Xavi Mundur, Duka Lini Tengah Spanyol

Xavi Hernandez.
Xavi Hernandez. Alfonso Jimenez/Flickr.

Final Piala Eropa 2008 antara Spanyol dan Jerman telah berlangsung sekiranya setengah jam. Belum ada gol tercipta. Spanyol hadapi tekanan besar. Sudah 44 tahun mereka paceklik gelar. Karena itu, kemenangan di laga ini bisa jadi penebusan.

Lantas, titik terang bagi Spanyol muncul di menit ke-33.

“Semua dimulai dari tendangan bebas Spanyol di bagian lapangan mereka sendiri. Dan sementara kami sedang bersiap, mereka melakukan tepat seperti apa yang ingin kami cegah sebelumnya. Mereka mengirimkan operan pendek ke tengah lapangan, dan Marcos Senna yang bergerak tanpa pengawalan, mengirimkannya bola pada Xavi,” ujar Philipp Lahm.

Xavi Hernandez bergerak leluasa mencari rekan dan mengumpan adalah hal yang paling dihindari tim mana pun yang berhadapan dengan Spanyol. Itulah yang terjadi. Umpan terobosan segera dilancarkan pada Fernando Torres yang berlari di antara Lahm dan Christoph Metzelder.

“Saya masih bisa mengungguli Torres dan dia tidak lebih cepat dari saya, tapi kemudian saya melihat Jens Lehmann keluar dari gawang dan secara intuitif saya menahan diri selama sesaat,” kata Lahm.

Setelahnya, semua tinggal sejarah. Dalam kondisi 50-50, Torres berlari kencang dengan langkah panjang dan mencungkil bola di saat-saat akhir. Gol tercipta dan jadi satu-satunya dalam laga. Spanyol menang 1-0 atas Jerman di final Piala Eropa 2008.

Empat tahun berselang, kondisinya bahkan lebih mudah. Di Polandia dan Ukraina, Spanyol berhasil kembali melaju ke laga puncak untuk bertemu Italia. Kala itu, statusnya jelas, mana yang superior dan inferior.

Spanyol adalah raja sepak bola dunia yang berhasil menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Karena itu, keberhasilan mencapai babak final justru jadi lumrah.

Sementara itu, Italia adalah tim compang-camping yang sedang berusaha membangun dirinya kembali. Bagi Italia, Piala Dunia 2010 hanyalah ajang liburan bagi para pemain tua sembari sesekali bermain sepak bola. Barulah pada Piala Eropa 2012 muncul lagi gairah dengan Mario Balotelli dan Antonio Cassano di ujung arus penyerangan tim.

Tak ada kejutan berarti. Pada menit ke-14, kombinasi para gelandang maut Spanyol telah sukses melahirkan gol. Umpan-umpan pendek dari Xavi ke Andres Iniesta dan berlanjut ke Cesc Fabregas berakhir dengan gol dari David Silva.

Setelahnya, Spanyol benar-benar dominan sepanjang laga. Pada menit ke-41, rasanya bagai déjà vu. Xavi bergerak bebas di tengah bagian lapangan Italia. Lalu ia melancarkan umpan terobosan untuk Jordi Alba yang berlari di antara Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli. Gianluigi Buffon segera berlari keluar gawang, laju Bonucci melambat dalam sepersekian detik dan Alba sukses mencetak gol perdananya bagi Spanyol. Gol pertama, di final Piala Eropa.

Xavi bahkan kembali jadi arsitek gol Spanyol selanjutnya oleh Torres pada menit ke-84. Padahal, Torres hanya bisa mencetak 12 gol dari 67 pertandingan dalam dua musim pertama berseragam Chelsea. Berkat Xavi, ia berhasil mencetak gol di dua edisi final Piala Eropa secara beruntun.

Pertandingan malam itu pun ditutup oleh gol Juan Mata empat menit berselang. Spanyol jadi tim pertama dalam sejarah yang menjuarai tiga kompetisi besar secara beruntun: dua Piala Eropa dan satu Piala Dunia. Pencapaian yang rasanya sulit untuk terulang oleh tim mana pun dalam waktu dekat.

Karena itulah Xavi sempat memutuskan untuk pensiun dari tim nasional usai kemenangan di Polandia dan Ukraina. “Saya berencana pensiun setelah Piala Eropa 2012, tapi pelatih kepala Vincente del Bosque merayu saya agar bertahan dan ikut pergi ke (Piala Dunia 2014) Brasil, yang mana tentu saja jadi kekecewaan besar bagi setiap orang dan saya sendiri secara individu,” kata Xavi.

