Tangan Andal Putra

Putra sedang membuat sosis original Germany.
Putra sedang membuat sosis original Germany. Viriya Singgih.

Dulu saat masih kerja di GeoTimes, Menteng, saya dan kawan-kawan punya beberapa pilihan tempat makan siang. Langganan utama kami adalah Teras, sebutan untuk warung nasi yang hanya berjarak tak sampai 200 meter dari kantor. Di sana, makan Rp 10 ribu bisa kenyang, tempatnya rindang, dan cukup luas untuk disinggahi ramai-ramai selama berjam-jam. Bila sedang bosan dan ingin yang sedikit lebih mahal, bisa pula menjajal beragam warung makan di depan Masjid Sunda Kelapa atau sedikit lebih jauh, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini.

Namun, semua itu akan kami abaikan bila Putra Siregar sedang niat masak di kantor. Biasanya idenya datang tiba-tiba. Tanpa aba-aba, ia bisa menawarkan, “Wir, makan spageti aglio e olio yuk.”

“Apaan tuh?”

“Pokoknya enak deh.”

“Oke.”

Alhasil, anak-anak tinggal patungan masing-masing Rp 15 ribu, dan jadilah siang itu kami menyantap spageti seafood aglio e olio lengkap dengan dua udang besar yang begitu menggugah selera. Gaya betul, pikir saya, wartawan makan siang semewah ini sembari menulis di tengah impitan tenggat.

Tak hanya itu, sorenya Putra juga kerap menawarkan untuk membuat beragam camilan. Dengan Rp 10 ribu, kami bisa mendapat sandwich tebal berisikan telur ceplok dan beberapa jenis sayuran. Bersama Putra, gizi wartawan Indonesia bisa terus terjaga.

Reputasi Putra di dapur GeoTimes memang tak diragukan lagi. Dahulu saat sang bos besar, Mas Farid Gaban, berulang tahun, ia sendirian memasak makanan untuk jatah 33 orang dengan budget di bawah Rp 1 juta. Semua lengkap, dari lauk, sup, kue, hingga minuman soda.

Putra masak untuk buka bersama di kantor GeoTimes.
Putra masak untuk buka bersama di kantor GeoTimes. Arwani.

Maka kala Putra mengumumkan ia bakal membuka warung makan sendiri, saya mendukungnya sepenuh hati. Selama ini, jalan hidupnya memang kerap tak terduga. Dahulu ia sempat jadi sous chef di Malaysia. Di sanalah ia belajar memasak ragam makanan ala Barat. Sepulangnya ke Indonesia, ia justru “turun kasta” jadi staf umum GeoTimes dan bahkan banting setir jadi videografer untuk Imaji TV sejak awal 2015. Namun, dapur memanggilnya kembali.

Kamis malam lalu, saya meluangkan waktu singgah ke warung makannya, Imaji Cafe, di Jalan Caman Raya, Jatibening, Bekasi. Patokannya, ia ada di seberang Richeese Factory. Tempatnya sederhana, mungkin hanya seluas 1,5 x 1,5 meter. Ia pun diapit kedai mie aceh dan pecel ayam di kanan, serta warung martabak dan sate padang di kiri. Namun Putra tetap merasa yakin dengan jualannya. Motonya: rasa bintang lima, harga kaki lima.

Sesuai dengan keahliannya, Putra khusus menjajakan makanan ala Barat di Imaji Cafe. Ada pasta, burger, sosis dan berbagai jus dalam daftar menunya. Saya sengaja tidak makan siang karena ingin makan besar di sini. Belum lagi jarak tempuh hampir 30 kilometer dari rumah saya, Kebayoran Lama, ke Jatibening, membuat perut kian keroncongan, tak sabar untuk segera diisi.

“Gue mau spageti seafood aglio e olio, Put!”

“Waduh, gue belum belanja seafood-nya, Bro.”

“Hmm, yaudah. Sosis original Germany deh, sama special burger. Ada?”

“Ada.”

Putra segera bekerja. Sembari membuat daging olahan, ia banyak bercerita. “Tadi pagi ada yang datang pesan spageti carbonara, Bro. Dia lihat harganya cuma Rp 15 ribu, terus dia tanya, ‘Ini ada untungnya, Mas?’ Gue jawab aja, ‘Mudah-mudahan.'”

Kami sontak tertawa. Putra memang bermaksud jor-joran kali ini. Dengan keahliannya memasak dan mengatur keuangan, ia bisa menjual menu-menu andalannya dengan harga miring. Burger telur biasa dihargai Rp 6 ribu. Sementara special burger yang disajikan dengan roti gandum, telur ceplok, sayuran, serta daging olahan dengan keju lumer di atasnya, dibanderol Rp 20 ribu.

Special burger ala Putra.
Special burger ala Putra. Viriya Singgih.

Kendalanya hanya satu, Putra terlihat belum terbiasa dengan rumah barunya itu. Karena ruang yang terbatas, ia sulit memasak lebih dari dua menu dalam satu waktu. Ia bahkan sempat kebingungan mencari tempat untuk meletakkan kuali berisi minyak panas. “Masih butuh satu meja lagi, Bro. Ini sekarang sempit banget, mau naruh barang juga ribet.”

Ah, tapi saya kenal Putra cukup lama. Saya tahu, pada akhirnya pasti ada jalan. Untuk sementara saya cuma bisa berkata, selamat bekerja, Chef!

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top