Tentang Pulang

Senja di Pantai Batu Belig, Bali.
Pulang. Viriya Singgih.

Pulang tak melulu soal ruang. Kita tak hanya pulang ke tempat kita menumpang lelap. Kita kadang pulang ke satu masa, saat semua masih sederhana dan penuh cita-cita. Kita kadang pulang ke dia, atau mereka, yang memungkinkan kita berhenti sejenak dan membiarkan kita jadi kita seutuhnya.

Dalam konteks ruang, kini saya pulang ke rumah orangtua di Jakarta Selatan. Namun di sana, saya kerap kesulitan jadi saya. Saya merasa saya adalah liyan dalam keluarga.

Saya wartawan yang senang berteater, satu-satunya di keluarga besar Cina yang mayoritasnya berdagang atau bekerja kantoran. Cuma saya yang merokok di rumah. Saya pun tak pernah bersusah-payah mencari pasangan yang satu agama atau ras seperti saudara-saudara lainnya. Sedapatnya saja.

Saya jarang terbuka pada keluarga dan telah mengamini posisi saya di pinggiran. Terkadang saya mendukung mereka yang giat menjaga simpul keluarga di tengah, tapi lebih sering tak peduli. Saya beroperasi dengan cara sendiri.

Mungkin ini yang membuat saya sering mencari tempat pulang di luar rumah, terutama sejak lulus SMA. Saya ngekos saat kuliah di Universitas Multimedia Nusantara di Tangerang. Saya rutin tidur di kantor di Jakarta Pusat saat pertama jadi wartawan penuh waktu di GeoTimes. Saya ngekos lagi dan sempat menyewa apartemen, juga di Jakarta Pusat, selama bekerja di The Jakarta Post dan Bloomberg News. Pada 2021, saya pun sempat tinggal di Yogyakarta dan Bali, masing-masing cuma tiga minggu tapi berhasil bikin kepala saya lebih segar.

Saya senang bisa memiliki dan mengatur ruang sendiri; tempat saya membuka laptop, merokok, berbaring-baring, berbagi cerita dengan kawan atau pasangan, dan menjadi diri sendiri. Saya merasa punya otoritas penuh atas ruang pribadi, sesuatu yang tak selalu saya dapatkan di rumah orangtua.

Saat kuliah di Tangerang, saya sempat tinggal di empat tempat kos berbeda. Saya pulang ke sana untuk beristirahat dan bergumul dengan diri sendiri. Namun di luar itu, saya juga menemukan orang-orang yang jadi tujuan saya pulang. Dengan mereka, saya bisa berbagi tawa, berkeluh kesah, dan menyusun memori bersama. Ada lapisan diri yang terbuka hanya saat saya bersama mereka.

Tak mudah bagi saya membuka diri sepenuhnya. Saya kuliah jurnalistik dan karenanya terlatih untuk berbasa-basi, mencairkan suasana, atau menggali informasi. Namun, ada banyak hal yang saya simpan rapat-rapat, yang saya kira lebih baik hanya ada di kepala. Karena itu, saya sangat menghargai mereka yang bikin saya lancar meracau tanpa mesti menahan diri, yang membuat saya bisa pulang dan menjaga kewarasan di tengah pandemi.

Pandemi sukses mengubrak-abrik hidup saya pada 2020. Saya putus dengan pacar. Keuangan saya berantakan. Saya tak tahu ke mana harus melaju. Namun, saat bertemu dengan kawan-kawan dekat dari masa perkuliahan, tiba-tiba semua terasa lebih ringan. Kami menceritakan ulang kebodohan masa lalu, mentertawakan nasib apes masing-masing selama pagebluk, saling berbagi cara bertahan hidup, atau sekadar merepet sambil mabuk.

Saat kepala sedang penuh dan berisik, saya juga sering memelipir ke Tangerang sendirian, entah untuk menulis di kedai kopi atau sekadar mengisi perut di restoran langganan. Saya senang menghabiskan waktu di sana. Ruang-ruangnya terasa akrab, sesak dengan kenangan hangat soal satu masa yang sangat sederhana.

Selain lingkaran Tangerang, saya pun selalu kembali ke lingkaran Palmerah (Jakarta Barat), alias gerombolan alumni The Jakarta Post. Setiap kali bertemu, kami selalu saja berbagi rasa cinta dan benci akan koran bahasa Inggris ini. Kami bakal mengingat masa pendidikan dasar sebagai calon reporter, menggunjingkan bos-bos yang menyebalkan, dan tanpa lelah membicarakan “kenapa” dan “seandainya”. Ada sesuatu yang bikin kami mudah “klik” tiap kali bersemuka.

Saya ingat pernah menelepon mantan bos di The Jakarta Post yang kini kembali sekantor dengan saya di Project Multatuli. Saya hanya bermaksud menanyakan urusan sepele yang sekarang bahkan saya sudah lupa apa. Ujung-ujungnya kami malah bergosip hingga tiga jam.

Saat saya menghadapi dilema karier pada 2019, yang pertama saya lakukan adalah menghubungi seorang kawan dekat dari lingkaran Palmerah dan mengajaknya bertemu di sebuah kedai kopi. Dengan cepat ia mengiyakan, dan jadilah kami berdiskusi panjang dari sore hingga malam.

Ada pula alumnus The Jakarta Post yang selalu bikin saya kagum. Saat saya masih berkantor di sana dulu, kami tak pernah mengobrol atau bertemu. Belakangan baru kami beririsan jalan, dan tiba-tiba kami bertukar cerita dari tengah malam hingga jam 4 pagi. Tembok saya seketika runtuh saat bersamanya.

Saya bersyukur menemukan orang-orang yang mengizinkan saya jadi saya. Meminjam kata-kata Sapardi Djoko Damono, saya kerap begitu asyik memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai saya lupa untuk apa. Saat itulah dia, atau mereka, akan mengingatkan bahwa yang fana adalah waktu. Kita abadi.

Saya lantas bisa pulang tanpa cemas.

Bagikan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top