VU: Mengunyah Remah Keseharian

Pentas VU oleh Cie Sacékripa.
Pentas VU oleh Cie Sacékripa. Sumber: institutfrancais.jp.

Pukul 2 siang. Lampu menyala setengah terang, dan penonton telah memadati ruangan. Sejumlah deret kursi di samping kiri-kanan tampak tertutup kain hitam. Alhasil, belasan orang mesti duduk bersila di bagian depan. Selama menunggu, sebuah lagu klasik terus mengalun lirih mengiringi panggung yang sepi. Hanya ada satu meja kayu kecil di sana. Di atasnya, terlihat sebuah gelas transparan dan semangkuk penuh marshmallow.

Tak lama, muncul suara sang pembuka acara. Cie Sacékripa, teater objek asal Prancis, akan segera mementaskan VU di Teater Salihara, Jakarta, pada 18 Oktober 2015. Sejatinya, kelompok ini beranggotakan lima pemain: Morgan Cosquer, Benjamin De Matteïs, Mickaël Le Guen, Vincent Reversat, dan Etienne Manceau. Namun, hanya Etienne yang akan beraksi kali ini.

Saya sendiri tak punya gambaran jelas akan bagaimana pentas VU berlangsung. Dalam siaran pers, tertulis bahwa masing-masing personel memiliki keahlian tersendiri, entah akrobatik, juggling, aerialis, atau acrobalance. Sementara itu, penjelasan yang ada di buku program acara menggambarkan pentas VU sebagai “pertunjukan semi-sirkus yang sangat unik tentang seorang lelaki yang bete dan mencoba membuat secangkir teh”.

Sirkus? Bete?

Pertunjukan sirkus macam apa yang hanya dilakukan oleh satu orang dan melibatkan teh dalam atraksinya?

Saya masih asyik menerka-nerka ketika pembawa acara mengucap lantang, “Enjoy the performance!”

Hening. Tak ada perubahan berarti. Lampu di kisaran kursi penonton masih terang – tidak gelap pekat selayaknya kondisi pementasan teater pada umumnya. Musik klasik pun tetap mengalun lirih.

Tak lama, muncul seorang pria kaukasia berewok yang mengenakan seragam kantoran. Ia terlihat asyik melamun di pinggir kursi penonton sebelah kanan. Selewat beberapa saat, ia berjalan menuju keset di belakang kanan panggung, membersihkan sepatu di sana, baru kemudian masuk ke panggung. Ada satu keset lagi di ujung berseberangan. Keduanya seakan melambangkan pintu rumah, sehingga kita mesti bersih-bersih alas kaki sebelum masuk.

Pria itu berjalan malas dengan wajah datar. Ia mengambil ketel elektrik dari belakang panggung, lalu mencabut kabel alat pemutar musik. Listrik dialihkan ke pemanas air itu. Musik sontak berhenti, lampu penonton berubah gelap, dan pentas pun dimulai.

Menikmati Kesendirian
Menyaksikan Etienne beraksi bagai bercermin pada keseharian yang jenaka. Ia tidak melompat ke sana kemari dan menunjukkan gerakan heboh layaknya sebuah pertunjukan sirkus. Ia hanya bermain-main dalam rutinitas yang membosankan.

Ia sangat jarang bersuara, serta lebih banyak menonjolkan permainan mimik dan gestur. Dan terutama, ia lihai memainkan tempo; kapan mesti terdiam dan memancing hening pekat, kapan mesti bertingkah hingga membuat penonton tergelak.

Misalnya kala Etienne sedang memasak air. Sembari menunggu air mendidih, ia asyik mengudap marshmallow sembari menatap kosong ke arah penonton. Lalu dengan wajah datar dan sedikit cemas, tiba-tiba ia ambil mangkuk marshmallow tersebut dan disembunyikannya di kolong meja – seakan takut penonton ingin meminta.

Tak lama, ia mengecek air dengan mendekatkan wajah ke ketel. Sontak, kacamatanya pun buram berembun. Masih dengan wajah datar, ia letakkan kacamata itu di atas kepala, dan mulai menuang air panas ke dalam gelas. Setelahnya, ia kembali terdiam. Perlahan, tubuhnya bergetar. Makin lama makin kencang, hingga akhirnya kacamata di atas kepala merosot sendiri ke atas hidung.

Seluruh adegan itu dilakukan dengan sangat komikal. Tak ada yang berlebihan ataupun dipaksakan. Alhasil, penonton terpingkal secara konstan. Melihat Etienne, bagai melihat Mr. Bean versi pemurung, dengan gaya lebih subtil.

Setelah berkali-kali sukses “mencetak gol” sendirian, Etienne perlahan berubah jadi pengumpan. Dalam beberapa kesempatan, ia mengajak penonton masuk ke dalam panggung untuk dikerjai habis-habisan. Entah kala ia meminta bantuan seorang penonton perempuan di barisan depan – hanya dengan lirikan mata dan wajah memohon – untuk mencarikan ujung selotip dan mengambilkan gula batu di lantai, atau kala ia menawarkan marshmallow ke seorang gadis cilik di pinggir kiri panggung.

Alhasil, aktivitas minum teh pun berlangsung panjang dan penuh drama. Ada-ada saja tingkah Etienne yang bikin rumit persoalan. Ia potong gula batu dengan golok, lalu dilontarkannya gula itu dengan sendok dari ujung meja yang satu ke ujung lainnya tempat gelas teh berada – dari tiga kali percobaan, tak ada yang sukses. Susu putih kemasan pun mesti dituang dulu ke dua wadah kertas lonjong, sebelum ia peras bergantian ke dalam ember besi kecil; seperti sedang memerah susu sapi.

Di penghujung lakon, barulah Etienne mencolok kembali kabel alat pemutar musik dan menenggak teh susunya hingga habis. Musik kembali mengalun lirih, lampu menyala setengah terang, dan pentas pun usai.

Pentas dimulai ketika lagu usai, dan selesai kala lagu dimulai. Sebuah paradoks menarik, yang sesungguhnya juga tampak dalam keseluruhan lakon VU. Nyatanya, hiburan segar ala sirkus rumahan bisa muncul bila kita menyisihkan waktu untuk bersenang-senang dalam keseharian yang tampak biasa. Bahkan, dari kegiatan minum teh sekalipun.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top