi karena terancam punah.

Berkeliling danau kita juga bisa menyambangi beberapa kampung adat. Di antaranya Desa Asei yang terkenal lukisan kulit kayunya. Lukisan itu dibuat dengan cara tradisional. Mulanya batang kayu ditumbuk perlahan hingga kulitnya tipis dan melebar. Kemudian warga menggambar di atasnya menggunakan pewarna alami. Arang untuk warna hitam, tanah merah untuk warna merah, dan kapur untuk warna putih.

Uniknya, para perempuan di sini terbiasa menggunakan perahu lebih besar dibanding laki-laki. Menurut cerita yang beredar, ini adalah tradisi warisan. Di masa perang dahulu, laki-laki maju membawa perahu kecil agar dapat bergerak cepat dan gesit. Sedangkan perempuan menggunakan perahu besar untuk keperluan sehari-hari. Misalnya untuk menyimpan hasil berburu, memancing ikan, atau menampung air jernih yang diambil dari tengah danau.

Setelah puas menghabiskan waktu di danau, kita bisa berburu kuliner khas Papua. Berbagai restoran tersebar di sekitar danau, menyajikan beragam menu udang dan ikan air tawar. Ada pula papeda, bubur sagu yang memiliki tekstur seperti lem. Biasanya disajikan dengan masakan ikan gabus berkuah kuning sebagai penambah rasa.

Sagu memang makanan pokok penduduk Papua. Kita bisa melihat pembuatan pepeda di Desa Abar. Warga desa ini biasanya mengambil beberapa bagian tertentu dari pohon sagu. Kemudian menumbuk dan memberinya air hingga keluar hasil saringan.

Papeda dengan kuah kuning dan ikan tude bakar.
Papeda dengan kuah kuning dan ikan tude bakar. Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons.

Bila sempat, Desa Yobeh juga bisa jadi pilihan singgah. Banyak cerita magis dan benda keramat di kampung ini. Misalnya tifa, gendang khas Papua. Menurut cerita, ada tifa berusia 200 tahun yang dibuat dari kulit manusia dan dapat berbunyi sendiri. Konon, tifa berbunyi sebagai pertanda ada warga yang akan meninggal.

Setiap tahun pemerintah rutin mengadakan Festival Danau Sentani. Biasanya acara berlangsung pada Juni. Festival ini menggelar beragam atraksi seni tradisional seperti tarian Isosolo. “Isosolo” berarti kelompok orang yang menari dengan sukacita untuk mengungkapkan perasaan.

Warga menarikan Isosolo di atas perahu sembari mengelilingi Danau Sentani dari kampung ke kampung. Para penari mengenakan pakaian adat yonggoli (rok atau rumbai-rumbai), cawat, manik-manik, jubi (alat berburu), dan tifa.

Kehidupan di Danau Sentani mengajarkan berbaur sepenuhnya dengan alam. Di sini kita bisa sejenak lepas dari penat dan rutinitas aktivitas. Mengunjungi Sentani rasanya tak cukup sekali.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama dimuat di majalah GeoTimes edisi 27 Oktober 2014.
2. Atribusi foto 1: “Sentani Lake,Jayapura” by Edwin Yepese is licensed under CC BY-SA 2.0.
3. Atribusi foto 2: “Danau Sentani, Jayapura” by Nicko Vandha.
4. Atribusi foto 3: “Papeda, Kuah Kuning, Ikan Tude Bakar 2” by Gunawan Kartapranata is licensed under CC BY-SA 3.0.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top