Namun, siapa yang rela mengizinkan Xavi mundur begitu saja? ESPN mencatat, setidaknya Xavi telah menghasilkan 123 assist dalam satu dekade terakhir bagi Barcelona dan Spanyol. Ia adalah maestro lapangan tengah sepak bola. Saat dibutuhkan, ia pun kerap mencuri perhatian dengan gol-golnya. Sepanjang kariernya, Xavi telah mencetak 83 gol untuk Barcelona dan 13 gol untuk Spanyol.

Sejak menembus tim utama pada musim 1998/1999 hingga kini, Xavi telah bekerja sama dengan sembilan pelatih berbeda di Barcelona, dari Louis van Gaal hingga Luis Enrique – yang sempat pula bermain bersama Xavi di awal karier sebagai pemain. Sejak pergantian milenium baru, Xavi lekat dengan posisi inti. Pada musim 2004/2005, ia bahkan resmi jadi wakil kapten tim.

Telah bertumpuk gelar yang Xavi raih, entah secara kolektif ataupun individu. Tujuh gelar La Liga, dua Copa del Rey dan tiga trofi Liga Champions rasanya cukup membuktikan kapabilitas Xavi. Ia pun sempat masuk peringkat ketiga pemain terbaik dunia versi FIFA pada rentang waktu 2009-2011.

Xavi memang jenius, karena bisa membangkitkan kejeniusan pemain lain. Jelang semi final Piala Dunia 2010 antara Spanyol dan Jerman, pelatih Joachim Loew sempat mengungkapkan hal senada.

Saat itu pers bertanya pada Loew, siapa pemain yang paling dikhawatirkannya dari kubu Spanyol, apakah Torres atau David Villa? Bukan. Kala itu Loew menunjuk Xavi sebagai pemain yang harus dimatikan pertama kali.

“Xavi adalah pusat dari tulang punggung permainan tim mereka yang sempurna,” kata Loew.

Villa dan Torres memang berbahaya, tapi mereka bisa dihentikan “dengan menekan Xavi sejak menit pertama.”

Ucapan Loew akhirnya terbukti dengan sendirinya. Saat itu Spanyol menang 1-0 melalui gol sundulan Carles Puyol memanfaatkan umpan tendangan sudut dari Xavi.

Akun Twitter resmi Opta Sports, OptaJoe, bahkan sempat merilis data jumlah operan yang Xavi buat bagi Spanyol di ajang yang sama.

“Xavi berhasil membuat 599 operan di Piala Dunia 2010; lebih banyak dari jumlah yang pernah dibuat pemain mana pun dalam satu ajang turnamen sejak 1966. Luar biasa,” cuitnya pada 5 Agustus 2014.

Kehebatan Xavi dalam mengontrol permainan, mengatur tempo, menciptakan ruang ataupun memberikan umpan memang luar biasa. Itu telah jadi rutinitas Xavi, tak terpisahkan dalam bagian permainannya.

“Itulah yang saya lakukan, mencari ruang. Sepanjang hari, saya selalu memperhatikan sekeliling,” kata Xavi suatu hari.

Maka, wajar kala legenda Belanda dan Barcelona, Johan Cruyff, berujar, “Siapa yang mempertanyakan kemampuan Xavi adalah idiot; mereka tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia adalah pemikir terbaik dalam tim.”

Maka, 5 Agustus 2014 adalah waktu berduka bagi tim nasional Spanyol kala Xavi mengucapkan kata perpisahan dari dunia sepak bola internasional. Mereka telah kehilangan salah satu pilar lini tengah terbaiknya dalam lebih dari satu dekade terakhir. Perpisahannya memang berujung bencana di Piala Dunia 2014, tapi itu hanyalah setitik debu dalam mahligai karier Xavi yang bergelimang gelar.

“Realita nyatanya berjalan lebih baik daripada mimpi-mimpi saya selama ini,” kata Xavi.

Kini Torres mungkin sedang panik; siapa yang akan memberinya umpan terobosan di laga-laga penting Spanyol selanjutnya? Masih ada Iniesta atau Fabregas tentunya. Namun, itu pun bila Spanyol masih tertarik memanggil Torres kembali.

***

Catatan
1. Tulisan ini pertama kali dimuat di media online GeoTimes.co.id.
2. Atribusi foto: “Xavi” by Alfonso Jimenez is licensed under CC BY-SA 2.0.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top