Tren Jaga Kebugaran, dari Diet Ketat hingga Terapi Urine

Ilustrasi berolahraga.
Ilustrasi berolahraga. Victor Freitas/Unsplash.

Henri Nugraha sudah terbiasa menerima berbagai ledekan dari teman-teman karena berat badannya yang dianggap berlebihan. Angka 85 kg di timbangannya kerap membawa rasa tidak nyaman ketika sedang berkumpul dalam pergaulan.

Maka, ketika tiba-tiba pesulap Deddy Corbuzier muncul dengan tampilan tubuh berotot di layar kaca usai melaksanakan diet ketat yang ia sebut Obsessive Corbuzier’s Diet (OCD), tanpa ragu Henri tergerak mencoba sendiri.

Pada 3 Oktober 2013, pria berusia 24 tahun ini mulai menerapkan OCD. Setiap bangun tidur di pagi hari, ia menahan rasa lapar selama 3 jam sebelum masuk ke fase ‘bebas makan’ selama 4 jam di siang hari. Hanya dalam rentang waktu 4 x 60 menit itulah Henri bebas menyantap makanan apa pun dalam keseharian. Selebihnya, teh atau air putih yang jadi pilihan.

“Minggu pertama itu 4 jam cuma makan apel saja sama roti dan akhirnya berat turun 4 kg. Setelah itu, minggu kedua baru saya berani makan nasi. Lewat sebulan jadinya berat saya turun 7 kg, dan berlanjut jadi 11 kg usai dua bulan. Akhirnya, dari 85 kg berat badan saya turun hingga 74 kg,” tutur peracik kopi di sebuah kedai ternama di Jakarta tersebut.

Tak hanya itu, di sela-sela diet ketatnya Henri rutin berolahraga di pusat kebugaran sebanyak enam kali dalam seminggu. Lari di treadmill dan sit-up selama satu jam penuh ia lakukan untuk membakar kalori. Alhasil, setelah berhenti melakukan OCD, berat badannya stabil di kisaran 73-75 kg.

“Efeknya ke kehidupan sehari-hari ya saya jadi lebih percaya diri. Kalau dulu sering jadi bahan ledekan, sekarang lebih enak saja, lebih pede. Celana saya juga jadi kebesaran semua, makanya ikat pinggang harus diketatkan banget saat dipakai,” ujar Henri.

Deddy Corbuzier sendiri butuh waktu enam bulan melakukan OCD sembari berolahraga keras hingga mencapai bentuk badan ideal yang diinginkannya. Hampir setiap hari ia habiskan untuk berolahraga di pusat kebugaran. Selama kira-kira satu jam setiap latihan, Deddy tak pernah melakukan kardio. Pria berkepala plontos ini hanya berfokus pada latihan angkat beban dan hasilnya dapat kita lihat dari besaran otot bisep Deddy yang mencapai kira-kira 14-15 inchi saat ini.

Selain itu, Deddy juga dikenal sebagai seorang ahli bela diri wing chun yang telah mendapat sertifikasi dari grandmaster Samuel Kwok. Samuel sendiri berlatih wing chun langsung dari anak kedua Ip Man, guru bela diri Bruce Lee di Cina. Keahliannya dalam wing chun membuat Deddy memiliki badan yang lentur serta otot dan tenaga dalam yang kuat.

Setelah mempraktikkan diet ketat yang dibarengi olahraga rutin selama tujuh bulan, barulah Deddy mengeluarkan buku berjudul OCD sebagai panduan bagi orang-orang yang ingin melakukan hal sama. Karena telah membuktikan sendiri keampuhan OCD, Deddy menolak keras anggapan bahwa dietnya tersebut berbahaya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bodoh saja itu (yang bilang berbahaya). Kalau dokter bilang seperti itu, berarti dokternya bodoh. Terserah kata mereka, bukan urusan saya. Kalau mau jalani ya jalani, kalau tidak ya tidak. Puasa itu kan memang diajarkan di setiap agama. Jadi kalau mereka bilang OCD tidak sehat ya berarti mereka tidak beragama,” tegas Deddy.

Mengomentari hal ini, instruktur kebugaran Ria Damayanti (32) mengatakan bahwa diet bisa dilakukan asal masih sesuai rambu-rambu yang ada. Menurutnya, diet harus dijalankan sebagai gaya hidup, bukan program pembentukan badan. Maka, diet yang baik bisa dilakukan sejauh tidak menimbulkan rasa jenuh, lemas ataupun membuat kita kekurangan gizi.

