Turis Rusia Jadi Harapan Baru Indonesia

Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur.
Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Rafif Prawira/Unsplash.

Pada 23-25 Juli lalu, mendadak nama dua turis Rusia, Nataly Suntsova dan Sergey, ramai beredar di media-media online Tanah Air, dari Kompas.com, Tribun News, Liputan 6, Detik, Kumparan, hingga Dream.

Semua media tersebut memberitakan kisah Nataly dan Sergey dengan plot seragam dan bahkan narasi yang hanya diubah-ubah sedikit. Intinya sama, soal dua sahabat asal Rusia yang begitu jatuh cinta dengan keindahan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka telah berada di sana selama satu minggu dan bahkan belum memutuskan kapan akan pulang karena begitu terpesonanya.

“Di Banyuwangi semua bisa didapat. Mulai dari laut, gunung, perkebunan, dan pemandangan yang indah. Saya suka berada di sini,” kata Nataly, seperti dikutip oleh seluruh media online tersebut.

Selain itu, omongan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga ramai digunakan dalam pemberitaan. Menurutnya, tingkat kunjungan wisatawan di daerahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Imbasnya, pendapatan per kapita warga pun melonjak 99 persen dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016.

Sesungguhnya, Banyuwangi hanyalah salah satu contoh keberhasilan pemerintah dalam menarik minat wisatawan Rusia untuk berbondong-bondong datang ke Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, sepanjang semester 1 2017, ada 58.986 wisatawan asal Rusia yang berkunjung ke Indonesia, tumbuh 58,68 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini jadi yang paling tinggi dibanding kenaikan jumlah turis dari negara-negara lain pada periode yang sama.

Namun, secara jumlah total wisatawan, Rusia masih kalah dari Cina yang menyumbang 996.968 turis ke Indonesia di periode Januari-Juni 2017. Angka wisatawan dari Cina tumbuh 45,53 persen, kedua tertinggi setelah Rusia. Ternyata, kegemaran banyak orang Indonesia berlibur ke Cina tidak bertepuk sebelah tangan. Negeri Tirai Bambu juga mengirim banyak turis ke Nusantara.

Pada enam bulan pertama di 2017, ada total 6,47 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, tumbuh 15,18 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari angka total itu, 43,26 persen masuk ke Tanah Air melalui Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali, sementara 19,3 persen lainnya masuk melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta.

Pemerintah memang banyak menggantungkan harapan pada turis dari Cina. Sepanjang 2017, pemerintah menargetkan bisa menarik 2,4 juta wisatawan dari kawasan Greater China (mencakup Cina, Hong Kong dan Taiwan), naik dari capaian di 2016 yang hanya menyentuh angka 2,1 juta wisatawan.

Walau begitu, pertumbuhan pesat jumlah turis dari Rusia juga mendorong pemerintah untuk melirik negeri Beruang Merah.

Pada 19-21 Mei 2017, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow ikut serta dalam kegiatan Pameran Pariwisata Pasifik Internasional (PITE) di Vladivostok, Rusia, untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali, Ketut Ardana, juga melihat potensi besar dari negara-negara Eropa Timur seperti Rusia untuk mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

“Kami tidak boleh berdiam diri, (promosi) harus terus jalan,” kata Ketut.

Menurutnya, promosi yang dimaksud bisa dilakukan dengan mengirimkan delegasi Indonesia untuk mengikuti pameran-pameran berskala internasional ataupun dengan mengadakan beragam roadshow. Di sisi lain, ia berujar perusahaan-perusahaan swasta juga berperan besar dalam menggenjot promosi.

Selain itu, ia mengharapkan ada penerbangan langsung dari Bali ke Rusia untuk mendorong peningkatan kunjungan turis Rusia.

Sebelumnya, perusahaan penerbangan nasional Garuda Indonesia telah mengumumkan rencana untuk membuka rute penerbangan langsung Jakarta-Moskow pada Agustus 2017 untuk meningkatkan kunjungan turis Rusia ke Indonesia. Walau begitu, rencana itu tampaknya akan tertunda hingga 2018.

Pada Maret 2016, Presiden Joko “Jokowi” Widodo resmi menandatangani Peraturan Presiden No. 21/2016 yang menjadi landasan bagi kebijakan bebas visa kunjungan ke Indonesia terhadap 169 negara, termasuk di antaranya Rusia dan Cina.

Hasilnya, pemerintah berhasil menarik 12 juta wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia sepanjang 2016, naik 15,5 persen dibanding capaian pada tahun sebelumnya.

Sepanjang 2017, jumlah wisatawan mancanegara yang mampir diharapkan naik menjadi 15 juta. Sementara itu pada 2019, atau tahun terakhir pemerintahan Jokowi, angkanya diharapkan telah tumbuh menjadi 20 juta.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top