“OCD bisa dilakukan tergantung kemampuan fisik masing-masing. Tidak bisa dipaksa, ada juga orang yang setelah berolahraga harus makan karena tidak tahan lapar. Minimal 15 menit setelah berolahraga, sebaiknya ada asupan makanan yang diserap tubuh karena proses pembakaran sedang terjadi hingga penyerapan gizinya cepat. Jangan memaksakan di luar kapasitas tubuh,” jelas wanita yang telah mendapatkan sertifikasi instruktur dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) serta Rai Institute ini.

Selain itu, untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal Ria juga menganjurkan agar kita menjaga pola makan dan mengurangi asupan garam, gula, mentega ataupun minyak. Hal ini berbeda dengan OCD yang tidak menerapkan pantangan makan apa pun dalam penerapannya.

Anjuran Ria tersebut selaras dengan apa yang dilakukan Nadine Chandrawinata, yang dikenal sebagai aktris, model, serta Putri Indonesia 2005. Selama ini, Nadine konsisten tidak mengonsumsi nasi dan membatasi asupan makanan berminyak serta yang mengandung banyak gula ataupun garam. Ia juga rutin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya tersebut.

“Saat berada di Jakarta, saya selalu berolahraga di gym setidaknya sekali dalam tiga hari dan muay thai sebanyak tiga hingga empat kali dalam seminggu selama masing-masing satu jam per sesi. Motivasinya sih untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal dan melatih daya tahan tubuh, sekaligus menyalurkan energi karena saya sendiri memang orangnya aktif,” tutur Nadine.

Muay thai sendiri adalah seni bela diri asal Thailand yang sarat dengan penggunaan teknik pukulan, tendangan, siku dan serangan lutut. Ahli bela diri muay thai kerap melatih bagian rawan tubuhnya, seperti tulang kering, untuk menangkis maupun menyerang. Tak jarang Nadine mengalami memar atau terkilir di kakinya, tapi hal tersebut tidak mengurungkan niatnya untuk terus menggeluti muay thai.

Nadine mengatakan, kegemarannya melakukan olahraga dan menjaga pola makan bukanlah hal baru. Itu telah menjadi rutinitasnya sejak lama. Ia menekankan bahwa untuk mendapatkan hasil memuaskan, harus ada pengorbanan. Maka, ia pun senang bila kerja kerasnya bisa menginspirasi orang banyak.

Lain lagi halnya dengan artis sinetron Vicky Burki yang kini telah berusia 48 tahun. Ia membuktikan masih mampu memiliki tubuh sehat berotot dengan rutin melakukan olahraga pole dance.

“Setiap hari Vicky mengajar pole dance setiap pagi dan malam selama satu jam per sesi latihan dari Senin sampai Jumat. Selain itu juga siangnya Vicky biasanya latihan sendiri selama kurang lebih satu jam. Namun, kita tetap tidak boleh melebihi batas tubuh kita sendiri, se-enjoy-nya saja,” cerita Vicky.

Vicky mempelajari pole dance selama enam bulan di Canberra, Australia, beberapa tahun silam. Olahraga satu ini memungkinkan Vicky untuk bergelantung di atas tiang dengan kepala di bawah, atau bahkan melakukan split dengan tubuh miring dan hanya tangan tergantung di tiang. Gerakan-gerakan ekstrem tersebut dapat dilakukan bila memiliki core atau otot perut yang kuat. Maka wajar bila kita melihat tubuh kencang Vicky yang berotot dari ujung tangan hingga ujung kaki.

Menurut Vicky, kunci sukses dalam pole dance adalah konsistensi. Bila rutin melakukan latihan minimal dua kali dalam seminggu, maka dalam waktu tiga hingga empat bulan niscaya tubuh yang ideal akan terbentuk dengan sendirinya. Vicky pun lebih memilih berolahraga dibanding melakukan diet ketat.

“Vicky tidak pernah memberikan suggestion pada orang-orang untuk melakukan diet, karena kondisi metabolisme tubuh setiap orang kan berbeda ya. Vicky sendiri (lebih memilih) rutin meminum air kencing Vicky sendiri setiap pagi hari. Sudah 10 tahun Vicky melakukan terapi urine tersebut dan itu sangat bermanfaat karena Vicky jadi jarang sakit dan jarang minum antibiotik – kecuali bila memang tidak ada pilihan lagi,” ujar Vicky yang memiliki studio pole dance di Kemang, Jakarta Selatan.

Setiap orang memang memiliki cara membentuk badan ideal yang berbeda. Kita bisa melakukan diet ketat atau berolahraga dengan rutin. Yang pasti, semua butuh pengorbanan, entah dari sisi materi, tenaga ataupun waktu.

“Vicky paling kesal kalau orang bilang tidak ada waktu buat olahraga. Buat Vicky, tidak ada pilihan dan tidak ada alasan, olahraga itu nomor satu untuk kesehatan,” kata Vicky.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top